Belajar Reksadana: Apa Untungnya Reksadana dari Menabung secara Tradisional atau Langsung Membeli Saham Sendiri?

By on 24 Januari 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.550 kali
Celengan Emas

Belajar Reksadana: Apa Untungnya Reksadana dari Menabung secara Tradisional atau Langsung Membeli Saham Sendiri?

Investasi Reksadana – Belakangan ini, sudah lumayan banyak masyarakat Indonesia yang memiliki mindset seorang investor. Hal ini tentu saja karena didorong oleh kebutuhan hidup yang semakin lama semakin mahal. Sudah banyak orang yang meninggalkan kebiasaan menabung secara tradisional dan beralih berinvestasi. Inflasi yang terus naik inilah yang menjadi alasannya. Terkadang, inflasi yang terjadi tingkatannya lebih besar daripada tingkat bunga yang diberikan bank ketika Anda menabung. Istilah bijak “Menabung pangkal kaya” rasanya terdengar klise ketika melihat keadaan akhir-akhir ini.

Benar jika Anda mencoba untuk berinvestasi. Namun, investasi apa yang harus Anda coba? Banyak pilihan investasi yang semakin bervariasi. Reksadana merupakan salah satu instrumen investasi yang sudah banyak memiliki peminat. Sedangkan investasi saham sering dikatakan sebagai investasi yang paling menguntungkan namun juga beresiko tinggi. Inilah yang membawa kita ke pertanyaan: “Apa untungnya reksadana dari menabung secara tradisional atau langsung membeli saham sendiri?”.

Reksadana VS Tabungan

Tabungan jangka panjang dan Reksadnaa seringkali dibanding-bandingkan. Sebagian orang masih mengira jika uang mereka akan “selamat” dalam tabungan jangka panjang. Reksadana dan menabung secara tradisional memang dua hal yang berbeda dan tidak bisa dibandingkan secara “apple to apple”. Namun ketika membahas keunggulan Reksadana daripada tabungan tradisional, tentu banyak sekali. Reksadana merupakan produk investasi yang bisa melawan laju inflasi dan tentunya memberikan hasil yang jauh lebih besar daripada tabungan. Reksadana bisa dilakukan dalam rentang waktu pendek maupun panjang, sesuai dengan jenis Reksadana yang Anda pilih. Berbeda dengan tabungan, yang mungkin bisa “mengamankan” kekayaan Anda untuk jangka waktu pendek. Jika tabungan bersifat “mengamankan”, dapat dikatakan jika reksadana bersifat “menumbuhkan”. Namun, perlu digaris bawahi jika investasi Reksadana bukanlah sesuatu hal yang wajib dilakukan.

Reksadana VS Investasi Saham

Lalu, bagaimana dengan Reksadana dan saham? Sudah jelas jika ini adalah dua produk yang sama-sama berupa investasi. Perlu dilakukan sedikit analisa di beberapa segi untuk menemukan keunggulan Reksadana dibanding saham. Mulai dari segi modal, Reksadana cenderung lebih unggul. Modal yang dikeluarkan untuk membeli saham katakanlah sekitar Rp 30 – 40 juta. Sedangkan Anda hanya memerlukan modal minimal Rp. 500 ribu sampai 1 juta untuk investasi Reksadana. Belum lagi resiko Reksadana yang lebih rendah dibanding dengan investasi saham.

Demikianlah jawaban atas pertanyaan “Apa untungnya Reksadana dari menabung secara tradisional atau langsung membeli saham sendiri?”. Keunggulan-keunggulan diatas memang benar adanya, namun tidak lantas menjadikan Reksadana sebagai instrumen investasi yang paling baik. Banyak investor yang mencoba untuk melakukan diversifikasi atau menanamkan modalnya di beberapa instrumen investasi. Tapi jangan sembarang diversifikasi juga. Jika memang tidak menguntungkan sebaiknya Anda tinggalkan saja. Baik buruknya Reksadana, tabungan, dan saham memang tergantung pemahaman kita mengenai ketiga produk tersebut. Semoga bermanfaat.