Cara Membeli Obligasi

By on 23 September 2014 | Artikel ini Sudah di baca 4.719 kali

Berinvestasi di obligasi ternyata tak semudah teorinya. Sebab, saat ini, para broker atau pialang hanya bersedia melayani transaksi obligasi dengan nilai minimal Rp 1 miliar. Jadi, untuk bisa berinvestasi di obligasi secara langsung, investor harus menyediakan dana yang besar.

Buat sebagian orang, memahami seluk-beluk obligasi memang lebih rumit jika dibandingkan memahami saham. Dan, asal tahu saja, untuk benar-benar bisa berinvestasi di obligasi pun tak kalah rumitnya. Bukan, menakut-nakuti, lo. Tapi, memang demikianlah adanya.

Mirip dengan transaksi saham, investor mesti membeli obligasi melalui pialang atau broker. Tapi, tak sembarangan orang bisa membeli obligasi, baik obligasi swasta maupun Surat Utang Negara (SUN). Betul, obligasi perusahaan biasanya diterbitkan dalam pecahan Rp 1 juta. Namun, coba Anda datang ke perusahaan broker atau pialang dan minta untuk dibelikan obligasi Rp 1 juta. Pasti, mereka tak akan melayaninya.

Pasalnya, perusahaan pialang atau broker biasanya hanya mau melayani transaksi obligasi dengan nilai minimal tertentu. Menurut seorang analis obligasi, saat ini, mereka umumnya hanya mau melayani transaksi obligasi minimal Rp 1 miliar.

Alasannya sederhana saja. Broker atau pialang itu memperoleh pendapatan dari fee transaksi obligasi tersebut. Artinya, semakin tinggi nilai transaksi obligasinya, semakin tinggi pula pendapatan yang bisa diperoleh para broker. Sementara, jika transaksinya terlalu kecil, fee transaksi itu tak akan cukup untuk menutup biaya-biaya operasional para broker.

Jadi, harap maklum, jika ingin berinvestasi secara langsung di SUN atau obligasi swasta, Anda harus menyediakan dana minimal Rp 1 miliar. Tentu saja, agar keuntungannya lebih maksimal dan bisa aktif bertransaksi, seorang investor harus memiliki dana lebih dari angka itu.

Modal awal segitu jelas jauh lebih besar jika dibandingkan dengan modal awal untuk bermain saham yang paling-paling hanya Rp 25 juta atau Rp 50 juta. Oleh karena itu, tak perlu heran jika, saat ini, sebagian investor obligasi adalah institusi.

Kita sudah mempelajari satu syarat penting bagi pemodal untuk bisa berinvestasi di pasar obligasi, khususnya Surat Utang Negara (SUN). Yaitu, modalnya tidak boleh kurang dari Rp 1 miliar. Walau begitu, sejak 1 Mei 2007 lalu, pemerintah punya solusi buat para pemodal ritel. Mereka boleh bertransaksi SUN melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan modal cukup Rp 5 juta saja.

Transaksi SUN melalui bursa memang suatu terobosan baru dari pemerintah bekerjasama dengan BEI. Karena biasanya ditransaksikan dalam volume besar, SUN menjadi instrumen investasi yang diperdagangkan di luar bursa atau over the counter (OTC). Sayangnya, hingga kini transaksi SUN via bursa masih sepi peminat.

Syarat bagi investor untuk ikut berdagang SUN melalui BEI sesungguhnya sangat mudah. Seperti perdagangan saham, ia hanya perlu membuka rekening di broker yang melayani perdagangan obligasi. Tapi, broker itu harus merupakan anggota bursa (AB) di BEI.

Setelah itu, investor bersangkutan tinggal menyuruh broker itu untuk melakukan jual-beli SUN yang diinginkannya. Nilai satuan perdagangan per lotnya adalah Rp 5 juta. Adapun waktu penyelesaian pembayarannya (settlement) t+2 atau dua hari setelah transaksi terjadi.

Layaknya transaksi bursa, investor juga terkena biaya yang berbeda untuk tiap nilai transaksi. Jika nilai nominal transaksinya maksimal Rp 500 juta, biaya yang dikenakan adalah Rp 20.000 per transaksi. Sementara untuk nilai transaksi Rp 500 juta-Rp 10 miliar dan di atas Rp 10 miliar, biayanya masing-masing adalah 0,005% dan 0,00375% dari nilai transaksi (per transaksi).

Selain itu, ada biaya dana jaminan dan jasa broker. Biaya jaminan sama untuk semua nilai transaksi, yaitu 0,00125% dari nilai transaksi. Sementara, biaya jasa broker adalah antara 0,25%-1% untuk nilai nominal sampai Rp 500 juta.

Untuk transaksi Rp 500 juta-Rp 10 miliar dan di atas Rp 10 miliar, biaya brokernya masing-masing 0,15%-1% dan 0,10%-1%.

Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI) bisa menjadi alternatif buat investor yang ingin mencicipi hasil investasi di obligasi. Selama ini, ORI selalu menawarkan bunga di atas bunga deposito perbankan. ORI 2, misalnya, memberikan bunga 9,28% per tahun. Selain itu, layaknya obligasi lainnya, kenaikan harga ORI di pasar sekunder juga bisa menguntungkan investor.

Karena itu, nilai nominal pecahan ORI juga relatif kecil, yakni Rp 5 juta. Selain itu, pemerintah juga membatasi nilai maksimal pembeliannya yaitu Rp 5 miliar.

Nah, ORI bisa menjadi alternatif bagi investor bermodal cekak yang ingin berinvestasi di obligasi, terutama obligasi terbitan pemerintah. Tapi, jika ingin membeli ORI, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh investor.

Pertama, pemerintah memiliki jadwal sendiri dalam menerbitkan ORI. Ia sudah menerbitkan ORI 1 sd. ORI 11. Mungkin ke depannya akan ada ORI 12.

Nah, sebelum menerbitkan ORI itu, pemerintah biasanya akan membuka masa penawaran untuk menampung permintaan investor. Pada saat itulah, investor harus memasukkan pesanan ORI-nya.

Biasanya, sebelum menerbitkan ORI, pemerintah akan mengumumkan institusi-institusi yang telah ditunjuk untuk menjadi agen penjual ORI. Institusi itu bisa berupa bank atau perusahaan sekuritas.

Nah, investor harus memasukkan pesanan ORI-nya melalui agen-agen penjual itu. Syaratnya, umumnya, investor hanya diminta menyerahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Setelah masa penawaran selesai, pemerintah akan melakukan penjatahan ORI. Selanjutnya, investor harus menyetorkan dana pembelian ORI tersebut kepada agen penjual. Jika seluruh proses telah selesai, tentu, investor akan menerima bukti kepemilikan ORI-nya.

Keuntungan utama investasi ORI adalah bunga. Dan, selama ini pemerintah selalu menawarkan bunga ORI di atas bunga deposito perbankan. Sebagai contoh, ORI 2 yang diterbitkan pada bulan Maret 2007 lalu menawarkan bunga sebesar 9,28% per tahun.

Selain itu, investor juga bisa memperoleh keuntungan dari kenaikan harga atau capital gain ORI. Sebab, ORI juga bisa diperjualbelikan di BEI.

Selain berinvestasi di obligasi pemerintah, ORI, atau obligasi swasta secara langsung; investor juga bisa berinvestasi di obligasi melalui produk reksadana pendapatan tetap. Enaknya, investor bisa mulai berinvestasi dengan modal awal yang minim, paling hanya Rp 5 juta. Selain itu, investor juga tak harus pusing memelototi pergerakan harga obligasi setiap hari. Sebab, sudah ada manajer investasi (MI) yang akan mengelola dana reksadana tersebut.

Jika Anda ingin mencicipi hasil investasi di obligasi dengan cara yang paling mudah dan modal paling minim, Anda bisa membeli reksadana pendapatan tetap. Ini adalah salah satu jenis reksadana yang menginvestasikan sebagian besar dana investor di dalam instrumen obligasi. Karena itu, ia juga biasa disebut sebagai reksadana obligasi.

Cara untuk membeli reksadana obligasi ini sangat gampang. Anda tinggal menghubungi perusahaan-perusahaan manajer investasi (MI) yang memiliki produk reksadana pendapatan tetap. Namun, saat ini sebagian manajer investasi hanya menjual reksadananya melalui agen-agen penjual reksadana. Agen ini umumnya berupa bank.

Enaknya, untuk membeli reksadana pendapatan tetap ini Anda tak perlu menyetorkan investasi awal puluhan juta atau bahkan miliaran rupiah. Beberapa agen penjual reksadana akan senang hati melayani Anda meskipun Anda hanya menyetorkan investasi awal sebesar Rp 5 juta.

Anda juga bebas memilih, reksadana obligasi macam apa yang sesuai dengan profil risiko Anda. Jika Anda termasuk berani menanggung risiko, mungkin Anda bisa membeli reksadana obligasi yang berinvestasi di obligasi swasta.

Sementara, jika Anda cenderung menghindari risiko, Anda bisa membeli reksadana pendapatan tetap yang berinvestasi di obligasi pemerintah.

Investor reksadana obligasi juga akan menikmati keuntungan dari bunga dan kenaikan harga obligasi.

Keuntungan itu tercermin dalam peningkatan nilai aktiva bersih (NAB) unit penyertaan reksadananya.

Cuma, sebagai pengelola, manajer investasi biasanya akan memungut fee pengelolaan. Meski kecil, fee ini mengurangi keuntungan investor. ūüôā

Tertarik?