Wall Street Naik Dalam Sepekan

By on June 10, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,062 kali

Wall Street Naik Dalam Sepekan

Kinerja bursa saham Wall Street mencatat kinerja positif sepekan lalu. Indeks Dow melonjak lebih dari 200 poin setelah keluarnya data kondisi pekerjaan di AS. Laporan dari pemerintah itu berhasil meredakan kekhawatiran investor tentang rencana Federal Reserve untuk mengurangi stimulus dalam waktu dekat.

Dalam pekan lalu, Indeks S & P 500 dan Nasdaq membukukan persentase kenaikan terbaik sejak 16 April. Tiga saham utama AS naik lebih dari 1% dan berhasil memperpanjang keuntungan menjelang akhir sesi penutupan.

??Kondisi ini di dukung Indeks konsumen discretionary yang naik 1,8% persen. Begitu juga dengan indeks industrial, SPLRCI yang juga naik 1,8%. Sementara itu, Microsoft naik 2% menjadi US$ 35,67, yang menyumbang kinerja terbesar indeks S & P 500 dan Nasdaq.

Sebelumnya, bursa AS sempat sempat gamang usai Kepala Bank Sentral AS, Ben Bernanke merencanakan untuk mengurangi stimulus pembelian obligasi, jika data ekonomi AS menuju perbaikan.

“Minggu sebelumnya, pasar diperdagangkan turun drastis. The Fed telah menutup pertumbuhan. Tapi ironisnya, bursa justru naik,” kata Brian Amidei, managing director dari Hightower Advisors di California (9/6).

Sebelumnya, Data Departemen Tenaga Kerja AS malaporkan adanya kenaikan lowongan pekerjaan sebanyak 175.000 di bulan Mei, sedikit di atas perkiraan pengamat.  Sementara itu, tingkat pengangguran AS naik menjadi 7,6% bulan lalu dari 7,5% di bulan April.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJI) melonjak 207.50 poin, atau naik 1,38% dan ditutup pada 15.248,12. Sedangkan Indeks Standard & Poor 500 naik 20,82 poin, atau naik 1,28% ke 1.643,38. Sedangkan Nasdaq Composite Index naik 45,16 poin atau naik 1,32% menjadi 3.469,22.

Perlu diketahui, kondisi lowongan pekerjaan di AS merupakan salah satu kelemahan perekonomian AS sejak krisis baru-baru ini. The Fed sebelumnya sudah membuat kebijakan moneter untuk perbaikan pasar kerja di negara itu.

Sementara itu, reli di pasar terjadi karena adanya pembelian obligasi lanjutan oleh The Fed. “Saya pikir reli kehabisan uap,” kata Amidei. Ia juga mencatat, investor sudah mulai menjual saham untuk mengunci keuntungan dalam beberapa industri dan sektor.

(Asnil Bambani Amri, Kontan)