Minyak Tertekan Sinyal Permintaan

By on 9 Oktober 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.459 kali
jalur pipa minyak

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terpeleset ke level terendah dalam 17 bulan terakhir. Stok minyak Amerika Serikat yang masih melimpah, dan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global memicu sentimen negatif di pasar komoditas. Data Bloomberg menunjukkan, Rabu (8/10) pukul 18.05 WIB, WTI untuk pengiriman November 2014 di New York Merchantile Exchange (Nymex) tergerus 1,02% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 87,94 per barel. Ini harga terendah sejak Juni 2013.

Koreksi tajam juga terjadi pada minyak Brent. Kemarin (8/10), Brent pengiriman Desember 2014 di ICE Futures Europe turun 0,9% menjadi US$ 91,73 per barel. Ini level terendah sejak Juli 2012.

Pelaku pasar enggan masuk ke pasar komoditas, termasuk minyak mentah, lantaran sinyal pelemahan permintaan. Pasalnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas target pertumbuhan ekonomi global pada tahun depan menjadi 3,8%, dari proyeksi sebelumnya sebesar 4%.

Sinyal lesunya permintaan juga terlihat dari stok minyak di AS yang masih tinggi. Selasa (7/10), American Petroleum Institute melaporkan stok minyak AS bertambah 5,1 juta barel per pekan lalu. Sejumlah analis menebak, Pemerintah AS melalui Energy Information Administration (EIA) bakal melaporkan hasil yang serupa. Stok minyak AS diprediksi naik sebanyak 2 juta barel per pekan lalu. EIA merilis data cadangan pada Rabu (8/10) malam.

“Pemangkasan proyeksi pertumbuhan oleh IMF menjadi isyarat permintaan masih akan lemah,” ungkap Michael Hewson, anali pasar CMC Markets Plc kepada Bloomberg, Rabu (8/10).

Analis PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai, lemahnya pertumbuhan ekonomi pasar mengurangi permintaan minyak. Ini yang menggerus harga minyak. “Apalagi, dollar AS menguat jelang pertemuan dewan moneter Bank Sentral AS (FOMC Meeting) yang mungkin membahas kenaikan suku bunga,” paparnya.

Suluh Adil Wicaksono, analis Millenium Penata Futures, menduga, hasil FOMC Meeting akan mempengaruhi pergerakan harga minyak pada pekan ini. Jika hasilnya sesuai ekspektasi pasar, harga minyak akan kembali tertekan. “Sebaliknya, minyak berpeluang rebound, jika hasil pertemuan itu melemahkan dollar AS,” katanya.

Secara teknikal, indikator juga menunjukkan harga masih turun. Garis MACD berada di area negatif 650%, artinya jatuhnya signifikan. RSI di level 27% dan stochastic di level 21% mengindikasi penurunan. Harga saat ini berada di bawah moving average (MA) 50, MA 100 dan MA 200.

Prediksi Suluh, hingga akhir pekan ini, harga minyak WTI relatif tertekan di kisaran US$ 85,6 sampai US4 89,4 per barel. Ariston juga menebak, hingga akhir pekan ini minyak masih bergerak turun antara US$ 85-US$ 90,5 per barel. Di akhir tahun, harga minyak akan relatif stabil pada kisaran US$ 87 per barel.