Jangan Sampai Terpontang-Panting Demi Ingin Kredit Mobil

By on 5 Maret 2015 | Artikel ini Sudah di baca 3.357 kali

Jangan Sampai Terpontang-Panting Demi Ingin Kredit MobilPerencanaan Keuangan – Uang muka yang mungil kerap menggoda orang untuk membeli mobil secara kredit. Lihat saja cara pemasaran mobil di pusat-pusat perbelanjaan. Lembaga pembiayaan yang bekerjasama dengan perusahaan pemasar mobil tersebut tidak keberatan menerima uang muka hanya 10% dari harga mobil. Bahkan, ada pula yang berani membebaskan konsumen dari uang muka. Dengan kata lain, uang muka 0%.

Tak heran, menurut Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), sebagian besar pembelian mobil memakai fasilitas kredit kendaraan bermotor. Sebesar 70%-80% orang melakukan kredit untuk memiliki kendaraan bermotor, ungkap Wiwie Kurnia, Ketua APPI.

Masalahnya, orang kadang kurang menimbang kemampuan mereka dalam mencicil utang tersebut. Akibatnya, baru beberapa bulan berjalan, pembayaran angsuran kredit mulai tersendat-sendat, bahkan macet. Bayang-bayang bahwa mobil kesayangan bakal ditarik pun sudah di depan mata.

Bukan itu saja risikonya. Kegagalan membayar utang ke lembaga keuangan itu akan mengakibatkan nama si debitur tercatat dalam daftar hitam Sistem Informasi Debitur (SID) di Bank Indonesia. Konsekuensinya, Kalau pernah mengemplang kredit sekali, dia bisa susah kalau mencoba mencari kredit lain, seperti kredit pemilikan rumah atau KPR, ujar Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansia Consulting. Nah, kalau sudah begini, celaka tiga belas, bukan?

Namun, ada benarnya pemeo yang mengatakan, dalam setiap kemalangan, selalu ada peluang. Potensi kredit macet tersebut rupanya dimanfaatkan sejumlah lembaga pembiayaan untuk menawarkan fasilitas refinancing. Maksudnya, mereka menawarkan utang baru untuk menutup utang yang macet.

Jika membuka lembaran koran atau mengklik internet, penawaran semacam itu sangat jamak. Penyedia jasanya bisa perusahaan pembiayaan (multifinance), bisa pula perorangan. Bisa juga, pihak yang merupakan kepanjangan tangan dari multifinance, ujar Wiwie.

Sayang, kebanyakan perusahaan pembiayaan besar ogah blak-blakan soal praktik itu. Yang jelas, masyarakat kita sepertinya tak menabukan aksi ini. Sering juga, perusahaan multifinance yang meminta kami melakukan refinancing, ketika kredit nasabahnya mulai macet, ujar seorang tenaga pemasar jasa refinancing.

Memang, langkah ini terkesan gali lubang tutup lubang. Namun, langkah itu setidaknya bisa memberi napas bagi si debitur agar bisa melunasi kreditnya. Sebab, nasabah biasanya mendapatkan periode yang lebih panjang untuk melunasi utangnya. Biasanya, bisa sampai tiga tahun. Dengan demikian, nominal cicilan terkadang juga bisa lebih kecil ketimbang angsuran utang yang sebelumnya. Dengan angsuran yang lebih ringan, kondisi keuangan debitur lebih longgar, tutur Eko.

Keuntungan lain, dengan melunasi utang tersebut dan mengambil kredit baru di tempat lain, untuk sementara waktu, nasabah akan terbebas dari ancaman masuk daftar hitam SID. Sebab, jika ia mendapat pinjaman baru dari lembaga keuangan lainnya, pada akhirnya, ia juga dituntut untuk bisa melunasi utang ini.

Satu keuntungan lagi, debitur bisa mendapat tambahan pinjaman dana segar. Sebab, di tempat baru, si debitur bisa mendapatkan pinjaman senilai 80% dari harga pasaran mobilnya. Padahal, kredit yang tersisa di tempat lama mungkin tak sampai 80% dari harga mobil itu. Jadi, si debitur masih bisa mengantongi dana yang tersisa.

Namun, mekanismenya, plafon yang berhak ia terima dipotong dulu untuk biaya asuransi dan angsuran pertama. Setelah itu, plafon dipakai untuk menutup kredit di perusahaan pembiayaan semula. Barulah, dana yang tersisa masuk kantong si debitur. Tentu saja, dana tersebut baru bisa cair setelah penyedia jasa refinancing berhasil menggenggam Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) sebagai jaminan kredit. Itu pun, tidak semua dana langsung bisa mengucur.

Andi, seorang tenaga marketing di perusahaan dealer mobil di Tangerang, menceritakan, menurut aturan main di perusahaannya, dana baru bisa cair 10% dari plafon pada hari pertama BPKB diterima perusahaannya. Baru tiga hari kemudian, setelah semua urusan beres, nasabah bisa menerima seluruh dana yang tersisa. Sisa dari uang yang digunakan untuk melunasi utang itu bisa digunakan untuk keperluan lain atau modal usaha, bujuk Andi.

Total beban lebih besar

Namun, sebaiknya, Anda jangan cuma melihat sisi manisnya. Nasabah atawa debitur perlu pula menimbang faktor minus dari aksi refinancing tersebut.

Biasanya perusahaan yang menawarkan refinancing bukanlah perusahaan pembiayaan besar atau ternama. Karena itu, mereka lazim mematok tingkat bunga lebih tinggi ketimbang multifinance ternama. Semakin pajang tenor kredit, semakin tinggi bunganya, ujar Eko.

Andi mengakui perusahaannya memasang bunga flat sekitar 12% per tahun. Padahal, kini bunga kredit mobil di multifinance besar jauh lebih rendah, yakni flat sekitar 4,65%-7,5% per tahun. Namun, tawaran bunga tersebut memang masih lebih rendah jika dibandingkan dengan bunga kredit mobil sekitar dua tahun silam, saat BI rate atau bunga acuan masih berada di 9,5% (efektif).

Biar lebih jelas, mari kita ambil contoh. Pada 15 Oktober 2010, Anda mengambil kredit mobil senilai Rp 300 juta dengan tenor 3 tahun dan bunga flat 14% per tahun. Kini, Anda ingin melakukan refinancing utang Anda. Di tempat baru, sisa kredit Anda sebesar Rp 100 juta mendapat tenor 3 tahun lagi dengan bunga flat 12%.

Jika tidak melakukan refinancing, Anda harus mengangsur sebesar Rp 11.583.333 per bulan. Tapi setelah refinancing, cicilan Anda hanya Rp 9.333.333 per bulan. Namun, jika hanya menghitung bunga yang harus Anda bayar selama setahun terakhir itu, tanpa refinancing nilainya Rp 42 juta. Adapun, dengan refinancing, bunga selama tiga tahun yang harus Anda bayar sebesar Rp 36 juta.

Namun, ingat, hitungan tersebut belum memasukkan denda dari perusahaan pembiayaan lama, biaya asuransi dan komisi yang mesti Anda bayar kepada agen yang menguruskan pelunasan utang di tempat lama tersebut. Sebagai contoh, Andi terus terang mengaku, dirinya mengutip komisi sebesar 5% dari sisa nilai kredit yang belum lunas di tempat lama. Artinya, jika nilai utang Anda yang masih tersisa di lembaga pembiayaan lama sebesar Rp 100 juta, maka Anda harus membayar komisi pengurusan utang ini sebesar Rp 5 juta.

Jadi, ujung-ujungnya, Anda harus membayar beban yang lebih besar. Makanya, sebaiknya, nasabah hanya memanfaatkan fasilitas ini seperlunya, sesuai dengan nilai kredit yang mesti dilunasi di tempat lama. Jangan tergiur mengambil dana segar dari plafon yang tersisa.

Daripada memindahkan kredit ke tempat baru, Eko menyarankan, sebaiknya, debitur mengupayakan dulu kelonggaran pembayaran alias restrukturisasi di tempat awal ia mendapat pembiayaan mobilnya. Biasanya, bunganya tidak akan kelewat tinggi.

Meski tidak terang-terangan memasang iklan, ada juga perusahaan pembiayaan yang mau melakukan restrukturisasi internal. Maklum, mereka juga tidak mau repot-repot menarik mobil dari nasabahnya. Sebab, menjualnya kembali juga bukan perkara mudah. Tapi, tidak banyak yang melakukan ini, ujar Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra Credit Company (ACC).

Djony juga menolak menjelaskan skema restrukturisasi utang di ACC, dengan alasan manajemen akan merombak layanan ini. Tapi, menurut keterangan seorang tenaga marketing ACC, perusahaannya bisa melakukan restrukturisasi bagi debitur yang masih berniat baik melunasi kreditnya. Waktu pelunasan bisa diperpanjang sampai tiga tahun. Bunga yang dikenakan maksimal hanya 10% (flat) per tahun, katanya.

Tapi, mau refinancing di tempat baru atau lama, kunci terpenting tetap harus Anda pegang, yakni total angsuran utang tidak lebih dari 30% penghasilan Anda.

 

Sumber: KONTAN