Instrumen Pajak Dalam Jual Beli Tanah

By on 17 Juli 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2.067 kali
Tanah

Instrumen Pajak Dalam Jual Beli Tanah

Investasi Properti – Ketika melakukan jual beli bangunan dan tanah, baik itu seorang penjual ataupun pembeli pasti akan dikenakan yang namanya pajak. Seorang penjual akan dibebankan untuk membayar PPh (pajak penghasilan) dari pembayaran tanah yang mereka terima. Sementara untuk seorang pembeli maka juga akan dibebankan biaya BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan) dari tanah yang didapat. Lantas apakah anda sudah tahu mengenai cara perhitungannya?

Dalam melakukan pembayaran BPHTB yang dibebankan untuk si pembeli, sebenarnya yang menjadi dasar dikenakannya BPHTB ini yaitu NPOP atau Nilai Perolehan Objek Pajak. NPOP ini di dalam jual beli tanah berperan sebagai harga transaksi. Hal ini jelas sangat berbeda apabila misalkan yang terjadi adalah tukar menukar atau hibah maupun warisan yang pada dasarnya menggunakan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak).

NPOP atau harga suatu transaksi dapat menjadi lebih besar dan juga bisa menjadi lebih kecil dari NJOP, namun hal itu tergantung dari kesepakatan kedua belah pihak antara seorang pembeli dan juga penjual. Kadang kala, suatu harga transaksi itu dapat pula nilainya sama dengan NJOP.

Akan tetapi, saat harga transaksi itu menjadi lebih kecil daripada nilai NJOP, lantas yang akan dijadikan sebagai dasar untuk menentukan NPOP yaitu nilai NJOP. Hal ini juga berlaku sebaliknya apabila harga transaksi itu menjadi lebih besar daripada nilai NJOP, lantas untuk menentukan nilai NPOP itu dengan melihat harga dari transaksi itu sendiri, dimana nilainya yang paling tinggi antara NJOP dan NPOP.

NPOPTKP

Selain NJOP dan NPOP, ada pula faktor lain yang perlu untuk anda perhatikan ketika menentukan besarnya nilai dari BPHTB yaitu NPOPTKP atau Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak. NPOPTKP ini merupakan nilai dari pengurangan NPOP saat sebelum kena pajak BPHTB.

Misalnya, Apabila harga suatu transaksi sebuah tanah adalah 100 juta, maka harga tersebut sebelumnya akan dikenakan tarif dari BPHTB sebesar 5%, namun terlebih dulu dari harga itu akan dikurangi tarif NPOPTKP. Jadi contohnya, dengan dikuranginya NOPOTKP sebesar 80 juta untuk kawasan DKI. Maka hal seperti itu dapat membuat nilai dari pajak pembeli akan lebih sedikit ketimbang nilai dari pajak penjual, sebab seorang penjual tidak akan dibebankan NPOPTKP.

Contoh untuk melakukan perhitungan BPHTB

Pastinya masing-masing wilayah mempunyai ketetapan NPOPTKP yang tidak sama, hal ini tergantung dari peraturan pada wilayah tersebut. Misalnya untuk wilayah DKI, menetapkan NPOPTKP sebesar 80 juta untuk melakukan jual beli tanah sedangkan untuk memperoleh hak dari hibah ataupun warisan sebesar 350 juta.

Jadi, misal anda melakukan pembelian tanah dari si A dengan harga jual beli 200 juta, maka perhitungan pajak pembeli dan penjual adalah :

  • Pajak Seorang Pembeli (BPHTN)
  • NPOP sebesar 200 juta
  • NPOPTKP sebesar 80 juta
  • NPOP yang kena pajak sebesar 120 juta
  • BPHTB sebesar 5% x 200 juta = 6 juta
  • Pajak Seorang Penjual (PPh)
  • NPOP sebesar 200 juta
  • NPOP yang kena pajak sebesar 120 juta
  • PPh sebesar 5% x 200 juta = 10 juta

Perlu untuk anda ketahui, dikenakannya BPHTB tidak hanya ketika terjadi transaksi jual beli tanah saja, namun juga di setiap memperoleh hak atas bangunan dan tanah juga. Selain itu tukar menukar, warisan, hibah dan sebagainya juga termasuk didalamnya. Ketika melakukan jual beli tanah, subjek pajak BPHTB nya yaitu individu atau pihak yang memiliki hak atas bangunan dan tanah tersebut, yaitu si pembeli.