Sedia Payung Sebelum Hujan, Pilih Payung yang Sesuai

By on 26 November 2014 | Artikel ini Sudah di baca 2.569 kali
Asuransi Perlindungan

Asuransi – Sedia payung sebelum hujan. Pepatah klasik ini selalu menjadi analogi umum yang disampaikan tenaga pemasaran asuransi maupun agen asuransi, untuk memberikan gambaran kepada calon nasabah tentang pentingnya berasuransi.

Anda tentu sudah hafal teknik tenaga pemasaran dan agen asuransi yang selalu mengingatkan mengenai berbagai risiko tidak terduga yang bakal ditemui di kemudian hari. Mulai dari risiko terpapar penyakit, mengalami kecelakaan lalu lintas, cacat anggota badan, hingga risiko kematian. Tak hanya itu, bayang-bayang pembengkakan biaya pendidikan untuk anak di masa depan pun tak menjadi persoalan jika mendapat perlindungan asuransi.

Sebenarnya, asuransi merupakan produk janji untuk mengganti sebagian kerugian finansial terhadap risiko yang terjadi secara tidak terduga pada pembeli produk asuransi (polis) di kemudian hari. Tak hanya perlindungan terhadap jiwa, asuransi juga memproteksi risiko atas harta benda yang dimiliki. Misalnya, risiko kebakaran rumah atau kecelakaan di jalan raya yang membuat kendaraan rusak parah.

Nah, agen dan tenaga pemasaran asuransi selalu mengingatkan kepada kita semua untuk mengantisipasi risiko itu dengan cara membeli produk asuransi. Untuk perlindungan jiwa, mereka menawarkan berbagai produk mulai yang konvensional maupun syariah. Di dalamnya terdapat berbagai jenis asuransi mulai kecelakaan, kesehatan, asuransi jiwa, juga asuransi pendidikan.

Meski begitu, sebenarnya banyak orang yang enggan mengalokasikan sebagian penghasilannya untuk membeli produk asuransi. Golongan orang-orang ini merasa membeli potensi risiko di masa depan yang belum tentu bakal terjadi merupakan aktivitas membuang uang secara percuma. Toh, kalau risiko itu ternyata tidak terjadi, uang yang ditanam di produk tersebut akan hangus.

Nah, sebelum memutuskan apakah Anda perlu membeli produk asuransi atau tidak, atau memilih produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan, sebaiknya Anda dan keluarga membuat kalkulasi. Silakan menyusun daftar berbagai risiko yang mungkin menimpa diri, anggota keluarga, dan harta benda, sehingga mendapat jaminan asuransi.

Perencana keuangan Shildt Financial Planning Risza Bambang menyatakan, setidaknya ada beberapa risiko yang mungkin terjadi dalam kehidupan ini. Pertama, risiko kematian suami atau istri yang bisa berdampak negatif secara finansial bagi anak. Terutama menyangkut kelangsungan hidup mereka, maupun untuk mewujudkan keinginannya.

Kedua, risiko sakit, kecelakaan, cacat tetap, hingga terserang penyakit kritis, yang mungkin terjadi kepada suami atau istri. Kondisi ini secara finansial bisa menggerus dana atau pendapatan keluarga. Maklum, biaya pengobatan dan perawatan terhitung cukup mahal.

Tak hanya itu, risiko ini juga langsung berdampak terhadap terganggunya penghasilan keluarga lantaran suami atau istri tidak bisa bekerja lagi dengan normal. Efek lanjutannya, masa depan anak dan kelangsungan hidup keluarga terganggu.

Ketiga, risiko kehilangan pekerjaan karena faktor internal, seperti kinerja si suami atau istri. Risiko ini juga bisa akibat faktor eksternal, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) karena terjadinya krisis ekonomi atau perusahaan bangkrut. Kondisi ini pasti akan mengganggu rencana keluarga untuk membeli rumah dan mewujudkan impian lain.

Keempat, risiko kehilangan atau kerusakan barang berharga yang dimiliki. Misalnya rumah, motor atau mobil. Kelima, risiko kematian orangtua, atau kakek dan nenek dari anak kita. Kondisi ini berpotensi mengganggu stabilitas perawatan anak selama bekerja.

Keenam, risiko kenaikan sewa rumah sehingga akan menambah biaya pengeluaran rumahtangga. Ketujuh, risiko tidak terkontrolnya pengeluaran untuk aktivitas sosial, rekreasi, hiburan dan liburan. Kondisi ini membuat Anda dan keluarga kehilangan peluang melakukan investasi untuk meningkatkan penghasilan dan aset.

Kedelapan, risiko salah melakukan penempatan investasi atau bahkan pemilihan instrumen investasi. Alhasil, Anda tidak bisa menambah aset atau memperbesar pendapatan.

Kesembilan, risiko kesehatan anak yang dapat berdampak negatif terhadap biaya pengeluaran untuk kesehatan.

Sebenarnya, masih banyak lagi risiko dengan berbagai tingkatan, yang bakal Anda hadapi dalam mengarungi hidup ini. Yang jelas, setelah melakukan kalkulasi risiko, Anda bisa membuat skala prioritas. “Mana risiko yang bisa ditanggung sendiri (own retention) dan mana risiko yang sebaiknya ditransfer kepada pihak lain yakni perusahaan asuransi,” kata Risza Bambang.

Freddy Pieloor, pialang asuransi dari Antara Intermediary Indonesia, punya pandangan tak jauh beda. Namun, ada tiga risiko yang tidak bisa dihilangkan: risiko kematian, risiko sakit, dan risiko kecelakaan. “Tiga ini sekaligus jadi asuransi dasar yang paling tidak mesti dimiliki seseorang,” katanya.

Setelah mendata risiko hidup, Anda dapat menetapkan produk perlindungan asuransi termasuk investasi yang Anda butuhkan. Selanjutnya, Anda bisa mulai berasuransi.

Namun, sebelum membeli produk asuransi, M. Hadi Wijayaningrat, perencana keuangan independen yang juga praktisi bidang asuransi, menyarankan sebaiknya Anda memiliki dana darurat berupa uang tunai, yakni dana untuk keperluan bulanan sebesar satu kali belanja bulanan.

Selain itu, memiliki dana cadangan sebesar enam kali pengeluaran bulanan bagi Anda yang masih bujangan. Sedangkan kalau sudah berkeluarga, porsi dana ini sebesar 12 bulan belanja rutin bulanan.

Setelah dana cadangan tersebut tersedia, baru Anda siap membeli produk asuransi sekaligus investasi jangka panjang. Secara umum, asuransi itu terbagi atas asuransi standar dan asuransi tambahan.

Asuransi standar

Produk asuransi standar yang bisa Anda pilih jika masih lajang adalah perlindungan asuransi kesehatan. Sri Khorniatun, perencana keuangan dari Kurnia Consulting, menganggap perlindungan asuransi ini diperlukan sejak lahir, terutama perlindungan terhadap kesehatan. Tapi perlindungan sejak dini itu dilakukan kalau orangtua mampu membeli premi asuransi.

Jika tidak, asuransi sebaiknya dimulai saat Anda masih lajang tapi telah punya penghasilan sendiri. Sri menyarankan produk asuransi kesehatan karena bisa memberikan perlindungan saat sakit meski belum mempunyai tabungan yang cukup.

Tapi, setelah berkeluarga, Anda perlu membeli produk asuransi jiwa. Terutama bagi suami atau istri yang menjadi tumpuan penghasilan utama keluarga.

Biasanya produk dasar asuransi jiwa bagi suami dan istri adalah kematian berjangka atau term life. Ini adalah asuransi jiwa yang memberikan uang pertanggungan kepada ahli waris jika peserta meninggal dunia dalam jangka waktu asuransi.

Apabila pada akhir masa waktu asuransi si peserta masih hidup, maka dia tidak akan mendapatkan manfaat dan premi hangus. Jenis asuransi ini biasanya menawarkan produk tambahan berupa asuransi kecelakaan, cacat tetap dan penyakit kritis.

Freddy mengingatkan, anggaran premi asuransi kian besar jika Anda sudah berkeluarga dan punya anak. “Minimal membutuhkan asuransi pendidikan untuk anak dan asuransi kesehatan anak dan istri,” katanya.

Sementara kebutuhan jenis asuransi lain, tentu tergantung risiko yang dihadapi. Misalnya, asuransi kendaraan hanya jika sudah memiliki motor atau mobil. Begitu juga dengan jenis asuransi lain.

Asuransi tambahan

Apakah Anda perlu memperluas asuransi yang dimiliki dengan rider atau proteksi tambahan yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi? Tentu harus dikaji lebih jauh, seberapa besar premi yang harus Anda bayarkan, berapa uang pertanggungan dan ruang lingkup pertanggungan.

“Semua ini untuk mengetahui uang yang dikeluarkan buat membayar premi sesuai dengan manfaat yang didapatkan. Apalagi tidak semua produk asuransi yang dibundel jadi satu, preminya murah,” kata Freddy.

Sedangkan Hadi menyarankan, setelah asuransi standar terpenuhi, sebaiknya Anda mempertimbangkan rider proteksi penghasilan. Biasanya, ri der ini ditawarkan bersamaan dengan asuransi kesehatan terutama penyakit kritis. Produk seperti ini tetap memberikan proteksi terhadap penghasilan pemegang polis jika mereka terkena penyakit kritis.

Yang jelas, rider seperti ini bukan lagi asuransi murni, tapi sudah berbalut dengan investasi atau biasa disebut dengan produk unitlink. Dengan membayar premi terhadap tambahan proteksi untuk penghasilan, maka peserta asuransi menerima jaminan lump sum jika pemegang polis didiagnosa menderita suatu penyakit kritis.

Asuransi tambahan yang bisa menjadi pertimbangan adalah asuransi pendidikan. Dengan menjadi peserta asuransi pendidikan berarti Anda memberikan jaminan terhadap biaya pendidikan anak, apabila Anda mengalami musibah kecelakaan yang mengakibatkan cacat tetap ataupun meninggal dunia.

Asuransi pendidikan memang lebih populer di kalangan masyarakat kita. Maklum, dengan membayar premi secara tahunan, tiga bulanan atau bulanan, Anda bisa mendapatkan manfaat saat Anak memasuki jenjang pendidikan formal: taman kanak-kanak, sekolah dasar, SMP, SMU hingga perguruan tinggi.

Asuransi tambahan lain yang perlu Anda pertimbangkan adalah asuransi kerugian untuk proteksi terhadap harta. Asuransi kerugian yang lazim di gunakan oleh pemegang polis pribadi saat ini adalah asuransi kebakaran rumah dan risiko terhadap bencana alam, seperti gempa bumi dan banjir.

Selain itu ada juga asuransi kendaraan bermotor. Jenis asuransi ini untuk perlindungan bila terjadi kerusakan terhadap kendaraan maupun risiko kehilangan akibat aksi kejahatan.

Nilai premi yang harus dibayar untuk asuransi tambahan ini biasanya menyesuaikan dengan risiko yang harus ditanggung perusahaan asuransi dan jumlah uang pertanggungan yang diinginkan. Sementara untuk asuransi jiwa, umur dan hasil chek up kesehatan juga jadi pertimbangan nilai premi.

Bujet asuransi

Setelah memahami risiko berasuransi dan proteksi yang dibutuhkan, kini Anda tinggal mengalokasikan anggaran dari penghasilan bulanan.

Freddy Pieloor menyebut dana yang direncanakan tergantung kepada seberapa besar kebutuhan uang pertanggungan yang diinginkan, tujuan keuangan, dan anggaran. Tapi, secara umum kita bisa menyisihkan 5% sampai 15% dari pendapatan bulanan untuk asuransi.

Adapun Hadi menyarankan untuk menyisihkan sekitar 30% dari penghasilan sebagai proteksi masa depan. Sebagian bisa masuk ke asuransi murni, sebagian lain masuk investasi lain seperti emas, reksadana, atau saham yang perlu keahlian khusus. “Bisa juga memilih polis asuransi plus yang dibundel produk unitlink,” katanyaa.

Yang jelas, sumber dana biaya asuransi dan investasi tersebut jangan berasal dana pinjaman atau berutang. Sebab, akan mengakibatkan beban baru di kemudian hari (lihat boks). Jadi, kalau memang bujet Anda masih terbatas, sebaiknya memilih asuransi dengan premi terjangkau. Memang, konsekuensinya jumlah Uang Pertanggungan (UP) yang diperoleh mungkin tidak mencukupi untuk menutup risiko Anda.

Yang perlu juga Anda pahami dalam menghitung biaya asuransi adalah besar kecil nilai premi asuransi terutama yang standar sangat tergantung kepada umur, lama kepesertaan, dan uang pertanggungan yang Anda inginkan. Semakin muda usia dan kian panjang jangka waktu asuransi yang Anda pilih, maka uang premi yang Anda bayarkan tiap bulan atau tahunan jauh lebih kecil. Artinya, jika Anda memutuskan untuk berasuransi lebih awal sejak usia dini, maka premi yang harus ditanggung akan lebih ringan.

Namun, tak ada kata terlambat untuk mulai berasuransi agar terhindar dari risiko tak terduga di kemudian hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: KONTAN