Hendak Mendapatkan Proteksi, Kok Malah Repot Trading?

By on 3 Juli 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.343 kali

Strategi perusahaan asuransi menawarkan produk unitlink semakin beragam. Di pasar kini tengah gencar penawaran produk unitlink dari Generali dengan kelengkapan fitur investasi yang diklaim canggih. Unitlink akhirnya lebih dilihat sebagai instrumen investasi ketimbang produk asuransi.

Meski banyak kalangan perencana keuangan yang mengkritisi, produk asuransi unitlink tetap eksis di pasar asuransi Tanah Air. Perusahaan asuransi tak jemu menelurkan inovasi unitlink baru untuk menggaet nasabah.

Perusahaan asuransi joint venture asal Italia, PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia, termasuk yang gencar menggarap pasar unitlink. Sejak beberapa waktu lalu, Generali aktif menawarkan unitlink dengan sistem panduan investasi Auto Risk Management System (ARMS).

Edy Tuhirman, Presiden Direktur Generali Indonesia, menuturkan, “ARMS adalah keunggulan produk unitlink besutan Generali. Ibarat mobil, keberadaan fitur ARMS dalam produk unitlink kami menjadi rem dan gas agar investasi nasabah bisa optimal,” jelas dia beberapa waktu lalu.

Edy mengklaim, sistem seperti itu baru pertama kali ada di Indonesia untuk produk unitlink. Semua produk unitlink Generali, seperti iPlan, Generali Flexi Optima, iDare, UB Pro Plus, maupun Provesta Premium, sudah dilengkapi dengan fitur ARMS. Fitur ARMS tidak terbatas diberikan kepada pemegang polis dengan premi mahal. Premi Rp 300.000 per bulan, kata Edy, sudah bisa menikmati fitur tersebut.

Generali berkepentingan agar dana investasi nasabah mereka tetap ada karena dari dana investasi itulah proteksi untuk nasabah dibiayai. “Jangan sampai karena investasinya tidak punya rem dan gas, dana nasabah jeblok dan tak bisa bayar premi lagi sehingga malah proteksi terhenti,” kata Eddy.

Produk unitlink memang produk hibrida yang menawarkan dua manfaat sekaligus, yaitu asuransi (proteksi) dan investasi. Pembayaran premi dibagi di dua keranjang, yaitu untuk proteksi dan investasi.

Periode pembayaran premi unitlink biasanya hanya 10 tahun dengan proteksi hingga usia 99 tahun. Selanjutnya, biaya proteksi akan diambil dari hasil investasi nasabah di unitlink tersebut. Jika hasil investasi mencukupi, nasabah tak perlu membayar premi lagi. Sebaliknya, kalau hasil investasi tidak cukup, nasabah berisiko diminta membayar premi lagi.

Lantas, seperti apa sebenarnya keistimewaan fitur ARMS dalam produk unitlink Generali? Mengutip contoh ilustrasi unitlink iPlan Generali, ada empat fitur dalam ARMS.

Pertama, fitur auto balancing. Fitur itu memungkinkan dana investasi nasabah diseimbangkan otomatis sesuai keinginan nasabah. Sebagai contoh, nasabah memilih investasinya dibagi 20% ke instrumen pendapatan tetap dan 80% ke pasar saham.

Namun, saat pasar saham memburuk (indeks turun ke level tertentu yang dipatok oleh nasabah), porsinya bisa menjadi 50% di saham dan 50% di fixed income. Kelak saat pasar saham membaik (indeks naik sesuai patokan yang dipilih nasabah), komposisinya bisa kembali lagi ke semula.

Kedua, fitur auto trading. Nasabah bisa menyetel fitur profit climbing di level 1% atau lebih. Saat dana investasi masuk di instrumen yang telah dipilih dan mencetak keuntungan 1%, keuntungan itu akan otomatis direalisasikan dan dialihkan ke instrumen pasar uang.

Ada pula fitur cutloss yang bisa diatur nasabah sesuai profil risiko dia. Misal, memasang cutloss 5%, sehingga setiap terjadi penurunan harga saham 5% maka sistem otomatis mengalihkan dana investasi Anda ke pasar uang untuk sementara.

Ketiga, fitur auto re-entry. Fitur ini aktif setelah terjadi cutloss. Semisal, terjadi cutloss dan investasi Anda sudah dialihkan sementara ke pasar uang, selanjutnya saat pasar saham turun lagi, taruh kata sekitar 3%, dana Anda akan kembali dimasukkan ke saham. “Sehingga, nasabah bisa membeli unit di harga lebih murah karena pasar sedang turun,” jelas Ardi, seorang agen Generali.

Terakhir, fitur bounce back. Fitur ini otomatis mengalihkan dana nasabah kembali ke pasar saham dalam tempo 21 hari setelah cutloss, meskipun indeks bursa saham belum turun dalam periode tersebut. Dus, ada risiko nasabah membeli unit dengan harga lebih mahal karena masuk saat pasar tengah naik.

Nasabah unitlink Generali bisa mengubah sendiri setelan investasi mereka melalui akun iService yang tersedia di website Generali. Edy mengklaim, keberadaan ARMS di unitlink Generali membuat kinerja unitlink menjadi lebih baik.

Nasabah harus cerdas

Di mata perencana keuangan, fitur pengaturan investasi yang diunggulkan oleh unitlink Generali malah mengaburkan jati diri produk tersebut. “Ini, kan, produk asuransi, untuk apa malah berfokus pada pengaturan investasi ?” cetus Freddy Pieloor, perencana keuangan dari MoneynLove Financial Consulting.

Dari sisi konsep, menurut Freddy, produk unitlink sejatinya sudah keliru. Penggabungan dua fungsi sekaligus dalam satu produk malah melahirkan produk dengan biaya tinggi yang harus ditebus nasabah. Sedang manfaatnya sering tak sebanding dengan itu.

Jika memang Anda tertarik berinvestasi dengan kelengkapan sistem trading demi mengantongi target cuan maksimal, ada baiknya langsung masuk sendiri ke pasar utama. Misal, trading saham di pasar saham atau berinvestasi di reksadana. “Tidak perlu lewat unitlink,” tandas dia.

Lisa Soemarto, perencana keuangan AFC Financial, menambahkan, prinsip terpenting sebelum membeli produk di pasar keuangan adalah mengetahui kebutuhan dan tujuan keuangan. Jika memang butuh asuransi, belilah produk asuransi.

Tapi, jika ingin berinvestasi dengan fitur trading lengkap, pilihan tepat tentu masuk ke produk investasi alih-alih ke produk asuransi. “Nasabah harus lebih cerdas memutuskan apakah suatu produk layak dia beli atau tidak, jangan manggut-manggut saja saat dirayu oleh agen penjual,” jelas dia.

Dengan begitu, tidak perlu ada penyesalan esok hari.

 

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Pakar Investasi Apps di Android Anda.

 

Sumber : KONTAN.co.id