Warren Buffet Bullish Pada… Wanita

By on May 10, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,075 kali

Warren Buffet Bullish Pada… Wanita

Pekan lalu, sang investor guru, Warren Buffet, menulis sebuah artikel di majalah Fortune. Artikel itu bukan tentang saham, juga bukan tentang ekonomi dunia, tapi tentang perempuan. Judulnya, “Warren Buffet is bullish on… woman.”

Tak hanya itu, ia juga menekankan kebutuhan akan perempuan di jajaran eksekutif perusahaan saat rapat umum tahunan pemegang saham Berkshire Hathaway, 4 Mei lalu. Ceramah yang sama ia sampaikan pula di University of Nebraska Omaha.

“Dalam sebagian besar sejarah kita, perempuan, apapun kemampuannya, telah dikesampingkan. Hanya di beberapa tahun terakhir kita mulai mengoreksi hal ini,” tulis Buffett dalam artikel di Majalah Fortune edisi 20 Mei itu.

Dengan hambatan struktural atau perempuan yang berkurang, Warren mengajak para perempuan untuk naik ke panggung utama perusahaan. “Saya menyukai ide perempuan berbakat bisa diakui,” tuturnya.

Ia mencontohkan sahabat karibnya, Katherine “Kay’ Graham, jurnalis yang kemudian menjadi CEO Washington Post dan pemegang saham pengendali surat kabar besar di Amerika tersebut.

“Kay tahu dia pintar. Namun dia sudah dicuci otak – meski saya tak suka kata ini – oleh ibunya, suaminya dan siapa yang tahu siapa lagi, untuk percaya bahwa pria lebih superior terutama dalam berbisnis,” kata Buffett.

Buffett mengisahkan, ketika suami Kay meninggal, banyak pria di sekitar Kay yang menekannya. Untungnya selain pintar, Kay juga pribadi yang kuat. “Ia berhasil mengabaikan suara-suara bariton yang menyuruhkan menyerahkan warisannya ke mereka.”

Waktu itu Buffet juga membantu meyakinkan Kay untuk membuang pemikiran bahwa pria lebih tahu berbisnis ketimbang perempuan. “Lalu saya berkata, ‘Setelahnya kamu akan melihat seorang perempuan yang cocok dengan semua orang, laki-laki atau perempuan.'”

Buffet bisa bangga atas sahabatnya sebab, selama 18 tahun kepemimpinan Kay, saham Washington Post melesat lebih dari 4.000%. Setelah pensiun, Kay juga memenangkan Pulitzer untuk autobiografinya.

Namun, Buffett tak berhenti memberi saran kepada para perempuan. Ia juga mengajak sesama laki-laki untuk mendukung sarannya. Dan dalam ajakannya, Buffett sangat rasional.

Ia bilang, 50% dari tenaga kerja AS adalah perempuan yang juga mesti diperhatikan demi kapasitas penuh Amerika.

“Tak ada CEO yang ingin karyawan laki-lakinya bekerja di bawah kemampuannya. Pengembangan training dan situasi kerja akan mendongkrak produktivitas mereka. Jadi, ambillah satu langkah lebih jauh: Jika manfaat nyata terasa dengan membantu komponen laki-laki dari tenaga kerja mencapai potensi penuh mereka, mengapa tidak melakukan yang sama untuk lawan jenisnya?”

CEO perempuan Berkshire terbatas

Namun, kenyataan di Berkshire Hathaway, perusahaan yang didirikan Buffett, tidaklah sejalan dengan apa yang diinginkan pria berusia 82 tahun itu.

Menurut data Maret dari riset Calvert Investments Inc, Berkshire termasuk dalam daftar perusahaan dengan peringkat rendah indeks keberagaman Standard & Poor’s 100.

Buffett sendiri telah berkata bahwa ia tidak mendikte kebijakan kepada para eksekutif Berkshire untuk hal tertentu, termasuk keberagaman tenaga kerja dan jam kerja.

“Perubahan berjalan perlahan-lahan. Buffet memang tidak membeli bisnis karena pria menjalankannya. Ia membeli bisnis tertentu dengan melihat siapa orang terbaik dalam menjalankannya,” kata Cathy Baron Tamraz, CEO unit Berkshire Business Wire.

Tamraz adalah salah satu dari lima wanita yang menjadi pemimpin unit bisnis Berkshire. Catatan saja, hanya lima CEO wanita dari sekitar 70 unit bisnis Berkshire.

Meski begitu, Mary Rheinhart, CEO Johns Manville, unit produk bangunan Berkshire, pernah memuji Buffet pada November lalu. “Warren sangat progresif. Ia akan memilih orang terbaik untuk menjabat sebuah posisi pekerjaan,” tuturnya.

Menurut riset Catalyst, NGO yang berfokus meluaskan kesempatan kerja bagi perempuan, dari seluruh perusahaan dala mdaftar Fortune 500, perempuan hanya menjabat 16,6% dari direksi perusahaan dan 14,3% dari posisi CEO.

Masalah kesempatan kerja perempuan dan upah yang setara beberapa waktu lalu juga dikampanyekan oleh Chief Operating Officer Facebook Sheryl Sandberg. Sandberg mengajak para perempuan memperkuat diri mereka sendiri di dunia kerja dalam buku autobiografinya ‘Lean In’. (Rika Theo, Kontan)