Rumah Baru, Jangan Tambah Utang Baru!!

By on 6 Januari 2015 | Artikel ini Sudah di baca 2.838 kali

Rumah Baru, Jangan Tambah Utang Baru!!Perencanaan Keuangan – Rumah baru, semangat baru. Anda tentu ingin sekaligus mengisi istana baru Anda dengan berbagai peralatan elektronik yang baru pula. Perlu Anda ketahui properti adalah induk dari semua produk konsumsi lainnya. Saat membangun rumah maka permintaan terhadap produk-produk lain seperti alat elektronik, furnitur,  hingga aneka peralatan rumah tangga, semuanya datang menyusul.

Kabar baiknya, sekarang ini banyak tersedia layanan kredit lunak. Hanya dengan modal fotokopi KTP, Anda bisa membawa pulang berbagai barang pengisi rumah. Kemudahan ini yang membuat banyak orang menjadi euphoria dan kalap memborong pelbagai peralatan rumah tangga. Kabar buruknya, tunggakan cicilan aneka barang tersebut justru menambah beban pengeluaran. Apalagi jika cicilan rumah baru juga belum lunas. Pengeluaran jadi makin berlipat-lipat. Aduh, harus bagaimana?

“Lebih baik menunda membeli,” ujar Teguh, Financial Planner dari QM Financial. Menurut Teguh keinginan kredit barang rumah tangga tak hanya terjadi pada ibu-ibu. “Bapak-Bapak juga suka kalap kok. Apalagi elektronik. Kecanggihan teknologi membuat Bapak-Bapak sulit mengerem keinginan belanja,” katanya.

Barang elektronik, lanjutnya, tidak memiliki kemungkinan harga naik. Setelah keluar dari toko barang elektonik langsung menjadi barang bekas sehingga nilainya langsung turun. Sebaliknya, jika dibeli dengan kredit, harga barang elektronik malah menjadi naik karena ada beban biaya administrasi dan bunga yang harus dibayar.

Masih terkait dengan menghindari tambahan utang di rumah baru, Teguh menyarankan agar Anda membuat daftar prioritas barang yang ingin Anda beli.  Nah, penyusunan daftar ini, sebaiknya dilakukan berdua agar ada penyeimbangnya. “Kalau istri mudah tergiur satu promo, peran suami harus tegas melarang berdasarkan skala prioritas yang sudah disusun,” katanya.

Jika memang seandainya kredit tidak bisa dihindari, Teguh menyarankan agar menyeleksi pilihan debitur. “Kalau memang urgent dan tidak ada cash, dan masih sehat rasio cicilannya, cari cicilan yang 0%. Tapi sebaik-baiknya, kalau masih bisa ditunda ya jangan utang,” sarannya.

Ada dua hal yang harus diperhatikan sebelum mengambil keputusan kredit. Pertama, barang yang akan Anda beli sangat dibutuhkan secepatnya. Kedua, Anda sudah menghitung berapa nominal rupiah yang  harus disisihkan untuk membayar cicilan sehingga Anda tidak keteteran untuk melunasi cicilannya.  “Nominal yang disisihkan itu harus masuk dalam budget bulanan. Sehingga Anda tidak sampai menunggak dan membayar bunga yang akan menambah beban baru di rumah tangga,” ungkap Teguh.

Nah, ada cerita dari Nur Laili yang punya pengalaman kalap mengisi rumah baru. Begitu dia menempati istana barunya, dia merasa harus membeli TV, lemari es, mesin cuci, dan AC. Cara yang paling mudah ya melalui  kredit lunak. Padahal jelas-jelas rumahnya juga dibeli dengan KPR. Artinya Nur menambahkan beban tagihan bulanan yang harus dibayar.

“Awalnya senang ya pindah rumah dengan barang-barang baru. Tapi karena tidak diitung dengan baik, saya gagal bayar. Akhirnya untuk menutup utang,  barang-barang itu saya juallagi. Tapi nilai jualnya turun, karena statusnya menjadi barang second,” kenangnya.

Nur memang tidak bisa menutup utang semuanya. Tapi dengan penjualan barang-barang itu, setidaknya tagihan bulanan berkurang. “Paling tidak, saya tidak ketakutan tak bisa bayar KPR,” katanya.

Jadi pikirkan baik-baik jika Anda ingini mengambil barang kredit. Apakah barang tersebut tidak akan menambah beban cicilan. Buat skala prioritas dan hitung cermat kemampuan bulanan Anda dalam mencicil kredit.

 

 

Sumber: dompetpintar.com