Waduh, Harga Emas Bakal Terus Merosot Hingga 80%

By on May 24, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 1,861 kali

Waduh, Harga Emas Bakal Terus Merosot Hingga 80%

Harga emas saat ini sudah merosot 30% sejak September tahun lalu. Waktu itu sebagian orang mengatakan, harga emas akan secepatnya naik lagi. Sebagian lain memprediksi sebaliknya, harga emas bakal terus anjlok sekitar 50%-80%.

Seperti dilansir dari investor.com, Kamis (23/5/2013), bank-bank di seluruh dunia memotong suku bunganya ke level fterendah, membeli obligasi, dan mencetak lebih banyak uang. Dengan begitu, mata uang kertas terdevaluasi dan dapat memompa inlasi yang mendorong harga emas.

Setelah bank sentral Eropa (ECB) memotong rendah suku bunganya sebesar 0,5% di awal bulan ini, 12 negara lain seperti Australia, India, dan Korea Selatan mengunci nilai mata uangnya,

Negara-negara tersebut mengikuti langkah bank sentral Jepang untuk menggenjot pembelian obligasi. Bank sentral Jepang membeli lebih banyak saham daripada The Fed. Aksi ini membuat yen tenggelam.

Menurut CEO sunshine Profits, konsultan perdagangan emas dan perak di New York, ini adalah perang mata uang. Siapa yang inflasi duluan, dia yang menang.

Harry Dent, pendiri HS Dent, sebuah perusahaan pengamat ekonomi di Delray Beach, Finlandia mengatakan jika pemerintah secara aktif menentang deflasi seperti yang mereka lakukan sekarang, maka deflasi akan jadi tren, bukan inflasi.

Para investor emas berpendapat, harga emas akan anjlok lebih parah dengan alasan-alasan hampir sama persis.Dent memprediksi harga emas akan turun drastis.

“Harganya bisa sampai ke US$ 750 per ounce beberapa tahun ke depan atau ke level paling rendah seharga US$ 280 per ounce. Sekitar 46-80% dari harga terkini,” terangnya

Setidaknya terdapat 6 alasan kenapa ekonomi global sampai dua tahun ke depan bisa terus menekan harga emas:

1. Penjualan real estate Spanyol terus melambung hingga deflasi. Di beberapa poin, hal ini mengatasi persoalan bank-bank. Selain itu, Jerman dan Uni Eropa akan kehilangan hak dana talangannya.

2. Ekonomi Prancis terus melambat dan populasinya terus mengurangi nilai mata uang euro dan jumlah rencana dana talangan untuk negara-negara ekonomi kecil.

3. Pengeluaran secara demografis bagi negara-negara paling kuat di Eropa seperti Jerman, Swiss, dan Austria akan memuncak di tahun 2014 seperti yang dilakukan Amerika Serikat pada 2008.

4. Harga-harga komoditas yang terus jatuh di lingkaran setan akibat gangguan ekspor. Pertumbuhan negara-negara baru yang membeli sedikit komoditas China juga mengganggu ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, harga komoditas bakal terus turun.

5. Jika Jepang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasinya, harga obligasi akan naik dan memperbesar suku bunga. Pasar obligasi akan merugi di Jepang.

6. 10% – 20% dari populasi paling kaya yang memotori 50% pengeluaran konsumen ekonomi Amerika Serikat, akhirnya mengetatkan pengeluaran mereka seiring dengan anak-anak yang mulai dewasa. Para orang tua mulai merasakan sengatan pajak yang terus meningkat.

(Siska Amelie F Deil, Liputan6 News)