Meminimalisir Kerugian Investasi Saham? Kenali Dulu Risiko-Risikonya

By on 22 Mei 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.360 kali
Investasi Saham

Investasi Saham – Selain memahami bahwa berinvestasi saham dapat sangat menguntungkan, sebaliknya,tidak dinafikkan bahwa dalam berinvestasi saham tetap saja mengandung kemungkinan yang riskan. Risiko–risiko investasi saham di bawah ini diperkenalkan untuk membantu para investor semakin memahami mapping tentang dunia dan iklim perinvestasian, khususnya investasi saham. Para investor yang handal, bukan menyerah melihat adanya risiko. Mereka menjadi handal karena selalu berlatih dalam mengambil tindakan atas risiko-risiko yang sudah menghadang di depan mata.

Risiko-risiko investasi saham tersebut antara lain:

1. Capital Loss
Adalah kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi di mana investor menjual saham dengan harga lebih rendah dari harga beli. Sebagai contoh, saham PT.123 yang di beli dengan harga Rp. 3.000,00 per saham, lalu harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp.  1.500,00 per saham. Karena khawatir harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual di  harga Rp. 1.500,00 tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp. 1.500,00 per saham.

2. Risiko Likuidasi
Risiko investasi saham ke dua berbentuk risiko likuiditas merupakan risiko yang bisa terjadi karena saham yang dimiliki tak dapat dijual dengan cepat atau pada harga yang dikehendaki. Misalnya, memiliki saham 123 yang telah dibeli pada harga Rp. 4.000,00 per lembar dan akan dijual pada harga Rp 5.000,00, namun, saham 123 tersebut sulit terjual pada harga Rp. 5.000,00 per lembar pada transaksi hari ini kecuali apabila dijual pada harga yang lebih rendah dari harga yang dikehendaki tersebut. Bentuk risiko likuidiasi yang lain adalah perusahaan yang sahamnya dimiliki dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Menyangkut masalah ini, hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas paling akhir setelah semua kewajiban perusahaan dapat dilunasi (termasuk dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Bila masih ada sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan bersangkutan, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh jajaran pemegang saham. Namun apabila tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tak akan menerima hasil dari likuidasi tersebut. Kasus seperti ini merupakan risiko yang paling berat yang mungkin dihadapi pemegang saham. Oleh karena itu, seorang pemegang saham dituntut untuk secara rutin mengikuti perkembangan perusahaan.

3. Tidak ada pembagian dividen.
Perusahaan yang sahamnya telah dimiliki oleh investor pada kondisi tertentu akan membagikan dividen kepada para pemegang saham. Hal ini dirumuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Apabila dalam RUPS tersebut disepakati tak akan membagikan dividen, maka investor akan kehilangan penghasilan atas dividen dari kepemilikan saham tesebut.

4. Delisting dari bursa
Dapat terjadi pula penghapusan perusahaan di bursa (delisting). Jika suatu perusahaan tak lagi ada di listing, maka perusahaan tersebut akan berganti status dari perusahaan publik menjadi perusahaan privat. Bila hal tersebut terjadi, maka investor akan mengalami kesulitan dalam melakukan transaksi jual beli maupun keluar masuk dalam kepemilikan saham.

Risiko atau kerugian tidak dapat dihilangkan dalam berinvestasi, namun banyak jalan untuk meminimalisir risiko tersebut. Oleh sebab itu, investor yang akan melakukan kegiatan investasi sangat disarankan untuk melakukan diversifikasi (portfolio) investasi ke dalam beberapa instrument investasi, misalnya: kombinasi saham dan deposito, saham dari beberapa sektor industri, atau kombinasi saham dan obligasi, dan kombinasi investasi lainnya. Di pasar sekunder maupun dalam aktivitas perdagangan saham sehari?hari, harga saham mengalami fluktuasi yang dapat berupa kenaikan ataupun penurunan.

Harga saham terbentuk karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Dalam bahasa investasi,  harga saham terbentuk oleh supply dan demand atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi Karena faktor-faktor baik yang sifatnya spesifik terkait saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri di mana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang bersifat makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya. Sudah siap bertempur?

 

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Pakar Investasi Apps di Android Anda.