Melepaskan Ekuitas Di Saat Ada Kesempatan Realistis

By on 30 September 2014 | Artikel ini Sudah di baca 2.418 kali
Pengusaha Properti

Investasi Properti – Ini selalu menjadi komponen fundamental yang seharusnya kita terapkan ketika kita berinvestasi dalam properti. Semua ini tentang pengalihan risiko. Jika ekuitas yang tersisa di properti dan properti mengurangi nilai yang mungkin tidak dapat diakses lagi lewat ekuitas, sehingga investor akan  mengambil risiko. Namun, setelah properti dibiayai kembali, investor memiliki likuiditas dan kemudian risiko ditransfer ke pemberi pinjaman. Meminjam sebanyak mungkin dikenal sebagai  ‘high  gearing’.

Berikut ini contoh sederhana yang mungkin dapat menjelaskan hal ini secara lebih baik. Mari kita berasumsi bahwa dua pasangan masing-masing memiliki sebuah properti senilai investasi Rp.1.000.000.000,00 tanpa hipotek. Kami akan menyebut mereka Investor A dan B. Suatu pagi investor-investor ini bangun, menyalakan TV dan menonton berita yang mengumumkan bahwa nilai properti telah jatuh sebesar 50% di saat mereka membeli properti. Kedua properti sekarang senilai Rp.500.000.000,00. Perbedaannya adalah bahwa Investor B telah melakukan strategi yang jitu  di saat  properti mereka senilai  Rp. 1.000.000.000,00. Investor B mengikuti strategi dengan  mengajukan  hipotek pada anngka Rp. 750.000.000,00 dan menyimpan uang di bank. Mereka sekarang memiliki properti senilai Rp. 500.000.000,00 dan kredit Rp. 750.000.000,00, oleh karena itu mereka memiliki Rp.  250.000.000,00 dari ekuitas negatif! Apakah Investor B berisiko jika demikian? Ingat, mereka memiliki Rp.  750.000.000,00 di bank. Jadi apa saja yang dapat menjadi pilihan mereka?

1. Investor B bisa merasa menyesal terhadap  bank. (Anggaplah bank itu manusia juga wahahaha)  Setelah semua yang dilakukan, bank kini  menanggung  risiko. Jika hal ini terjadi Investor B dapat  membayar hipotek dan berada dalam posisi yang sama seperti Investor A, atau,

2. Mereka hanya dapat menyimpan uang di bank, atau

3. Mereka dapat menggunakan sebagian uang untuk membeli properti lebih murah dan di satu sisi tetap menyediakan payung sebelum hujan. Sekarang Investor B yang memegang kendali. Investor A yang lebih miskin  sekarang akan lebih sulit untuk mengumpulkan uang sebagaimana  bank-bank akan ragu-ragu  memberi pinjaman.  (Betul khan kalau bank itu manusia, bisa ragu-ragu kok!) Jika Investor A tak  berhasil mendapatkan dana,  dia  akan mungkin membayar lebih banyak  untuk propertinya. Selain itu, apabila  Investor A meminjam 75% dari nilai milik mereka, seperti yang telah dilakukan oleh  Investor B , Investor A akan hanya berhasil meningkatkan nilai menjadi Rp. 370.500.000,00. Jika pasar berjalan dengan acuan dari cara dan nilai properti lain dan nilai properti meningkat maka  nilai investasi yang lain akan membuka kesempatannya untuk melepaskan ekuitas yang lebih besar lagi.

Inilah kurang lebihnya hukum-hukum ekuitas dalam dunia properti di mana kini Anda tahu berbisnis properti tidak hanya masalah membangun, membeli menjual atau menyewakan saja.

 

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Pakar Investasi Apps di Android Anda.