Susahnya Valuasi Saham

By on July 17, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,832 kali
Saham

Susahnya Valuasi Saham

Investasi Saham – Tidak bisa dipungkiri bahwa analisa yang paling mendominasi di dalam bursa saham yaitu analisa teknikal. Pada sudut pandang analisis teknikal, untuk analisa fundamental memiliki kelemahan yang utama dimana di dalam analisanya mengesampingkan psikologi seorang investor maupun sentimen pasar, Sementara menurut pakar analisis menyarankan untuk tidak perlu takut dalam membeli suatu saham yang harganya tinggi apabila kita bisa menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi.

Yang menjadi masalah, apabila kita telah membeli saham dengan harga yang terlalu tinggi, sementara harganya sudah tidak bisa naik lagi. Nah, disini seorang investor hendaknya menyadari mengenai prinsip dasar dalam berinvestasi bahwasanya di semua jenis aset pada dasarnya sama yaitu dengan membandingkan nilai dan juga harganya. Harga itu apa yang kita bayar, sementara nilai itu apa yang bisa kita dapat. Prinsip tersebut berlaku secara umum bagi siapa pun. Misalnya, berbeda dengan harga yang bisa kita ketahui, namun nilai itu lebih bersifat tidak dapat dilihat dan harus dihitung atau diestimasi lebih tepatnya. Kita juga mengenal adanya valuasi saham yang susah maupun valuasi obligas yang mudah. Lalu kenapa valuasi saham lebih susah dibanding dengan obligasi?

  • Sebab saham tidak mempunyai waktu jatuh tempo layaknya obligasi.
  • Karena apabila angka dari kupon obligasi itu pasti, maka besarnya deviden masih tidak pasti serta sulit untuk diprediksi sebab hal ini tergantung pada keuntungan bersih dari perusahaan maupun kebijakan yang digunakan.
  • Karena berbeda dengan kupon , yang mana bersifat wajib obligasi itu untuk berbunga serta deviden tersebut bukanlah kewajiban perusahaan. Dan apabila emiten tidak mendapat keuntungan maka deviden itu juga tidak ada.
  • Dalam obligasi hanya terdapat satu jenis model, sedangkan pada saham jumlahnya ada belasan.

Pada valuasi obligasi, diperlukannya 4 variabel diantaranya kupon, waktu jatuh tempo, yield yang di kehendaki dan juga nilai nominal. 3 dari 4 variabel tersebut diberikan untuk masing-masing obligasi.

Oleh karena itu, cuma yield sajalah yang bisa berubah sepanjang waktu menyesuaikan dengan ekspektasi inflasi yang terjadi. Namun lazimnya yang diinginkan oleh para investor justru yield pada obligasi tidak begitu bervariasi sebab hal itu didasarkan pada acuan rating dan juga ekpektasi inflasi.

hanya memahami 1 model dengan faktor yang menentukan pergerakan yield yang mengikuti inflasi serta strategi dalam berinvestasi obligasi memang tidaklah sulit. Hanya perlu membeli obligasi yang memiliki tenor panjang di saat inflasi sedang naik dan diperkirakan akan segera turun, kemudian jual kembali obligasi tersebut ketika inflasi akan melesat.

Untuk menghadapi terjadinya inflasi yang tinggi, misalkan ada banyak investor dari institusi bersama-sama menjual obligasi yang mereka miliki dengan waktu tenor yang panjang serta mereka berencana untuk memindahkannya ke tenor yang lebih pendek dalam 1 sampai 2 tahun. Dengan demikian akibatnya adalah yield dari obligasi yang bertenor pendek malah akan mengalami penurunan yang disebabkan ada banyaknya reksadana pendapatan tetap maupun emiten asuransi yang mencoba untuk melakukan switching demi meminimalkan capital loss.

Valuasi obligasi pada intinya selam kita bisa memprediksi terjadinya inflasi untuk beberapa tahun ke depan secara tetap, maka dalam memperkirakan harga dari obligasi juga akan lebih mudah. Karena inflasi itu berbanding terbalik dengan harga obligasi.

Sementara valuasi saham justru berbeda dengan obligasi dimana lebih banyak metodenya. jadi ada yang berdasarkan kelipatan harga, arus kas, adjusted book value dan residual harga. Biasanya arus yang menjadi penentu adanya deviden adalah arus kas ekuitas ataupun perusahaan.

Untuk metode kelipatan harganya juga masih ada beberapa, bisa berdasarkan nilai buku, laba bersih, EBITDA dan penjualan. Namun dengan menggunakan model yang sama bukan berarti bisa menjamin hasil valuasi yang sama pula.