Tepatkah Beli Properti Untuk Investasi?

By on September 19, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 3,054 kali
Investasi Properti

Tepatkah Beli Properti Untuk Investasi?

Investasi Properti – Menurut analisa para pakar investasi untuk tanah, rumah ataupun bangunan memiliki nilai yang selalu meningkat tiap tahunnya. Tak heran jika asset tersebut, yang dikenal dengan istilah “properti”, menjadi salah satu jenis investasi yang digemari banyak orang. Meskipun demikian, ada “rambu-rambu” yang perlu diperhatikan dengan baik jika memutuskan memilih properti sebagai bentuk investasi. Oleh karena nilai kepemilikan properti ini sangat besar, ada baiknya Anda simak penjelasan dalam artikel ini sebelum Anda memutuskan untuk membeli properti sebagai instrumen investasi Anda.

Kebanyakan orang merasa bahwa investasi di bidang properti lebih aman ketimbang investasi dalam saham atau valuta asing. Wajar jika akhirnya banyak investor yang menjadikan investasi properti merupakan pilihan utama dalam berinvestasi. Selain dirasa aman, properti merupakan investasi yang dapat dilihat secara kasat mata. Maksudnya, investasi ini terlihat wujudnya atau dalam istilah akuntasi disebut ”tangible assets” dan tak jarang orang merasa bahwa investasi properti bisa ”dipamerkan” di depan orang lain. Bandingkan saja dengan investasi di saham, obligasi, dan reksa dana yang tidak bisa terlihat secara fisik atau dalam istilah akuntasi digolongkan sebagai ”intangible assets”.

Selain itu, harga properti yang cenderung naik dari tahun ke tahun membuatnya menjadi ramai peminat. Apalagi pada tahun-tahun terakhir ini, kenaikan harga properti di kota-kota besar begitu luarbiasa, bahakan ditenggarai sebagai salah satu tertinggi di dunia kenaikan harganya. Begitulah anggapan yang berkembang di khalayak umum sehingga kalau kita perhatikan, banyak sekali orang tua dari zaman dahulu yang berinvestasi dengan membeli rumah.

Memang, hal tersebut merupakan beberapa kelebihan investasi di bidang properti. Namun apakah hanya sisi aman dan sifat assetnya yang bisa terlihat saja yang menjadi kelebihan investasi di bidang properti?

Sebenarnya, ada kelebihan lain dari investasi properti yang perlu kita semua ketahui. Investasi bisa terbilang ”pintar” dan baik jika properti yang dibeli bisa menghasilkan passive income. Misalnya, properti yang dimiliki dapat disewakan atau dijadikan rumah kost. Selain kita mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga yang hampir dipastikan akan selalu bertambah, kita juga bisa menikmati hasil dari penyewaannya atau uang kost yang kita terima setiap bulan. Dengan kata lain, pemilik investasi akan mendapatkan keuntungan secara ganda.

Walaupun demikian, setiap keuntungan tentunya selalu diikuti risiko. Terlebih jika kita sedang berbicara mengenai investasi. Investasi dan risiko adalah sebuah hal yang selalu berdampingan. Adalah bohong besar manakala seseorang berkata bahwa ada investasi tanpa risiko. Hal yang lebih tepat adalah tingkat risiko tiap investasi berbeda-beda. Hal yang perlu kita lakukan adalah mengukur besarnya risiko dan menemukan cara bagaimana menghadapinya sesuai tingkat kemampuan diri serta jalan untuk meminimalisasi kemunculannya.

Begitupun dengan investasi di bidang properti. Walaupun terbilang aman dan selalu “bertumbuh”, kita perlu mengenali risiko apa saja yang membayangi kita saat memiliki investasi di bidang properti ini. Risiko yang berpotensi muncul adalah sebagai berikut:

1. Risiko Likuiditas

Properti adalah investasi yang kurang likuid. Ini artinya properti tidak dapat diuangkan dengan cepat. Jadi, jika kita memerlukan uang dalam waktu yang singkat dan memiliki asset berupa bangunan dan tanah, maka tidak mudah dan cepat membuat asset tersebut berubah menjadi uang yang kita gunakan. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa menjual rumah tidaklah dapat laku dalam waktu satu-dua hari. Sudah banyak cerita tentang orang yang menjual tanah atau rumah namun belum mendapatkan pembeli selama bertahun-tahun.

Kalaupun cepat terjual, biasanya harus mau ditawar atau dijual dengan harga miring dan jauh di bawah harga pasar. Tentu saja jika langkah tersebut diambil, kenaikan harga investasi yang menjadi ”kelebihan” investasi properti menjadi tidak bisa dinikmati secara optimal.

Karenanya, perlu dipahami secara benar bahwa investasi properti tidaklah cocok untuk individu yang memang berinvestasi dengan tujuan ingin mampu mendapatkan dana secara cepat. Misalnya, investasi properti tidak pas jika dijadikan “tabungan” untuk biaya pendidikan anak. Jangan sampai ketika si anak sudah akan masuk perguruan tinggi dan harus sudah membayar uang masuk, rumah atau tanah belum juga laku terjual. Tentu saja tak ada kampus yang mau menerima pembayaran dalam bentuk uang.

Bicara mengenai investasi properti dan anak, sepertinya investasi ini lebih cocok untuk warisan. Tentu saja pencairan dana dari bentuk rumah atau tanah ke bentuk uangnya tidak secepat kebutuhan yang lainnya. Namun demikian, ada sejumlah lokasi yang menjadi favorit banyak orang dimana tingkat lakunya properti yang dijual relatif cepat. Bisa dalam hitungan mingguan bahkan harian.

2. Risiko Kerusakan Bangunan

Karena investasi properti ini berupa bangunan secara fisik, maka perlu dilakukan perawatan sebaik mungkin. Bangunan rawan mengalami kebocoran atau kerusakan. Sehingga investasi ini membutuhkan biaya perawatan (maintenance).

Kalaupun properti ini disewakan, perlu diperjelas siapa yang menanggung biaya perawatan atas bangunan tersebut. Jika kita hitung dari uang sewa yang diterima, jangan-jangan pendapatan dari sewa tidak cukup untuk memperbaiki bangunan kita di saat perjanjian dengan si penyewa sudah selesai.

3. Risiko Harga Jual

Secara umum, harga properti cenderung naik. Tapi bukan tidak mungkin juga bisa turun. Misalnya, lokasi properti tersebut yang semula bukan daerah banjir tiba-tiba kebanjiran. Musibah itu bisa menjadikan harga investasi kita turun. Bukan hanya banjir yang menjadikan harga properti menjadi turun, bisa juga bencana alam lainnya, seperti gempa, erupsi gunung, dan sebagainya. Hal lain yang dapat menggerus prospek investasi adalah perubahan aturan tata ruang yang menyebabkan lahan properti terkena pemakaian untuk kepentingan umum misalnya.

4. Risiko Usaha, Jika Disewakan

Jika properti kita sewakan, artinya kita menjadikan properti itu sebagai usaha.Hal ini menjadikan munculnya kemungkinan si penyewa telat membayar uang sewa, atau malah membayar sama sekali. Tentu saja, jika hal itu terjadi, kita akan memiliki risiko tak mendapat manfaat dalam jangka waktu tertentu dari yang direncanakan. Keterlambatan atau mangkirnya penyewa atau pembayaran menimbulkan risiko pindahnya beban pembayaran listrik atau tagihan lainnya kepada kita. Jika hal ini tidak tertangani. Bisa jadi sambungan listrik di bangunan miik kita diputus oleh pihak berwajib, begitu pun dengan pelayanan lainnya.

Walau demikian, tulisan ini tidaklah bermaksud menakut-nakuti bagi yang ingin memiliki investasi di bidang properti. Hal yang digaris-bawahi di sini adalah bahwa investasi di bidang inipun ada risikonya selain peluang keuntungannya. Jika risiko-risiko tersebut bisa dihadapi, maka investasi di properti bisa menjadi salah satu pilihan investasi yang baik. Kemudahan lainnya adalah investasi properti bisa dibeli dengan menggunakan dana dari pihak lain terlebih dahulu. Sehingga kita tidak perlu menyiapkan 100% kebutuhan investasinya, hanya perlu uang mukanya saja dengan fasilitas KPR dari bank. Bahkan sejumlah developer ada yang memberikan keringanan untuk pembayaran uang muka misal dengan pembayaran secara cicilan.

Selamat berinvestasi!

(Bella Dona, VibizNews)