Jangan Boros, Belanja Sewajarnya

By on 5 Maret 2015 | Artikel ini Sudah di baca 3.179 kali

Jangan Boros, Belanja Sewajarnya, Jangan KhilafPerencanaan Keuangan – Uang hasil jerih payah bekerja pada akhirnya memang digunakan untuk berbelanja. Tapi, jika salah memanfaatkannya, bisa-bisa kita pusing tujuh keliling.

Kita memang harus benar-benar teliti menggunakan uang, baik untuk membeli barang atau membayar jasa. “Setiap orang harus bisa mengukur kebutuhannya sendiri,” kata Risza Bambang, perencana keuangan dari Shildt Financial Planning.

Menurut Bambang, mengukur kebutuhan belanja mutlak dilakukan agar kita tidak terjebak pada sebuah keinginan dan nafsu belanja semata. Jadi, berbelanjalah sesuatu yang memang menjadi kebutuhan kita.

Karena itu, sebelum memanfaatkan uang, kita harus menentukan apa saja kebutuhan kita pada saat itu. Kita juga harus menyusun daftar kebutuhan sesuai skala prioritas.

Setelah menyusun daftar kebutuhan, kita harus menyusun money tracking alias catatan arus keluar masuk keuangan. Cara ini bertujuan untuk mengukur kemampuan keuangan kita sebelum menghabiskannya. “Kalau kita tidak disiplin menyusun money tracking, keuangan kita berisiko menjadi lebih besar pasak daripada tiang,” cetus Bambang.

Nah, setelah itu kita harus memastikan bahwa barang-barang tersebut benar-benar kebutuhan kita, atau sekadar keinginan belaka . “Cara mengukurnya, kalau barang atau aset yang kita beli minimal bisa menghasilkan aset lagi, artinya, aset itu adalah kebutuhan,” terang Bambang.

Umumnya, perangsang berbelanja adalah iming-iming harga murah atau sedang ada program promosi. Jika kita memang membutuhkan barang tersebut dan ada dana cukup, silakan saja membelinya. Tapi, kalau hanya mengejar murah, padahal di rumah sudah memiliki banyak barang serupa, jangan sekali-kali membelinya.

Taruh kata kita sedang membutuhkan suatu barang, jangan pernah ragu membandingkan harga dari satu gerai dengan gerai lain. Dengan nilai manfaat yang sama tapi dengan biaya lebih murah, berarti kita sudah menghemat duit.

Manfaat ganda

Kendati mendapati program diskon harga barang kebutuhan kita, kita pun jangan terburu membelinya. Mungkin kita sudah merencanakan lama untuk membeli produk itu, tapi jika tak masuk anggaran bulanan, jangan memaksa membelinya. Sebab, jika harganya mahal dan di luar bujet bulanan kita, sudah pasti bakal mengganggu kas bulanan.

Akan lebih baik lagi apabila kita membeli barang konsumtif yang sekaligus bisa sebagai sarana investasi. Ambil contoh, kita membeli mobil dengan fasilitas cicilan dan memanfaatkannya sebagai usaha rental kendaraan. Upaya ini bisa menghasilkan uang, sehingga cicilan bulanan tidak memberatkan keuangan kita. “Artinya, kita belanja konsumtif untuk investasi,” tandas Bambang.

Prinsip serupa bisa kita terapkan pada saat membeli rumah dengan fasilitas kredit. Jika tidak benar-benar terdesak menempati rumah tersebut, kita bisa menyewakan atau mengontrakkannya kepada orang lain, sehingga uang sewa itu bisa dimanfaatkan untuk membayar cicilan rumah. “Tapi, kita memang perlu mempertimbangkan lokasi yang strategis agar mendapatkan uang sewa tinggi,” kata Bambang.

Mike Rini, perencana keuangan dari Mike Rini and Associates, membagi kebutuhan belanja menjadi dua kategori. Pertama, kebutuhan sehari-hari seperti belanja bahan pokok. Kedua, kebutuhan besar yang frekuensi pembeliannya jarang tapi nilainya besar.

Sebelum berbelanja kebutuhan sehari-hari, kita harus menyesuaikannya dengan jumlah kebutuhan seluruh anggota keluarga. “Jangan berbelanja kebutuhan sehari-hari melebihi konsumsi, karena bahan pokok bisa rusak jika disimpan terlalu lama,” terang Mike.

Kita juga harus memperhitungkan masa pakai suatu barang sebelum membeli barang elektronik atau mobil. Jadi, tidak tepat seandainya kita membeli barang elektronik hanya karena sedang ada program diskon atau karena barang itu model terbaru.

Mike juga mengritik cara kebanyakan orang membeli sandang atau pakaian. Menurutnya, belanja pakaian sebenarnya cukup tiga sampai enam bulan sekali, sehingga tidak membeli pakaian sebulan sekali.

Nyatanya, banyak yang membeli baju baru setiap bulan sekali. “Selama masih layak pakai dan tidak ketinggalan mode, kita tidak perlu membeli pakaian baru,” kata Mike.