Selalu Hemat Namun Kok Tetap Tidak Bisa Kaya??

By on 9 Desember 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.442 kali
Selalu Hemat Namun Kok Tetap Tidak Bisa Kaya

Perencanaan Keuangan – Dina memiliki karir yang sukses dan tentunya dibarengi dengan gaji yang semakin meningkat. Namun dia merasa dirinya “berlari dan berlari, namun tidak kemana-mana”. Karena walau gajinya besar dia tetap merasa kekurangan, pendapatan yang dia peroleh tidak mampu mengimbangi pengeluarannya.

Bagi banyak profesional muda seperti Dina yang selalu rajin menabung dan hidup hemat, “musuh” utamanya adalah inflasi: kenaikan harga barang dan jasa yang tidak dapat dihindari dan memangkas daya beli mereka.

Apa yang salah?

Dina membuat kesalahan dengan menaruh uangnya di rekening tabungan yang memberikan bunga rendah, dan percaya bahwa bunga sebesar 0,5% dapat menahan serangan inflasi Indonesia yang berkisar 4,5% per tahun. Perbedaan 4% itulah yang membuat uangnya kehilangan daya beli meski sudah disimpan dengan aman di bank!

Menyimpan uang Anda dalam bentuk tunai saja –dalam bentuk mata uang utama atau tabungan berbunga rendah— merupakan ide yang buruk. Tentu saja Anda masih memerlukan uang tunai untuk membiayai pengeluaran sehari-hari atau melunasi utang, juga sebagai dana darurat untuk menjamin biaya hidup Anda selama enam bulan. Namun, seperti kata investor besar Amerika, Warren Buffet, “Karena tingkat inflasi, uang tunai pada dasarnya menjamin kerugian nilai dalam jumlah besar seiring berjalannya waktu.”

Uang Anda berkurang nilainya di masa depan

Saat tahun 2005, Dina mengeluarkan Rp 500.000 dalam sekali belanja di supermarket untuk memperoleh sejumlah barang. 13 tahun mendatang, ia akan memerlukan Rp 845.000 untuk memperoleh barang belanjaan yang sama. Uang yang sama, ditabung di bank tahun 2005 dengan tingkat suku bunga 2,5%, sekarang hanya menghasilkan sekitar Rp 594.000. Oleh sebab itu, kenaikan gaji Dina pada dasarnya hanya untuk menutupi kenaikan harga seiring waktu atau bahkan tidak cukup!

Apa yang harus Dina lakukan?

Ia sebaiknya menaruh uangnya ke dalam bentuk investasi lain yang bisa mengganti nilai uang yang tergerus oleh inflasi dan suku bunga yang rendah. Pilihan-pilihan yang praktis bisa berupa investasi seperti:

– Deposito berjangka
– Properti
– Saham

Investor lokal maupun asing saat ini merasa optimis terhadap pasar modal Indonesia. “Selama satu dekade terakhir, (IHSG) telah menjadi yang terbaik kedua di antara negara-negara bertumbuh, melesat ke depan dengan imbal hasil sekitar 25,2% per tahun,” ujar Carl Delfeld, salah satu kolumnis Forbes Asia.

Anda mungkin berpikir jenis-jenis aset semacam ini hanya dimiliki oleh kalangan petinggi yang memiliki latar belakang di bidang keuangan. Kenyataannya, orang-orang biasa seperti saya, Anda dan Dina-lah yang sebenarnya tidak mampu untuk tidak mempertimbangkan investasi semacam ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: liveolive.com