Perbedaan Obligasi vs Saham

By on 23 September 2014 | Artikel ini Sudah di baca 2.859 kali

Baik instrumen obligasi maupun saham masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Saham memang menawarkan keuntungan jangka panjang yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan obligasi. Namun, saham juga memiliki risiko yang lebih tinggi jika dibanding dengan obligasi. Sementara, meski keuntungannya tidak setinggi saham, obligasi menawarkan arus pendapatan yang tetap bagi investornya.

Obligasi adalah surat utang, sementara saham adalah ekuiti. Inilah perbedaan utama di antara dua surat berharga itu.Dengan membeli saham, seorang investor menjadi salah satu pemilik perusahaan. Artinya ia memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan hak memperoleh pembagian keuntungan (dividen).

Sementara, jika membeli surat utang atau obligasi, seorang investor menjadi kreditur bagi perusahaan atau pemerintah. Keuntungan utama sebagai kreditur adalah bahwa investor akan memperoleh klaim aset terlebih dahulu dibandingkan dengan pemegang saham. Artinya, jika perusahaan itu bangkrut, pemegang obligasi akan memperoleh pembayaran terlebih dahulu daripada pemegang saham.

Namun demikian, para investor obligasi tidak akan memperoleh pembagian keuntungan jika laba perusahaan itu ternyata melonjak tajam di kemudian hari. Mereka hanya berhak memperoleh pengembalian pokok obligasi plus bunganya.

Akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa berinvestasi di obligasi risikonya lebih rendah jika dibandingkan dengan investasi di saham. Namun, sebanding dengan risikonya yang rendah, tingkat keuntungan obligasi (return) juga tidak setinggi saham.

Kalau begitu, mengapa investor perlu berinvestasi di obligasi? Betul, dalam jangka panjang, keuntungan investasi di saham memang lebih tinggi jika dibandingkan dengan obligasi. Tapi, ini tidak berarti bahwa investor tidak perlu berinvestasi di obligasi. Sebab, obligasi bisa menjadi pilihan ketika investor tidak bisa menerima fluktuasi jangka pendek pasar saham.

Jenis investor yang membutuhkan investasi di obligasi misalnya adalah investor yang ingin berinvestasi untuk keperluan pensiun. Harap dicatat, keuntungan bunga atau kupon yang diberikan obligasi cenderung tetap. Karenanya, obligasi disebut juga instrumen pendapatan tetap. Dengan berinvestasi di instrumen pendapatan tetap, dana pensiun seorang investor akan lebih aman. Sementara, jika berinvestasi di saham, risiko dana investasinya bakal hilang lebih besar. Jika ini terjadi, bagaimana investor itu akan mencukupi kebutuhannya sehari-hari?Investor yang memiliki tujuan investasi khusus juga bisa memanfaatkan obligasi. Misalnya, investor itu ingin berinvestasi untuk biaya sekolah S3 tiga tahun lagi.

Betul, dengan berinvestasi di saham mungkin ia akan memperoleh keuntungan tinggi. Tapi, ada risiko bahwa dana pendidikannya bakal hilang jika investasinya gagal. Dengan kata lain, impiannya untuk melanjutkan sekolah S3 bisa pupus. Nah, karena dana itu untuk tujuan khusus dalam waktu relatif pendek, investasi di instrumen pendapatan tetap lebih cocok.