Mengatur Rencana Keuangan Mengantar Anak Anda Kuliah

By on 17 November 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.225 kali
Rencana Keuangan Untuk Anak Kuliah

Perencanaan Keuangan – Menikah dan membentuk keluarga masih menjadi mimpi sebagian besar orang di Indonesia. Selain tuntutan psikis dan biologis, berkeluarga juga telah menjadi tuntutan sosial di negeri ini. Maklumlah, posisi keluarga dalam budaya masyarakat kita masih sangat diperhitungkan.

Indikasi paling kuat? Tengok saja setiap Lebaran tiba. Jutaan orang berjibaku mengerahkan tenaga, energi dan duit “hanya” untuk mudik memburu momentum berkumpul dengan keluarga besar.

Namun, seperti kita tahu, tiada pilihan tanpa konsekuensi. Pilihan menikah dan membentuk keluarga juga melahirkan sederet konsekuensi dan sederet tanggung jawab baru, yang bisa dibilang cukup berat. Pilihan memiliki anak, misalnya.

Menimang buah hati menjadi salah satu mimpi terbesar mereka yang menikah dan berkeluarga. Anak menjadi berkah tak terkira dan mampu mengubah drastis sisi kehidupan orangtua. Ibaratnya, nyawa pun rela diberikan demi kebahagiaan buah hati tercinta.

Anda tentu sepakat jika memiliki anak sama artinya memiliki tanggung jawab baru yang luarbiasa besar. Tanggung jawab mendidik dan membesarkannya sejatinya sudah melekat di saat janin mulai tumbuh di kandungan ibu.

Masalah sandang dan pangan serta papan mungkin bagi Anda sudah bukan persoalan. Namun, menjadi orangtua berarti harus mulai memikirkan tentang kebutuhan pendidikan si anak.

Mulai kapan sih idealnya menyiapkan dana pendidikan anak? Para perencana keuangan kebanyakan menyarankan agar para orang tua menyiapkan biaya sekolah anak sedini mungkin. “Idealnya sejak bayi masih dalam kandungan. Bahkan, bagi pasangan muda yang belum punya anak, bisa disiapkan sejak awal agar beban investasi bulanan lebih kecil,” kata Prita Ghozie, perencana keuangan ZAP Finance.

Diana Sandjaja, perencana keuangan MRE Consulting, menilai, lebih awal menyiapkan biaya kuliah anak, lebih ringan biaya yang mesti disisihkan oleh orangtua. Juga, orangtua lebih leluasa menyisihkan dana tersebut. Untuk biaya kuliah, misalnya. Jika saat ini bayi Anda masih di dalam kandungan, maka Anda punya waktu setidaknya 18 tahun untuk menabung atau berinvestasi menyiapkan dananya. Waktu selama itu relatif leluasa bagi orangtua untuk memperkirakan kebutuhan biaya kuliah, membuat simulasi kebutuhan biaya, memilih produk tabungan atau investasi, dan memulai langkah menabung atau berinvestasi.

Inflasi itu nyata!

Sampai di sini, mungkin ada di antara kita yang menilai, waktu 18 tahun terlalu dini untuk berepot-repot ria menyiapkan dana kuliah si orok yang masih di dalam perut. Namun, percayalah, ketimbang jungkir balik tak karuan ketika kebutuhan sudah terlalu dekat, bersiap-siap lebih awal akan membuat hidup Anda lebih tenang dan nyaman.

Pasalnya, laju kenaikan biaya pendidikan, termasuk biaya kuliah, terbilang sangat kencang, jauh melebihi angka inflasi yang diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) saban awal bulan.

Para perencana keuangan biasa memakai rata-rata asumsi kenaikan biaya pendidikan S1 antara 10% — 20% per tahun. Namun, pada kenyataannya angka kenaikannya sangat mungkin jauh di atas itu.

Tak percaya? Sebagai contoh, tahun 2000 silam, SPP alias sumbangan pembinaan pendidikan di fakultas non-eksak Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta cuma berkisar Rp 500.000 per semester. Angka itu setara Rp 84.000 per bulan, bersih tanpa biaya-biaya tambahan lain. Nah, 11 tahun kemudian, biaya yang harus dibayar oleh mahasiswa S1 kampus itu melonjak cukup besar. Tak cuma SPP, mahasiswa juga diwajibkan membayar biaya operasional pendidikan (BOP) sebesar Rp 60.000 — Rp 75.000 per satuan kredit semester (sks).

Alhasil, mahasiswa wajib membayar minimal Rp 1,9 juta per semester. Itu belum termasuk ongkos sumbangan wajib minimal berkisar Rp 5 juta — Rp 10 juta. Taruh kata, total biaya yang harus dibayar mahasiswa UGM adalah Rp 2,5 juta per semester tahun 2011. Itu berarti dalam 10 tahun,inflasi biaya kuliah di sana mencapai 400% atau 40% per tahun!

Itu baru secuil contoh di universitas negeri yang selama ini terkenal cukup murah. Biaya kuliah di universitas swasta boleh jadi lebih dahsyat ongkosnya. Ketika mengetahui deru inflasi itu nyata, rasa-rasanya tidak ada jalan lain untuk mengantisipasi kebutuhan di masa depan selain berinvestasi. Anda tentu tidak ingin anak Anda kelak terlunta-lunta nasib pendidikannya, bukan?

Lantas, apa saja yang harus kita lakukan untuk menyiapkan biaya kuliah anak? Simak beragam tip dari para perencana keuangan berikut ini:

Riset sekolah

Meriset universitas yang kemungkinan kelak menjadi tempat anak Anda menempuh pendidikan sarjana menjadi hal pertama yang perlu dilakukan. Ini berkaitan dengan tujuan penyusunan rencana keuangan.

Mungkin saat ini Anda merasa terlalu dini jika menentukan perguruan tinggi mana yang kelak jadi pilihan anak Anda. Orangtua biasanya sulit memiliki gambaran seperti apa minat dan bakat si anak. Alhasil, jumlah dana yang perlu disiapkan juga masih mengawang-awang. “Namun, tetap bisa disiapkan dengan memakai asumsi biaya sekolah atau kuliah di perguruan tinggi favorit,” kata Diana.

Universitas pilihan bisa kampus lokal negeri atau swasta, bisa pula universitas mancanegara. Meriset biaya pendidikan melalui internet bisa lebih efektif. Bisa pula mendatang pameran pendidikan yang kerap digelar oleh universitas.

Biaya kuliah yang perlu dicermati, antara lain uang pangkal alias uang masuk kuliah, biaya bulanan seperti SPP, ongkos mata kuliah per sks, sumbangan gedung, biaya lain-lain seperti biaya orientasi awal kuliah, biaya praktikum, dan seterusnya.

Hitung posisi

Setelah mengantongi informasi lengkap terkait biaya pendidikan di calon kampus anak kita, kini saatnya menghitung posisi Anda. Berapa lama jangka waktu yang Anda miliki sebelum dana tersebut akan dibutuhkan? Diana menyarankan, dalam menghitung jangka waktu, ada baiknya diberikan tambahan satu tahun lagi sebelum deadline penggunaan.

Sebagai contoh, biaya kuliah anak Anda diperlukan 18 tahun lagi, maka saat menghitung berapa dana yang harus Anda sisihkan per bulan, asumsikan deadline Anda tinggal 17 tahun. “Saat dana sudah sesuai target, pindahkan atau amankan dulu ke instrumen lain yang risikonya lebih rendah, seperti deposito,” kata dia.

Selain menghitung sisa waktu sebelum tenggat kebutuhan, tengok kondisi keuangan Anda saat ini. Tentu konyol jika Anda langsung mengotot berinvestasi untuk dana kuliah anak yang masih 10 tahun lagi, namun saat ini kondisi keuangan Anda amburadul. Dus, menggelar pemeriksaan keuangan atawa financial check-up adalah wajib. Apa saja yang perlu diperiksa?

Pertama, periksa arus kas Anda. Sudah positif atau malah negatif? Bagaimana rasio kekayaan bersih Anda saat ini? Berapa beban utang konsumtif Anda? Jika memungkinkan, lunasi dahulu utang-utang konsumtif supaya buku keuangan Anda biru.

Kedua, hitung ketahanan keuangan Anda dengan cara mendaftar aset likuid dan pendapatan pasif. Cukupkah sebagai bekal ketika kondisi darurat menimpa Anda, seperti kehilangan pekerjaan maupun sakit? Sisihkan dana darurat minimal enam kali pengeluaran keluarga per bulan.

Ketiga, ukur kecukupan proteksi. Asuransi jiwa bersifat wajib bagi Anda yang sudah memiliki tanggungan. Keempat, susun skala prioritas dimulai dari rencana keuangan dengan tenggat terdekat.

Pilih produk
Nah, usai mengetahui posisi Anda, kini giliran memilih produk yang sesuai demi pencapaian tujuan keuangan. Sebagai gambaran, jika saat ini biaya kuliah di universitas incaran mencapai Rp 12 juta per semester. Jika diasumsikan, besar inflasi biaya kuliah di tempat tersebut 15% per tahun, maka pada 10 tahun ke depan, biaya kuliah bisa membengkak jadi Rp 48,55 juta per semester.

Satu-satunya cara membiakkan duit untuk melawan inflasi adalah dengan menginvestasikan dana yang kita miliki sekarang. Produk investasi menjadi pilihan utama karena potensi return produk ini mampu melampaui inflasi.

Apa saja produk investasi itu? Saham, reksadana, obligasi, emas, perhiasan, properti, dan seterusnya, tergolong instrumen investasi. Kenaikan harga sebuah saham sebagai contoh, bisa menembus dua digit bahkan tiga digit dalam satu tahun.

Karena potensi return produk investasi cukup tinggi, risikonya pun sebanding. Yakni, risiko penurunan nilai investasi hingga tergerusnya modal yang Anda tanam.

Ya, memang tidak ada makan siang gratis. Anda bisa mengelola risiko berinvestasi dengan melakukan diversifikasi portofolio dan rutin menggelar financial check-up. Insyaallah, ikhtiar Anda menyiapkan dana pendidikan anak berjalan lancar

Nah, bagi Anda yang ogah menanggung risiko itu mungkin berpaling ke produk konservatif, seperti tabungan rencana atau deposito. Yang menjadi pertanyaan, seberapa kencang laju pertumbuhan dana Anda bila ditanam di produk nyaris tanpa risiko itu?

Prita memberikan ilustrasi, kebutuhan dana kuliah anak di universitas swasta 18 tahun lagi mencapai Rp 555.991.731. Target dana itu bisa Anda capai dengan cara menginvestasikan dana Rp 263.975 per bulan di reksadana saham berimbal hasil 20% per tahun, selama 18 tahun (lihat ilustrasi).

Namun, jika Anda memilih menabung di tabungan bank yang cuma memberi imbal hasil rata-rata 2% per tahun, maka Anda harus menyisihkan Rp 2.137.009 per bulan selama 18 tahun. Perbedaannya jauh sekali, bukan? Dengan berinvestasi, dana yang harus kita sisihkan relatif lebih ringan.

Freddy Pieloor, perencana keuangan MoneynLove, membeberkan, tingkat inflasi biaya pendidikan nan tinggi tidak memungkinkan diimbangi oleh pertumbuhan hasil pembiakan duit di produk bank. “Produk investasi yang agresif lebih tepat untuk investasi menengah hingga panjang,” ujarnya.

Jika Anda butuh duit kuliah anak 3 tahun lagi, tentu tidak tepat jika Anda berinvestasi di produk saham atau reksadana saham. Produk investasi yang lebih tepat adalah reksadana pendapatan tetap atau reksadana pasar uang.

Konsekuensi lain dari tenggat yang sudah sangat dekat adalah Anda harus menyisihkan dana jauh lebih besar tinimbang jika bersiap dari jauh-jauh hari. Moral cerita, menyiapkan pendanaan dari jauh-jauh hari akan sangat meringankan beban Anda ke depan.

Mulai berinvestasi

Kini Anda sudah mengantongi perencanaan keuangan nan lengkap. Lantas, tunggu apa lagi? Mulailah berinvestasi. Manfaatkan fasilitas autodebet atau autoinvest yang banyak tersedia di bank-bank penjaja produk reksadana.

Memanfaatkan fasilitas-fasilitas tersebut akan sangat membantu disiplin anggaran Anda. Dus, saat ada obral besar di mal atau online shop, Anda tak lagi mudah tergoda. Semua demi masa depan anak tercinta!

 

 

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Pakar Investasi Apps di Android Anda.

 

 

 

 

 

 

Sumber: KONTAN