Likuiditas Bank Tambah Gersang Akibat Fed Rate Naik

By on 29 Agustus 2014 | Artikel ini Sudah di baca 2.841 kali
usd

Bank makin agresif memburu dana nasabah. Tidak cuma memperebutkan dana di dalam negeri, bank pun makin getol mengejar dana segar ke luar negeri. Catatan Bank Indonesia (BI), perbankan telah mengajukan pinjaman bilateral sebesar US$ 6 miliar di tahun ini. Dari jumlah itu, BI sudah menyetujui pinjaman sebesar US$ 4 miliar.

Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI menuturkan, pinjaman bank ke luar negeri bakal membengkak lebih dari US$ 6 miliar di tahun 2015. Pasalnya, “Likuiditas keuangan Indonesia akan sulit di tahun mendatang jika The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga,” tambah Halim, Kamis (28/8).

Komentar senada dilontarkan Chatib Basri, Menteri Keuangan. Saat ini, pemerintah tengah menakar seberapa besar imbas negatif kenaikan bunga The Fed atau Fed rate terhadap likuiditas perbankan nasional. Kenaikan Fed rate sebesar 100 basis poin (bps) memicu kegersangan likuiditas perbankan Tanah Air, asumsi regulator.

Halim menyatakan, BI telah menyiapkan sejumlah langkah untuk untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kekeringan likuiditas. Sayangnya, BI enggan merinci. Yang pasti, proyeksi BI, pada tahun depan bank masih mampu menyalurkan kredit. Kendati begitu, otoritas mendesak perbankan agar memupuk modal lebih banyak. “Bank yang likuiditasnya ketat harus memperkuat modal,” kata Halim.

Sebagai gambaran, rasio likuiditas atau loan to deposit ratio (LDR) perbankan nasional menembus level aman 90%. Per Juni, LDR berada di level 90,25% melesat jauh dari level 86,80% di Juni tahun lalu (lihat tabel). Sementara, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di level 19,45% per Juni lalu, naik tipis dari posisi 18,13% di Juni tahun 2013.

Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, kenaikan Fed rate menjadi faktor penentu likuiditas perbankan. “Dampak kredit pasti ada, sekarang saja sudah ada perlambatan kredit menjadi 15%-16%,” kata Muliaman.

Cari Dana

Tak pelak, bank sudah memburu dana segar. Achmad Baequni, Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengatakan, BRI telah menggenjot dana pihak ketiga (DPK) sejak awal tahun ini lewat jaringan kantor dan electronic channel. BRI juga akan menerbitkan obligasi sebesar Rp 3 triliun di akhir tahun ini.

Bank Tabungan Negara (BTN) dan OCBC NISP pun akan merilis obligasi di akhir tahun. Proyeksi Perbanas, dibutuhkan likuiditas sebesar Rp 100 triliun untuk mempertahankan LDR sebesar 90% di tahun 2015.

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Pakar Investasi Apps di Android Anda.