Pernyataan ECB Membuat Euro Lemah

By on 6 Oktober 2014 | Artikel ini Sudah di baca 2.303 kali

Nilai tukar mata uang euro (EUR) kembali melemah setelah sempat menguat tipis. Pernyataan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi tentang rencana pembelian obligasi dan efek beragun aset dua tahun guna menambah likuiditas belum mampu mengangkat performa euro.

Data Bloomberg, Jumat (3/10), memperlihatkan, pasangan EUR/USD anjlok 1,21% dari hari sebelumnya menjadi 1,2516. Pairing EUR/GBP turun 0,13% menjadi 0,7830. Sedangkan, EUR/JPY hanya naik tipis 0,01% menjadi 137,360.

Analis Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, pada pembukaan perdagangan Jumat (3/10), EUR/GBP sempat bergerak menguat lantaran pernyataan Mario Draghi tentang rencana pembelian obligasi. Namun, euro melemah pada sesi penutupan karena Presiden ECB tidak menjelaskan secara rinci besaran dan waktu pembelian obligasi.

“Pernyataan Draghi tak cukup kuat untuk mengangkat euro,” kata dia.

Daru melihat, euro masih akan melanjutkan pelemahan karena data ekonomi zona Eropa memburuk, seperti indeks manufaktur Spanyol September 2014 hanya 55,8, lebih rendah daripada proyeksi, 56,9. Pada periode yang sama, indeks manufaktur Italia sebesar 48,8 atau lebih rendah daripada proyeksi, 49,6.

“Ekonomi kawasan Eropa yang tertekan masih menjadi fokus utama pelemahan euro,” imbuh Daru. Sementara, dari sisi GBP, belum ada data ekonomi Inggris yang melemahkan mata uang ini.

Analis Harvest Internasional Futures Tonny Mariano juga menilai, kurs euro terhadap dollar Amerika Serikat (AS) anjlok lantaran data ekonomi kawasan Eropa belum menunjukkan perbaikan. Ia menilai, pasangan EUR/USD masih akan melanjutkan tren pelemahan, terutama setelah rilis data manufaktur Spanyol dan Italia pada September tercatat lebih rendah daripada proyeksi dan hasil bulan sebelumnya.

Tonny menambahkan, pelemahan euro terhadap dollar AS juga karena data ekonomi AS yang semakin membaik. Salah satunya data penambahan tenaga kerja di luar sektor pertanian naik dari 180.000 orang di Agustus menjadi 248.000 orang di September. Hasil ini lebih tinggi ketimbang proyeksi analis sebesar 216.000 orang.

Neraca perdagangan AS juga tengah membaik. Menurut Tonny, data ekonomi AS memberikan harapan bahwa The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat. Sedangkan dari sisi euro, ECB semakin melonggarkan kebijakan stimulus moneter.

Untuk pasangan EUR/JPY, analis SoeGee Futures Nizar Hilmy mengatakan, fundamental ekonomi Eropa dan Jepang sama-sama jelek. Ke depan, ia memproyeksikan, pasangan EUR/JPY masih akan bergerak fluktuatif. “Sulit untuk melihat tren kenaikan dan pelemahannya,” kata dia. Sedangkan, penguatan EUR/JPY akhir pekan lalu terjadi karena dampak pernyataan Presiden ECB tentang pembelian obligasi. Sedangkan, dari sisi Jepang, masih minim data yang bisa menggerakkan yen.

Nizar menambahkan, pergerakan euro terhadap yen selanjutnya dipengaruhi oleh rilis data ekonomi Jepang dan kawasan Eropa. EUR dan JPY sama-sama berpeluang menguat atau melemah.