Aksi Ambil Untung Melemahkan USD

By on 3 Oktober 2014 | Artikel ini Sudah di baca 2.544 kali
Hemat

Dollar Amerika Serikat (AS) terkoreksi terhadap sejumlah mata uang dunia. Dollar AS terpangkas karean aksi profit taking  setelah penguatan tajam akibat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS alias The Fed.

Mengutip data Bloomberg, Kamis (2/10) sampai pukul 19.00 WIB, pasangan EUR/USD naik 0,10% dari hari sebelumnya ke 1,2636. Begitu pairing GBP/USD turun 0,26% menjadi 1,6144. Sedangkan pasangan USD/JPY turun 0,09% ke 108,790.

Selain aksi ambil untung, secara fundamental AS juga ternyata masih lemah. Ini nampak dari data manufaktur AS per September 2014, tercatat 56,6 lebih rendah dari bulan sebelumnya 59,0. Angka realisasi tersebut juga lebih rendah dari ekspektasi para analis yang memasang target di 58,6. “Namun data non-farm payroll dan data permintaan pabrik diproyeksikan masih cukup bagus,” jelas Putu Agus Pransuamitra, Analis Monex Investindo Futures.

Penguatan pasangan EUR/USD  lebih karena faktor teknikal semata. Saat ini belum ada faktor fundamental yang bisa menggerakkan euro. “Pasar sedang  menunggu penyataan bank Sentral Eropa (ECB) terkait arah kebijakan moneter,” ujar Putu.

Sementara, data manufaktur Jerman pada September kontraksi dan  inflasi masih tertekan. Menurut Putu, kemungkinan besar  ECB masih menahan kebijakan moneter atau memperlonggar stimulus sehingga makin menekan euro.

Ibrahim, Direktur Equilibirium Komoditas Berjangka, mengatakan, pasangan GBP/USD masih akan melemah karena pasar masih fokus terhadap kenaikan suku bunga Bank sentral Amerika. “Produk domestik bruto (PDB) AS kuartal III mencapai 4,6%. Angka meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. Ini menguatkan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih cepat,” jelas dia. Selain itu, pelaku pasar menanti data klaim pengangguran AS.

Alwy Assegaf, Analis SoeGee Future, menambahkan, pasangan USD/JPY turun karena kekhawatiran virus ebola menyebar ke AS.