Setelah Melemah, Dollar US Rebound

By on 17 Oktober 2014 | Artikel ini Sudah di baca 2.506 kali
Dollar AS

Dollar Amerika Serikat (USD) rebound, setelah terkoreksi tajam. Ekspektasi positif terhadap data tenaga kerja menyokong mata uang Negeri Paman Sam ini. Mengutip Bloomberg, Kamis (16/10) pukul 16.00 WIB, USD versus EUR unggul 0,32% menjadi 1,2797. Lalu, USD menguat terhadap AUD sebesar 1,04% ke level 0,8737. Hanya, pasangan USD/JPY turun tipis 0,03% ke 105,89.

Nizar Hilmy, analis PT SoeGee Futures, mengatakan, pasangan EUR/USD bergerak melorot, setelah naik tajam pada Rabu (15/10). Kala itu, USD terkoreksi tajam, karena indeks harga produsen (PPI), penjualan ritel, dan indeks manufaktur New York turun.The Bloomberg Indeks Dollar Spot turun, sebab pelaku pasar berspekulasi kenaikan suku bunga AS baru akan terjadi Desember 2015.

Namun, dollar AS rebound menjelang pengumuman angka tenaga kerja AS pada Kamis (16/10) malam waktu setempat. Klaim pengangguran diprediksi turun dari 297.000 menjadi 286.000 per pekan lalu. “Dalam waktu dekat, pasangan EUR/USD masih berpeluang retracement. Namun hal tersebut belum mengubah tren bearish pasangan ini,” jelas Nizar.

Suluh Adil Wicaksono, analis PT Millenium Penata Futures, menilai, pairing AUD/USD turun, karena sentimen positif mendominasi USD. Selain data tenaga kerja, produksi industri bulan September diprediksi tumbuh 0,4%. Pasar juga menanti pidato Gubernur Bank Sentral AS, Janet Yellen pada Jumat (17/10).

“Jika Yellen memberikan sinyal kenaikan bunga lebih cepat, mata uang lain akan tertekan dalam terhadap dollar AS,” ungkap Suluh. Ariston Tjendra, Head of Research and Analysis Division PT Monex Investindo Futures, menilai, pasangan USD/JPY bergerak terbatas dengan kecenderungan naik. Selanjutnya, pergerakan pasangan ini akan dipengaruhi indeks manufaktur Philadelphia.

Pasar khawatir data ini sama buruknya seperti indeks manufaktur New York. “Dengan demikian, potensi penurunan USD/JPY masih terbuka,” prediksi Ariston.

JPMorgan Chase & Co memproyeksikan, dollar AS berisiko tinggi jatuh terhadap yen. Ini dengan asumsi ekonomi AS ikut terguncang oleh pelambatan pasar global.

 

 

 

Sumber: KONTAN