Waspada Gaya Hidup Bisa Menjadi Ancaman Keuangan Anda!!

By on 2 Desember 2014 | Artikel ini Sudah di baca 2.516 kali
Waspada Gaya Hidup Bisa Menjadi Ancaman Keuangan Anda!!

Perencanaan Keuangan – Sejak awal tahun, mungkin Anda sudah mulai menata kehidupan keuangan. Membentuk dana liburan atau dana pendidikan bisa jadi salah satu tujuan finansial keluarga. Rencana keuangan sudah disiapkan, rekening investasi pun sudah dibuat, namun, mengapa setelah beberapa bulan, saldonya tidak ada penambahan?

Jika Anda masih mengalami hal tersebut, ada baiknya Anda menyimak tulisan perencana keuangan dari ZAP Finance Prita H. Ghozie, berikut ini!

Beberapa waktu lalu, saya berbicara di seminar keuangan yang diadakan sebuah sekolah di Jakarta. Saat mengadakan survei kecil-kecilan, banyak peserta mengaku punya gaji sepuluh koma. Bukan mereka bergaji Rp 10 jutaan, tapi setelah tanggal 10 setiap bulan, keuangan keluarganya berstatus koma!

Fenomena gaji bulanan habis di tengah jalan memang sering dirasakan banyak masyarakat, terutama yang tinggal di kota-kota besar. Jadi, bagaimana mau mengisi rekening investasi atau tabungan, untuk hidup sehari-hari saja mungkin terpaksa berutang atau hemat-hemat dari tanggal 10 hingga gajian tanggal 25. Apa sebetulnya akar permasalahannya?

Gaji sepuluh koma

Berdasarkan pengalaman saya sebagai perencana keuangan, ada 2 masalah klasik yang menyebabkan gaji seringkali habis di tengah jalan. Pertama, tidak bisa membedakan antara simpanan, tabungan, dan investasi. Kebanyakan karyawan menerima gaji di sebuah rekening ‘tabungan’. Namun, jika setiap bulan Anda rajin mencetak buku rekening, coba periksa, banyak mana jumlah mutasi debit dibandingkan mutasi kredit?

Rata-rata peserta tertawa sambil menjawab mutasi debit. Padahal, tabungan seharusnya banyak mutasi kredit, dan hanya didebit sesekali untuk mendanai tujuan finansial yang telah ditetapkan. Jadi, yang selama ini Anda anggap tabungan, sebetulnya hanyalah simpanan yang memang harus habis setiap bulan. Tak heran, kan, saldo tabungan habis terus?

Kedua, gaya hidup tinggi. Tak bisa dipungkiri, ini adalah penyakit yang hingga kini belum ada obatnya, terutama untuk Anda yang tinggal di kota besar. Susah sekali tidak mengikuti perkembangan gaya hidup alias lifestyle.

Berulang kali saya katakan, gaji TIDAK berhubungan dengan KAYA, tapi dengan LIFESTYLE. Anda harus bisa menentukan berapa banyak dari gaji bulan ini yang mau dipakai untuk senang-senang sekarang dan senang-senang di masa nanti.

Hindari sabotase gaya hidup

Punya gaya hidup tentu hak semua orang, apalagi mereka yang sudah bekerja keras memperoleh penghasilan. Tapi, coba dipikir ulang, dengan menyisihan gaji bulan ini untuk ditabung atau investasi, sebetulnya Anda juga akan menggunakan uangnya di masa mendatang, bukan? Kita harus ingat bahwa dana untuk kegiatan menabung dan berinvestasi ini suatu saat akan digunakan.

Saya baru mencairkan reksadana yang telah dikumpulkan selama 3 tahun. Tahun ini, jatuh tempo pembayaran dana pendidikan untuk playgroup anak kedua saya. Memiliki rencana keuangan itu bukan seperti Paman Gober yang sibuk menimbun koin emas, tapi tidak dinikmati. Kita hanya menunda pembelian dan mengharapkan hasil lebih tinggi, agar dengan uang sedikit bisa mencapai hasil paling maksimal sesuai profil risiko.

Cara termudah menghindari sabotase gaya hidup adalah membuat alokasi pos-pos pengeluaran. Setiap keluarga, pada dasarnya punya kebutuhan berdasarkan ZAPFIN. Kita butuh Zakat, Assurance alias dana darurat & asuransi, Present Consumption dalam bentuk simpanan yang harus habis tiap bulan, Future Spending yang kita kumpulkan dulu selama beberapa bulan baru membeli dalam bentuk tabungan, dan terakhir INvestment untuk kebutuhan jangka panjang.

Gaya hidup Anda sebetulnya terbagi dalam pos Present Consumption, Future Spending, dan INvestment. Setiap bulan Anda pasti butuh makan, tapi makan bakso atau ribs adalah pilihan gaya hidup. Demikian juga berlibur, mau yang dalam kota atau harus ke luar negeri juga pilihan.

Jadi, sebetulnya menabung itu sesuatu yang menyenangkan karena bisa menyokong gaya hidup yang Anda mau beberapa tahun lagi. Alokasinya bagaimana? Terserah Anda karena hidup yang dijalani adalah milik Anda sendiri.

Metode untuk membagi pos-pos keuangan bisa yang tradisional dalam bentuk amplop, atau yang lebih canggih dalam bentuk rekening bank. Setiap orang sebaiknya punya 3 rekening yang masing-masing punya tujuan berbeda. Satu untuk terima gaji, satu untuk investasi, dan satu untuk dana darurat. Buatlah instruksi debit otomatis dari rekening gaji agar setiap bulan ada jumlah tertentu yang langsung ditransfer ke 2 rekening lainnya. Usahakan 2 rekening lainnya tidak punya kartu ATM atau bila ada, simpan dalam amplop dan masukkan lemari!

Disiplin dan komitmen

Memiliki rencana keuangan merupakan langkah awal menuju kesejahteraan finansial. Namun, rencana saja tanpa implementasi hanya menjadi satu hal yang percuma. Komitmen kuat untuk mencapai tujuan finansial yang menjadi prioritas dalam keluarga harus diikuti dengan disiplin keuangan yang baik. Live a beautiful life!

 

 

 

 

 

 

Oleh Prita H. Ghozie, Perencana Keuangan ZAP Finance