Mengenal Karakteristik Obligasi

By on 29 Agustus 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.285 kali
Obligasi

Edukasi – Wajar jika obligasi memiliki tingkat keuntungan dan juga risiko yang berbeda jika dibandingkan dengan saham.

Sebab, obligasi memang memiliki beberapa karakteristik khusus yang tidak dimiliki oleh saham. Misalnya, obligasi membagikan bunga yang rutin untuk investornya. Selain itu, obligasi juga memiliki nilai pokok yang akan selalu tetap; dengan catatan penerbitnya tidak bangkrut.

Sebelum berinvestasi di obligasi, Anda perlu memahami beberapa karakteristik obligasi itu. Yang pertama, setiap obligasi memiliki nilai pari atau nilai pokok (face value).

Nilai pokok atau nilai pari adalah nilai yang akan diperoleh kembali oleh pemegang obligasi pada waktu obligasi itu jatuh tempo. Obligasi baru biasanya ditawarkan dengan harga yang sama persis dengan nilai parinya. Tapi, yang sering membingungkan, ternyata nilai pokok obligasi itu tidak selalu sama dengan harganya.

Harga obligasi bisa berfluktuasi mengikuti berbagai variabel (kita akan membahas topik ini kemudian). Jika obligasi itu dijual dengan harga di atas nilai parinya, artinya harga obligasi itu premium, sementara harga obligasi itu disebut terdiskon jika berada di bahwa nilai pokoknya.

Karakter yang kedua, obligasi umumnya memberikan bunga atau kupon. Mengapa disebut kupon? Sebab, dahulu ketika obligasi masih berwujud sertifikat atau warkat, obligasi itu biasanya memiliki kupon-kupon yang bisa disobek untuk menebus bunga obligasi tersebut. Tapi, sekali lagi, itu praktik lama, sebab sekarang pembelian maupun pembayaran kupon sudah menggunakan sistem elektronik (scripless).

Umumnya, penerbit membayarkan bunga obligasinya setiap enam bulan. Tapi, ada pula yang membayarkannya setiap bulan, tiga bulan, atau setiap tahun.

Kupon atau bunga itu biasanya merupakan persentase dari nilai pokok suatu obligasi. Jika suatu obligasi yang memiliki nilai pari Rp 100 miliar menawarkan kupon 10% per tahun, artinya ia akan membagikan bunga Rp 10 miliar setiap tahun. Jika tarif bunganya ini tetap, obligasinya sering disebut sebagai obligasi berbunga tetap. Tapi, jika bunganya bisa berubah-ubah, obligasi itu disebut sebagai obligasi berbunga variabel.

Selain tingkat bunga, dan masa jatuh tempo, investor juga harus memperhatikan kondisi pihak yang menjadi penerbit suatu obligasi. Sebab, kinerja penerbit obligasi itulah yang akan menentukan apakah ia akan bisa membayar kewajiban bunga maupun pokok obligasinya di masa mendatang. Selain itu, penerbit surat utang itu juga menentukan tingkat risiko dan keuntungan obligasi tersebut.

Selain memiliki nilai pokok (face value) dan bunga, obligasi umumnya juga memiliki jatuh tempo (maturity). Tanggal jatuh tempo merupakan tanggal di masa depan saat penerbit akan membayar nilai pokok obligasinya. Masa jatuh tempo obligasi itu bisa sangat bervariasi, mulai dari satu hari sampai 30 tahun. Bahkan, sudah pernah ada obligasi yang jatuh tempo sampai 100 tahun. Woow…!

Obligasi yang memiliki masa jatuh tempo dalam satu tahun jelas lebih mudah diprediksi dan risikonya lebih rendah jika dibandingkan dengan obligasi yang jatuh tempo dalam 20 tahun. Karenanya, umumnya, semakin panjang masa jatuh temponya, suatu obligasi akan menawarkan bunga yang semakin tinggi pula. Selain itu, harga obligasi yang memiliki jatuh tempo panjang lebih fluktuatif.

Karateristik obligasi yang lainnya adalah menyangkut pihak penerbitnya (issuer). Penerbit obligasi merupakan faktor krusial yang harus diperhatikan oleh investor. Sebab, stabilitas kinerja penerbit obligasi itulah yang akan menjamin kembalinya nilai pokok obligasi yang dimiliki oleh investor.

Contoh yang paling ekstrem, Obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia jelas lebih aman jika dibandingkan dengan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan apa pun di Indonesia ini. Sebab, kemungkinan pemerintah mengalami default atau tidak mampu membayar pokok obligasi yang diterbitkannya sangat kecil. Karena itulah, instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah ini sering disebut sebagai instrumen bebas risiko (risk-free asset). Salah satu alasannya adalah karena pemerintah akan selalu bisa menghasilkan pendapatan di masa mendatang melalui pendapatan dari hasil penarikan pajak.

Sementara itu, di lain pihak, perusahaan yang menerbitkan obligasi harus terus-menerus menghasilkan untung agar bisa membayar kewajiban bunga maupun pokok obligasinya. Dan, perusahaan itu jelas tidak bisa menjamin 100% bahwa ia akan selalu untung.

Kenyataan itu menambah risiko yang ada pada obligasi terbitan perusahaan. Karenanya, biasanya obligasi perusahaan harus menawarkan tingkat imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dibanding dengan obligasi pemerintah untuk menarik investor. Hukum investasi kembali berbicara: investasi berisiko tinggi memberikan untung tinggi pula.

 

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Pakar Investasi Apps di Android Anda.