Tips Merencanakan Keuangan Bagi yang Memiliki Pendapatan Tidak Tetap

By on 5 Desember 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.436 kali
Tips Merencanakan Keuangan Bagi yang Memiliki Pendapatan Tidak Tetap

Perencanaan Keuangan – Menjadi pekerja profesional atau pengusaha tentu menyenangkan. Sebab Anda bekerja tidak memiliki atasan dan semua kendali benar-benar di tangan Anda sendiri. Seberapa banyak waktu yang Anda alokasikan untuk pekerjaan dan seberapa besar penghasilan yang ingin Anda raih juga di tangan Anda. Kenaikan penghasilan per tahun pun bisa mengalahkan kenaikan karyawan kantoran yang kebanyakan berkisar 10%, bahkan kurang dari itu.

Tetapi di sisi lain, Anda juga dituntut memiliki kemampuan jitu dan cermat dalam mengelola penghasilan yang Anda peroleh, baik di saat penghasilan tinggi maupun saat penghasilan lebih kecil ketimbang biasanya. Para profesional seperti artis, dokter, desainer, pekerja lepas adalah pekerja yang memiliki pendapatan tidak pasti setiap bulan.

Seringkali, gaya hidup dan pergaulan membuat mereka lupa bahwa ada saat-saat tertentu di mana penghasilan menurun. Jika tidak hati-hati, penghasilan sebesar apa pun bisa lenyap tanpa bekas.Jika penghasilan bisa tidak tetap, naik dan turun, lain halnya dengan pengeluaran. Sebagian pengeluaran, seperti listrik, transportasi, makan setiap bulan relatif tetap.

Para perencana keuangan selalu menganjurkan Anda yang memiliki penghasilan tidak tetap untuk menghitung terlebih dahulu penghasilan rata-rata per bulan. “Penghasilan setahun total berapa dibagi 12, nah, itu penghasilan rata-rata dijadikan patokan dalam merencanakan berbagai tujuan keuangan,” ujar Lisa Soemarto, perencana keuangan dari AFC.

Bahkan, menurut Freddy Pieloor, perencana keuangan dari Money and Love Planning and Consulting, para profesional atau pekerja lepas dengan penghasilan tidak tetap per bulan ini harus waspada dalam mengelola uangnya. “Apalagi untuk pengeluaran tak terduga,” imbuh Freddy.

Utamakan yang rutin

Lantas bagaimana Anda harus mengatur seluruh pengeluaran agar tetap bisa dibiayai dengan penghasilan yang tidak tetap tadi? Farah Dini Novita, perencana keuangan senior dari Zelts – Janus Consulting, menambahkan, pencatatan semua pengeluaran ini lebih wajib dilakukan oleh pekerja dengan penghasilan tidak tetap. Sebab, dari angka yang didapatkan, si pekerja tersebut bisa menjadikannya patokan. “Untuk gambaran berapa penghasilan yang harus didapat setiap bulannya,” ujar Dini, sapaan akrabnya.

Lalu bagaimana kalau angka pengeluaran rutin dan pemasukan rata-ratanya tidak klop, seperti kata pepatah, besar pasak daripada tiang? Nah, kalau itu terjadi, Dini menyarankan untuk menekan anggaran pengeluaran yang ada dalam daftar pengeluaran non-rutin. “Utamakan yang rutin dulu,” kata dia.

Freddy juga menyarankan hal serupa. Menurutnya, ada beberapa pengeluaran yang bisa ditunda lebih dulu seperti zakat atau investasi, misalnya. “Tapi kalau utang tidak bisa ditunda. Misalnya punya KPR, kalau tidak dicicil, rumahnya bisa disita,” kata Freddy.

Siapkan dana darurat

Lantaran penghasilan tidak pasti besarannya setiap bulan, mau tidak mau, Anda harus bisa mengantisipasinya. Salah satu cara untuk mengantisipasi masa-masa “paceklik” adalah dengan menyiapkan cadangan dana alias dana darurat.

Dibanding dengan karyawan bergaji tetap, besarnya dana darurat pemilik penghasilan tak tetap jauh lebih besar. “Individu yang memiliki penghasilan tidak tetap harus memiliki dana darurat sebesar minimum 12 kali pengeluaran bulanan,” saran Dini. Sebab, tujuan dana ini menjadi pengaman bila menghadapi bulan-bulan tertentu, ketika yang bersangkutan minim penghasilan atau bahkan tidak mendapat sama sekali, sementara pengeluaran rutin bulanan tetap ada.

Bisa jadi besarnya dana darurat yang harus tersedia membuat Anda ternganga. Sebesar pengeluaran bulanan selama setahun! Padahal, uang masuk tidak bisa dipastikan. Nah, jangan khawatir. “Dana darurat ini tidak harus langsung dimiliki sejumlah itu, tetapi bisa dicicil dengan menabung setiap bulan dan menambah setiap kali ada proyek besar hingga angka tersebut semua terpenuhi,” kata Dini.

Menurut Freddy, dana darurat ini penting sekali karena bisa digunakan pada saat-saat terdesak. “Sehingga jangan sampai harus mengencangkan ikat pinggang,” imbuh Freddy. Hal terpenting adalah komitmen untuk menyisihkan dana bagi keperluan dana darurat. “Jangan sampai saat pemasukan sedikit berutang, tapi saat pemasukan lebih besar dari anggaran pengeluaran malah foya-foya,” ujar Freddy.

Selain itu, sebaiknya Anda juga menyebar instrumen penempatan dana ini. Beberapa instrumen yang bisa dipakai selain tabungan, juga ada deposito dan logam mulia. Menempatkan dana di sana pun jangan sekaligus, melainkan dibagi besaran mulai dari kecil hingga besar. Dengan demikian, saat diperlukan, Anda bisa mengambil dananya dari berbagai instrumen tadi sesuai jumlah yang diperlukan.

Anda pun perlu waspada terhadap penggunaan dana darurat melewati batas. Misalnya saja, Anda terus memakai dana simpanan ini tanpa berusaha mencari dana ganti untuk dimasukkan kembali. “Kalau tidak terus ditambah, apabila Anda tidak mendapat penghasilan dalam jangka waktu lebih dari 1 bulan, Anda akan cenderung berutang kesana-kemari,” kata Dini. Maka, ia menyarankan, setiap kali Anda menerima penghasilan dalam jumlah besar, pos yang harus disisihkan setelah pembayaran utang adalah dana darurat. “Setiap kali Anda menggunakan dana darurat, Anda harus menyisihkan lagi hingga jumlah dana darurat kembali seperti semula,” ujar Dini mengingatkan.

Dana darurat ini juga bisa menjadi sumber dana bagi pengeluaran rutin yang tak bisa ditekan. Misalnya, menggaji asisten rumah tangga (ART) atau pegawai. “Inilah gunanya dana darurat juga, karena apabila penghasilan tidak cukup, anda bisa menggunakan dana darurat untuk membayar gaji pegawai Anda,” ujar Dini.

Para profesional atau pengusaha yang memiliki penghasilan tak tetap perlu menemuh perencanaan keuangan khusus agar kondisi finansial keluarga mereka tetap sehat.

Nah, selain urusan dana darurat, Anda yang masuk kelompok “spesial” ini juga mesti bijak mengelola utang atawa pinjaman. Para pemilik pendapatan tak tetap, rawan terkena godaan utang. Apalagi saat pemasukan tidak mampu menutupi kebutuhan bulanan.

Biasanya, Anda akan berpaling lebih dulu pada kartu kredit yang paling mudah diakses dan digunakan. Eits, tapi hati-hati, menggunakan kartu kredit yang berlebihan bisa membuat Anda tergulung jebakan utang. “Boleh pakai kartu kredit tapi untuk keperluan yang sudah diperhitungkan supaya tidak sampai utang menggulung,” kata Freddy Pieloor, perencana keuangan dari Money and Love Planning and Consulting.

Farah Dini Novita, perencana keuangan senior dari Zelts – Janus Consulting, juga mengingatkan, apabila tidak ada dana untuk melunasinya di tabungan dan belum yakin ada invoice ataupun penghasilan lain masuk, sebaiknya jangan gunakan kartu kredit. “Kartu kredit bukanlah dana darurat. Kartu Kredit adalah utang!” ujar Freddy.

Ingatlah bahwa kartu kredit adalah alat pembayaran. “Pembelanjaan dengan kartu kredit harus sesuai dengan anggaran uang yang dimiliki,” imbuh Lisa. Namun, berdasarkan pengalaman Lisa menangani klien-kliennya, biasanya, pekerja profesional maupun pekerja lepas tidak dapat berdisiplin dalam berutang. “Jadinya malah gali lubang tutup lubang,” ujar dia.

Idealnya saat penghasilan tinggi, selisih penghasilan disisihkan dalam rekening terpisah sehingga sewaktu penghasilan menurun, bisa diambil dananya. Tapi, kenyataannya, saat penghasilan tinggi, pengeluaran juga tinggi sehingga tidak bisa menyisihkan dana.

Baik Freddy maupun Dini sepakat bahwa utang sebaiknya ditujukan untuk barang non-konsumtif. “Utang yang baik adalah utang yang produktif, yaitu untuk membeli aset yang nilainya akan terus naik seiring berjalannya waktu atau utang untuk membeli suatu barang yang membuat Anda lebih produktif dalam bekerja dan menghasilkan lebih banyak lagi,” ujar Dini.

Freddy mencontohkan, sebagian dari utang produktif ini misalnya kredit kepemilikan rumah (KPR) atau apartemen (KPA). “Karena utang yang kita bayarkan bisa terbayar kembali dengan kenaikan harga properti,” ujar Freddy. Sementara, bila utang digunakan untuk keperluan konsumtif, Anda akan rugi dua kali. “Sudah harga barangnya turun, mesti bayar bunga pula,” imbuh Freddy.

Namun, jika terpaksa berutang karena dana Anda sudah terpakai untuk keperluan penting, misalnya untuk keperluan pendidikan anak, ada beberapa cara. Pertama, Freddy menyarankan untuk mencari pinjaman lunak. “Bisa ke orangtua atau saudara,” saran Freddy. Kalau cara tersebut sudah ditempuh dan hasilnya nihil, opsi kedua yang bisa diperhitungkan adalah pegadaian. “Coba refinancing atau gadai supaya bunga lebih kecil dibanding tarik uang tunai dengan kartu kredit,” kata Freddy. Utamanya, cobalah cari opsi pinjaman dengan bunga paling kecil, mudah, dan murah.

Sementara, Dini menyarankan, kalaupun harus berutang, sebaiknya Anda berutang pada instansi seperti bank. “Walaupun persyaratan lebih rumit, biasanya bunga lebih kecil dibanding instansi lain,” kata dia. Tapi, tentu saja, Anda tetap harus memperhatikan bunga yang dikenakan. “Patokan berutang, tidak boleh lebih dari 30% – 35% dari penghasilan rata -rata. Agar lebih aman, gunakan pedoman penghasilan minimum,” imbuh Dini.

Jangan lupa investasi

Faktor penting dalam mengatur arus kas dari penghasilan tidak tetap adalah investasi. Seperti semua pegawai yang memiliki iuran rutin dana pensiun, Anda juga berhak mendapatkan masa pensiun meski dananya harus diusahakan sendiri.

Freddy menyarankan agar Anda berinvestasi sesuai kemampuan. Kebutuhan investasi ini, menurut Dini, bisa disisihkan langsung di awal dari pendapatan. Cuma, apabila di bulan tertentu, pendapatan menjadi sangat minim atau malah digunakan untuk pembayaran bulan depan, kata Dini, Anda bisa menyisihkan setelah mendapatkan penghasilan lebih tinggi di bulan berikutnya.

Dini mencontohkan: Bapak Doni mendapatkan proyek freelance dan invoice akan cair September. Sedangkan di Agustus, Bapak Doni hanya mendapatkan penghasilan dari proyek kecil tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan wajib bulanan. Sementara, kebutuhan investasi Bapak Doni setiap bulan adalah Rp 1 juta.
Maka, apabila di Agustus Bapak Doni tidak dapat berinvestasi sama sekali, di September, Bapak Doni akan menyisihkan dana sebesar Rp 2 juta untuk mengisi kekosongan bulan sebelumnya. Begitu seterusnya.

Jika Anda cermat dalam menyiasati pengeluaran per bulan, sebenarnya Anda bisa memiliki arus kas yang selalu positif. Artinya, Anda tetap bisa hidup dengan standar yang Anda tetapkan kendati di saat penghasilan sedang lebih rendah ketimbang biasanya.

Kuncinya adalah disiplin dan komitmen saat penghasilan Anda melonjak melebihi penghasilan rata-rata sebulan. Godaan belanja saat penghasilan melonjak ini memang besar. Sebab, sebagai pekerja profesional ataupun pekerja lepas, Anda tentu ingin menikmati kerja keras Anda. Namun, Anda harus ingat kondisi penghasilan setiap bulan tidak selalu terjadi lonjakan. Apalagi jika Anda pekerja lepas dan si klien menunda pembayaran dengan jeda sebulan misalnya.

Nah, situasi-situasi seperti ini harus siap Anda hadapi. Jika Anda sudah memiliki satu rekening tabungan yang digunakan untuk aneka transaksi baik penerimaan maupun pengeluaran, segera buka rekening baru, sebagai rekening cadangan. Rekening ini adalah penampung dana dari selisih penghasilan Anda saat tinggi dengan penghasilan rata-rata Anda sebulan. Kedisiplinan Anda mengisi rekening terpisah ini akan menyelamatkan Anda jika penghasilan menurun. Selamat mengatur keuangan agar hidup tenteram.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: KONTAN