Pilihan Berita Menarik di Bursa Saham Hari Ini!!

By on 28 Oktober 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.285 kali

Kami menyajikan sejumlah berita di halaman bursa saham Harian KONTAN edisi Selasa 28 Oktober 2014, sebagai berikut.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mulai mengurangi beban utang. Pada 23 Oktober 2014, TLKM melalui anak usaha PT Telkomsel melunasi pinjaman jangka pendek senilai Rp 1 triliun kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Hal itu terungkap dalam laporan keuangan TLKM per 30 September 2014 yang dirilis Senin (27/10). Fasilitas yang dikenakan bunga JIBOR 3 bulan + 2% itu adalah bagian dari utang jangka pendek TLKM yang per 30 September 2014 lalu tercatat Rp 2,63 triliun.

Selain BCA, TLKM menanggung utang jangka pendek kepada Bank CIMB Niaga, Bank UOB Indonesia dan Bank Danamon Indonesia. Di sisi lain, TLKM memiliki utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun ke depan senilai Rp 5,5 triliun.

Jumlah itu meliputi utang bank Rp 3,58 triliun dan pinjaman penerusan (two-step loans) sejumlah Rp 1,13 triliun. Sementara sisanya adalah utang sewa pembiayaan senilai Rp 588 miliar dan obligasi & wesel bayar Rp 211 miliar.

TLKM butuh memangkas sedikit demi sedikit utangnya demi menekan biaya pendanaan. Per akhir kuartal III 2014, pos ini tercatat Rp 1,33 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 1,12 triliun.

Biaya pendanaan ini salah satu pos yang menyebabkan laba bersih TLKM terbilang stagnan, yakni Rp 11,47 triliun per 30 September 2014. Ini tak jauh berbeda dengan laba akhir kuartal III 2013 yang tercatat Rp 11,06 triliun.

Perolehan laba yang stagnan itu juga disebabkan oleh pertumbuhan pendapatan TLKM yang sebesar 7% year-on-year (yoy) menjadi Rp 65,84 triliun selama sembilan bulan 2014.

Menakar Efek Aturan IPO Perusahaan Tambang

Setelah setahun dikaji dan dirumuskan, Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menerbitkan ketentuan baru atas Peraturan Nomor I-A.1 tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan di Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara. Salah satu ketentuan penting di beleid ini adalah perusahaan minerba pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang belum berproduksi boleh mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di BEI.

Regulasi baru yang berlaku efektif 1 November 2014 ini mempermudah perusahaan minerba untuk IPO di Indonesia. Dalam beleid sebelumnya, BEI mematok syarat lumayan ketat bagi perusahaan minerba yang ingin mengajukan IPO. BEI, misalnya, hanya memperbolehkan perusahaan minerba yang sudah tahap produksi untuk IPO. Ketentuan lama ini dianggap memberatkan banyak perusahaan minerba yang masih tahap eksplorasi untuk mencari dana lewat IPO. PT Xin Fa Minerals salah satu contoh perusahaan yang masuk kategori ini.

Ladjiman Damanik, Direktur Xin Fa bilang, perusahaan masih mengeksplorasi tambang emas seluas 250 hektare (ha) di Cianjur, Jawa Barat. Di sisi lain, Xin Fa butuh dana US$ 20 juta untuk eksplorasi tahap pertama. Xin Fa bakal butuh tambahan dana US$ 50 juta jika akan melangkah ke tahap eksploitasi.

Sebelum ada aturan baru ini, Xin Fa tak bisa IPO di Indonesia lantaran masih tahap eksplorasi. Ladjiman bilang, aturan lama memberatkan lantaran IPO tak hanya berfungsi mencari dana, tapi juga wahana memupuk kepercayaan di mata investor. Xin Fa, bahkan, berencana menggelar IPO di Hong Kong. “Dengan aturan baru ini, kami juga berniat IPO di Indonesia. Karena bagi kami, akan lebih bagus jika perusahaan nasional dimiliki investor domestik,” kata Ladjiman kepada KONTAN.

Kasus seperti Xin Fa inilah yang ingin diakomodasi BEI melalui aturan baru IPO perusahaan minerba. Ito Warsito, Direktur Utama BEI pernah bilang, salah satu tujuan beleid baru ini adalah untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik agar perusahaan minerba nasional memilih IPO di Indonesia. Jumlah IPO perusahaan minerba di Indonesia setiap tahun memang rendah, jika dibandingkan dengan bursa negara lain seperti Kanada yang memang dijadikan BEI sebagai tolok ukur (benchmark) dalam menerbitkan revisi peraturan IPO perusahaan minerba ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membara. Senin (27/10), IHSG melemah 0,96% ke 5.024,29. Meski begitu, asing mencatatkan net buy Rp 673,9 miliar. Sementara itu, bursa Asia yang tercermin dalam indeks MSCI Asia Pasifik menguat 0,5% ke 138,25 sampai pukul 16:06 waktu Hong Kong.

Kepala Riset HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan, pasar sudah cukup mendiskon hasil pengumuman kabinet baru. “Sekarang tinggal menunggu penjelasan mengenai realisasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang dikabarkan akan terjadi pada November,” ujar dia. Rencana tersebut bakal mengurangi dana subsidi yang selama ini memberatkan anggaran negara.

Sedangkan dari faktor eksternal, Analis Reliance Securities Lanjar Nafi menilai, ada pesimisme pasar akan melambatnya pertumbuhan ekonomi China di tahun depan. Dus, muncul kekhawatiran ekspor Indonesia ke Tiongkok kian mengkeret.

Secara teknikal Lanjar melihat, IHSG membentuk tweezers top. Stochastic deadcross bergerak melemah dari area overbought. Lanjar memprediksikan, IHSG masih tertekan di 5.000-5.070. Sedangkan Yuganur optimistis, IHSG rebound di 5.080-5.126.