Apakah Reksadana Saham Masih Menjanjikan di Tahun 2015??

By on 29 Desember 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3.360 kali
Reksadana Saham

Reksadana SahamInvestasi Reksadana – Investor reksadana saham boleh unjuk gigi. Pasalnya, instrumen investasi ini memberikan imbal hasil atau return paling mengkilap ketimbang instrumen investasi lainnya. Maklumlah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan return di atas 20,24% atau berlipat-lipat ketimbang realisasi tahun lalu yang minus 2%.

Data PT Infovesta Utama menunjukkan, rata-rata return reksadana saham hingga 22 Desember 2014, secara year to date mencapai 27,97% atau lebih unggul jika dibandingkan dengan IHSG pada periode yang sama. Beda ceritanya dengan hasil investasi logam mulia yang rontok, misalnya, emas batangan Antam memberikan return minus 0,95% di sepanjang tahun ini.

Nah, berkaca pada hasil investasi berbasis saham di sepanjang tahun ini, kinerja kinclong keranjang investasi reksadana saham sepertinya akan berlanjut di tahun kambing kayu. Meski tidak seoptimis tahun kuda kayu, reksadana ini diperkirakan berpotensi menguat yang ditopang oleh pertumbuhan ekonomi dan perbaikan makro ekonomi.

Bahkan, Viliawati, Analis Infovesta menilai, reksadana saham masih akan menjadi primadona di antara reksadana jenis lainnya, seperti reksa dana campuran, pendapatan tetap dan pasar uang. “Reksadana saham berpotensi mencetak kinerja yang lebih baik ditopang oleh pergerakan bursa saham yang lebih agresif dalam merespon kondisi pasar,” ujarnya.

Jika ingin untung berlipat, pilihan paling pas memang kelihatannya masih instrumen investasi berbasis saham. Sebab, instrumen di luar saham, seperti obligasi dan emas dinilai belum menunjukkan lampu hijau. Pasar obligasi tahun depan masih berfluktuasi akibat kenaikan yield surat utang negara dan emas belum berkilau.

Sebaiknya, investor mempertebal porsi investasi saham secara berkala. Namun demikian, lanjut Vilia, saham adalah investasi jangka panjang. Potensi kinerja reksadana saham juga dihantui dengan risiko fluktuasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya. Tidak semua saham layak investasi.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan investor, ia menyarankan, antara lain kondisi makro ekonomi, nilai tukar, inflasi, suku bunga acuan, neraca perdagangan, rilis data laporan keuangan emiten, serta kinerja kabinet pemerintahan baru.

Adapun, sentimen global yang diperkirakan akan ikut mempengaruhi kinerja reksa dana, yakni kondisi ekonomi global, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Tiongkok, serta rencana kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi mengurangi dana asing yang masuk ke pasar modal domestik.

Vilia meramalkan, kinerja rata-rata reksadana di tahun depan, yakni sekitar 8% – 12% return dari reksadana jenis saham, 7% – 10% dari reksadana campuran, 6% – 8% dari reksadana pendapatan tetap dan 7% – 8% dari reksadana pasar uang.

“Secara umum, jika dibandingkan dengan tahun 2014, prospek reksadana saham dan campuran akan melambat. Sementara, reksadana pendapatan tetap dan pasar uang diperkirakan tidak jauh berbeda di tahun depan. Tetapi, BI rate yang berada di level cukup tinggi menjadi sentimen positif bagi reksadana pasar uang untuk membukukan kinerja yang lebih baik,” terang dia.

 

 

Sumber: KONTAN