Mengenal Istilah ‘Panic Selling’

By on 22 Agustus 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.115 kali
Panic Selling

Edukasi – Sebagian investor ritel pasar modal di seluruh dunia masih cenderung menjadi pengekor atau follower. Mereka akan mengikuti langkah investasi para bandar-bandar besar. Akibatnya, ketika para bandar melepas aset-asetnya, investor menjadi panik. Gulungan kepanikan ini bisa memicu penjualan massal atau panic selling.

Panic selling adalah penjualan surat berharga -misalnya saham- secara besar-besaran yang terjadi di pasar modal. Akibatnya, harga surat berharga akan longsor sangat dalam.

Dalam peristiwa panik jual yang terjadi tiba-tiba, para investor biasanya berlomba-lomba keluar dari pasar paling cepat. Akibatnya, mereka tidak memperhatikan harga jual surat-surat berharga yang mereka miliki. Masalah utamanya, dalam panic selling, investor lebih banyak membuat keputusan investasi berdasarkan emosi dan rasa takut. Jadi, mereka tidak menghitung lagi faktor-faktor fundamental yang lebih mendasar.

Pemicu panic selling bisa bermacam-macam. Yang paling sering, panic selling terjadi karena sebuah berita buruk muncul secara tiba-tiba di pasar. Misalnya, berita tentang perlambatan ekonomi, kredit macet yang sangat besar, kinerja perusahaan besar yang buruk, dan seterusnya. Contoh yang paling gres adalah berita tentang maraknya kredit macet perumahan berisiko tinggi (subprime mortgage) di Amerika Serikat (AS) baru-baru ini. Berita ini membuat pelaku pasar sangat sensitif. Ketika investor besar menjual surat berharganya, investor kecil yang lebih cenderung ikut-ikutan (follower) langsung panik dan ikut melepas investasinya.

Dalam kasus yang paling parah, panic selling itu bisa membuat pasar modal hancur(crash). Salah satu contoh paling tragis adalah peristiwa Black Monday yang terjadi pada 19 Oktober 1987. Pada waktu itu, akibat panic selling, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di bursa New York atau New York Stock Exchange (NYSE) rontok 22% dalam sehari. Peristiwa ini memicu indeks-indeks bursa saham di seluruh dunia ikut terseret longsor. Pada akhir bulan, indeks-indeks bursa besar dunia telah turun 20%.

Untuk mengantisipasi peristiwa ini, bursa-bursa dunia telah menerapkan aturan-aturan untuk membatasi dampak panic selling. Misalnya, mereka menetapkan batasan maksimal perubahan harga saham. Ini mirip sekering yang bisa mencegah kebakaran saat ada korsleting listrik.

 

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Pakar Investasi Apps di Android Anda.