Apakah Toko Online Bangkrut Bisa Sukses Kembali??

By on 9 Desember 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.994 kali
Bangkrut

Start-Up Bisnis – Kegagalan adalah sesuatu yang tertunda. Pepatah ini diyakini sebagai sesuatu yang benar oleh banyak orang. Pasalnya, kegagalan berbisnis seringkali dibarengi oleh sejumlah kerugian yang harus ditanggung oleh pemilik bisnis. Pemilik toko online termasuk ke dalam pihak yang harus menanggung kerugian seandainya toko online-nya tidak mendapatkan “tempat” di bisnis dunia maya. Tidak hanya merugi, ancaman kebangkrutan pastinya akan membayangi penjual serta toko online-nya. Apakah Toko Online Bangkrut Bisa Sukses Kembali??

Dalam buku berjudul 36 Rahasia Sukses Merek-merek Top karya Ari Satriyo Wibowo, perusahaan elektronik Sharp disebut sebagai contoh usaha yang berhasil merebut kembali kepemimpinan pasar setelah bangkrut. Sharp yang terkenal sebagai juara di bidang produk elektronik sejak tahun 1968 di Indonesia dikalahkan oleh merek-merek lain seperti Sony, Sanyo, dan National. Kepemimpinan pasar yang diemban Sharp pun “direbut” oleh merek-merek tersebut. Sharp tidak lagi menjadi juara di bidang elektronik sebab merek-merek baru mengeluarkan produk yang lebih modern dan canggih.

Tidak ingin berlama-lama hanyut dalam kekalahan, Sharp mengubah strategi pemasarannya. Sharp mengekspor produknya ke negara-negara ASEAN, Srilanka, dan Nigeria. Sharp bangkit dengan menghadirkan produk-produk televisi dan juga audio sehingga pangsa pasarnya meluas. Terbukti, strategi pemasaran baru yang terapkan Sharp mampu mensejajarkan posisinya kembali dengan merek-merek besar lainnya.

Apa relevansi bangkitnya Sharp terhadap bisnis online? Jika muncul pertanyaan, mungkinkah toko online yang telah bangkrut kembali menjadi sukses? Jawabannya adalah mungkin. Masa depan bisnis–termasuk bisnis online–bukanlah sesuatu yang bisa diprediksi secara pasti. Pemilik toko online mungkin saja merasa bahwa angka penjualannya sangat baik pada hari-hari tertentu. Ia merasa bahwa toko online-nya merajai bidang bisnis yang digelutinya, sama seperti Sharp. Namun, terlalu puas dengan angka penjualan saat ini tidaklah menjamin toko online akan langgeng selama-lamanya.

Kondisi seperti inilah yang membuat banyak penjual online “terlena” akibat angka penjualan yang baik sehingga tidak memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi di masa depan. Jika ini terus berlanjut, dampaknya jelas dan pasti: kebangkrutan toko online.

Untuk bangkit dari keterpurukan bisnis, pemilik toko online pertama-tama harus memahami alasan toko online-nya bangkrut. “Terlena” dengan permintaan produk yang tinggi sehingga tidak sadar bahwa kompetitor yang lebih unggul bermunculan? Atau karena produk yang didagangkan terlalu seragam dan tidak memiliki nilai lebih sehingga kalah bersaing di pasaran? Mungkin juga karena alokasi dana yang tidak tepat, apalagi ketika memulai bisnis dengan modal yang minim? Apapun penyebab kebangkrutan toko online, penjual pertama-tama harus menyadari alasan di balik toko online-nya terpuruk.

Berkaca pada strategi untuk bangkit yang dilakukan Sharp, inovasi produk adalah solusi bagi penjual yang toko online-nya bangkrut. Melakukan inovasi tidak selamanya berarti membuat produk yang benar-benar baru. Menambahkan nilai guna, keunggulan, dan fungsi produk juga tergolong ke dalam menciptakan inovasi produk.

Dengan dana yang tersisa yang dimiliki, penjual bisa mengembangkan produknya sehingga memiliki nilai lebih dibanding produk kompetitor. Di sini, kreativitas sangat berperan. Ide memang sesuatu yang priceless sebab sulit untuk didapat. Namun ketika ide ditemukan, kreativitas diaplikasikan, dan inovasi diciptakan, toko online yang tadinya bangkrut pasti akan bangkit kembali.

Alternatif lain untuk keluar dari keterpurukan adalah dengan membidik pasar yang tepat. Penjual perlu menghindari pemasaran yang tidak efektif. Memasarkan secara umum di situs jual-beli online yang konsumennya memiliki beragam kebutuhan bukanlah pemasaran yang efektif. Penjual perlu mengenal karakteristik produknya sehingga bisa memasarkannya kepada kalangan dengan karakteristik yang sesuai dengan produk.

Sebagai contoh, toko online onderdil sepeda fixie yang sudah bangkrut bisa memfokuskan pemasaran lewat media sosial Twitter. Komunitas pecinta sepeda fixie jumlahnya tak terbatas di Twitter. Dengan memasarkan produknya lewat Twitter, penjual onderdil sepeda fixie menuju fokus pasar yang tepat. Karena fokus pasarnya tepat, pembelian pun pasti terjadi. Pemasaran yang efektif seperti ini mampu membantu penjual untuk meraih kembali kesuksesan toko online-nya.

Strategi lain yang bisa dilakukan penjual online untuk kembali sukses adalah dengan memaksimalkan pemasaran dengan cara konvensional: pemasaran offline. Penjual tidak boleh lupa bahwa “jalur” offline juga merupakan alternatif untuk bangkit dari kebangkrutan. Pemilik toko online bisa melakukan strategi mouth-to-mouth yang sering dilakukan pebisnis offline. Sedikit banyak, pemasaran offline juga bisa memperbaiki angka penjualan di toko online.

Memaksimalkan pemasaran–baik secara online maupun offline–adalah kunci utama bangkit dari keterpurukan bisnis. Pemilik toko online perlu menghindari keputusan-keputusan yang tidak bisa menggiring toko online-nya ke arah yang lebih baik, bahkan justru membuat bisnisnya makin terpuruk. Intinya, pemasaran yang dilakukan pemilik toko online harus efektif dan efisien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Mauren Anindya/netpreneur.co.id