Strategi Investasi Untuk Mencapai Tujuan Keuangan

By on December 6, 2016 | Artikel ini Sudah di baca 491 kali

Investasi Reksadana – Sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1996, Reksa Dana telah berevolusi dari instrumen investasi menjadi alat untuk mencapai tujuan keuangan. Ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu investor mulai menggunakan reksadana untuk mencapai tujuan keuangan seperti pensiun, pendidikan anak, rumah idaman di masa mendatang.

Investor tidak lagi melihat investasi reksadana sebagai suatu investasi “sampingan” dimana dia bisa tidak terlalu khawatir dengan risiko fluktuasi harga. Fluktuasi harga atau sering dikenal juga dengan risiko, apabila ditangani dengan tidak tepat, hal ini bisa menyebabkan tujuan investasi tidak tercapai.

Anda bisa jadi tidak pensiun dan harus bekerja hingga tua, putra-putri anda bisa jadi tidak sekolah di tempat favorit yang diinginkan, dan mungkin saja hingga pensiun masih belum memiliki rumah.

Bagi investor yang memperlakukan reksadana sebagai instrumen untuk mencapai tujuan keuangan yang lebih serius, ada 3 strategi investasi yang dapat dipergunakan yaitu Strategi Buy and Hold, Portfolio Rebalancing dan Rupiah Cost Averaging.

Metode Buy and Hold adalah metode investasi dimana investor berinvestasi kemudian mendiamkan dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa terlalu peduli adanya kenaikan atau penurunan harga di pasar dengan asumsi investasi dalam jangka panjang akan menguntungkan.

Dengan melakukan buy and hold dalam jangka waktu panjang, ada 2 kemungkinan yang akan dihadapi oleh investor.

Pertama, setelah jangka panjang ternyata hasilnya masih rugi, alias nilai investasi di bawah nilai investasi awal.

Kedua, nilai investasi di atas nilai investasi awal, tapi jumlahnya tidak seperti yang diharapkan akibatnya tujuan keuangan tidak tercapai.

Dalam sebuah riset tentang potensi investasi jangka panjang yang dilakukan terhadap kinerja IHSG daritahun 1984-2012, terdapat 2 fakta menarik yang dapat dipergunakan investor dalam kaitan dengan strategi investasi yang disebutkan di atas. Riset ini membahas tentang potensi risiko dan return bagi investor yang berinvestasi secara jangkapanjang di bursa saham.

Dari riset tersebut, diketahui bahwa probabilitas investor untuk mengalami kerugian di bursa saham dengan jangka waktu 15 tahunadalah 0%. Sementara bagi investor yang memiliki jangka waktu investasi antara 3-10 tahun memiliki probabilitas kerugian antara 4,34% – 24,41%.

Artinya dari 100 kali percobaan investasi yang dilakukan investor antara kurun waktu 1984-2012, ada kemungkinan antara 4-25 kali investor setelah 3 – 10 tahun akan mendapatkan kenyataan bahwa nilai investasinya masih berada di bawah nilai investasi pokok pertama kali.

Hanya investor yang memiliki periode 15 tahun, yang selalu mendapatkan bahwa nilai investasi akhirnya lebih besar dibandingkan nilai investasi awal.

Hasil riset di atas menegaskan bahwa investasi memang harus jangka panjang. Karena dengan jangka panjang investor dapat meminimalkan risiko kerugian. Hanya saja, bagi investor “serius” yang melakukan strategi ini, jangka waktu investasi yang wajar adalah 15 tahun. Apabilakurang, maka terdapat kemungkinan tujuan investasinya tidak tercapai.

Fakta lain dari riset tersebut yang cukup menarik untuk diperhatikan oleh investor adalah besarnya return yang diperoleh. Selama ini jika berinvestasi di reksadana saham, investor memiliki harapan return yang tinggi.

Hal ini didukung oleh performa IHSG dalam beberapa tahun terakhir yang mencapai lebih dari 50% seperti yang terjadi pada 2006, 2007 dan 2009. Meski mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2008, tapi kenaikan IHSG pada tahun 2009 kembali meningkatkan kepercayaan investor.

Padahal jika melihat jangka waktu yang lebih panjang, tingkat return investasi ternyata tidak seperti yang diharapkan.

Berdasarkan data IHSG dari tahun 1984-2012, ternyata rata-rata return tahunan IHSG untuk investasi yang berkisar antara 3-15 tahun adalah berkisar dari 18.59%-11.46%.

Semakin panjang periode investasi, semakin kecil pula rata-rata return yang diperoleh investor.Tapi sejalan dengan grafik probabilitas sebelumnya, kemungkinan investor untuk mengalami kerugian juga semakin kecil.

Dengan tingkat return yang berada di bawah ekspektasi pada umumnya yang berkisar antara 20%-25%, maka bagi investor diperlukan strategi investasi yang lebih aktif untuk mengoptimalisasi tingkat return sekaligus menjaga agar tujuan keuangan tetap tercapai.

Untuk itu, investor dapat melakukan strategi yang kedua yaitu strategi Portfolio Rebalancing.

Portfolio Rebalancing adalah strategi investasi dimana pada saat yang tepat investor melakukan profit taking dan mengamankan profit tersebut pada instrumen investasi yang aman.

Strategi ini mungkin tidak akan memberikan profit maksimal pada saat kondisi harga sedang naik tinggi seperti yang dihasilkan dengan strategi buy and hold.

Akan tetapi cara ini mampu menjaga agar dana investor tidak terlalu tergerus dan mengamankan sebagian profit (jikaada) pada saat kondisi saham sedang tidak terlalu bagus.

Penggunaan ekspektasi return yang wajar pada tabel di atas dapat dijadikan sebagai acuan investor dalam melakukan rebalancing. Asumsi 11%-18% dapat dipergunakan investor dalam menentukan kapan dia harus melakukan rebalancing.

Misalnya ketika dia meyakini apabila kondisi pasar sedang kurang bagus, maka ketika investasinya telah tumbuh 11%, keuntungan tersebut dapat dicairkan dan diamankan di instrumen yang aman seperti deposito atau Reksa Dana pasar uang.

Jika ternyata dia meyakini bahwa pasar masih akan berpeluang tumbuh secara signifikan, maka kegiatan rebalancing baru dilakukan ketika investasi reksadananya sudahtumbuh di atas 18%.

Perlu diperhatikan bahwa strategi portfolio rebalancing tidak sama dengan diversifikasi.

Strategi diversifikasi portofolio berusaha meminimalkan risiko dengan menyebar investasi pada beberapa instrumen yang berbeda.Sementara strategi rebalancing lebihmenekankan pada penggunaan 2 instrumen investasi yaitu reksadana saham dan reksadana pasar uang/deposito.

Reksadana saham berperan sebagai instrumen untuk mencetak keuntungan sementara reksadana pasaruang/deposito berperan sebagai pengaman keuntungan.

Strategi investasi yang terakhir dan sangat dikenal oleh investor secara luas yaitu strategi rupiah cost averaging.

Strategi investasi ini dilakukan dengan cara dimana investor tanpa melihat kondisi pasar baik ketika naik atau turun, melakukan investasi secara berkala setiap bulan. Strategi ini cocok digunakan bagi investor yang dananya masih terbatas dan memiliki jangka waktu yang masih panjang untuk mencapai tujuan keuangannya.

Penggunaan asumsi 11%-18% pada investor yang memanfaatkan strategi investasi ini terletak pada perhitungan besaran cicilan yang harus dilakukan.Sebagai contoh, apabila investor menginginkan nilai Rp 1 milyar 15 tahun kemudian, maka besarnya investasi bulanan yang harus dilakukan dengan asumsi return 11%-18% adalah sekitar Rp 2,18 juta dan Rp 1,08 juta per bulan.

Investor tinggal memilih, apakah dipergunakan asumsi yang konservatif, butuh dana lebih besar namun lebih pasti atau asumsi agresif dan butuh dana kecil, tapi ada kemungkinan bisa meleset?.

Bagi investor yang secara serius dalam menjadikan reksadana sebagai sarana untuk mencapai tujuan keuangan, strategi buy and hold mungkin tidak terlalu sesuai. Hal inidisebabkan karena investor dihadapkan pada periode investasi yang terlalu panjang karena ingin lebih aman, sikap “pasrah” serta tidak ada upaya untuk mengamankan profitinvestasi.

Sementara strategi portfolio rebalancing dan rupiah cost averaging mungkin lebih tepat namun dalam prakteknya masih terdapat beberapakendala. Salah satunya adalah biaya redemption dan subscription yang menggerus keuntungan investor serta belum banyak reksadana yang menerima pembelian dalam jumlah yang kecil.

Selainitu, investor perlu pintar-pintar dalam memilih reksadana, sebab belum tentu semua reksadana mampu memberikan tingkat return yang diinginkan oleh investor.

Di samping itu seorang investor disarankan untuk dari waktu ke waktu meningkatkan pengetahuannya tentang pasar.

Ini kalau mau meningkatkan potensi gain yang ingin dinikmati.

Memang pasar bergerak naik turun tetapi bukan berarti tidak bisa dipelajari. Dengan mengetahui pasar maka saat buy and hold bisa dilakukan pada level harga yang lebih menguntungkan serta hold pada time frame yang lebih pas.

Atau rebalancing pada pilihan investasi yang lebih tepat dan komposisi yang bukan asal tebak. Demikian juga untuk strategi cost averaging bisa dilakukan pada timing yang lebih tepat, misalnya tidak asal beli pada saat pasar sedang cenderung overbought.

Belajar dan menimba pengetahuan adalah aktivitas hidup yang jangan pernah berhenti, apalagi kalau itu memberi keuntungan lebih dalam investasi kita.

Anda setuju?

Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.

Selamat berinvestasi. (Reita Farianti, Presiden Direktur PT CIMB Principal Asset Management, Vibiznews)

Program Referral
Keuntungan yang Anda akan Peroleh!

* Penghasilan Tanpa Batas
* Bonus Komisi Yang Dibagikan Setiap Bulan
* Jam Kerja Yang Fleksibel
* Dapat Dilakukan Secara Online Maupun Offline
* Anda Akan Mendapat Pelatihan Yang Komprehensif
* Anda Akan Mendapatkan Pengarahan Konsultasi
* Penghasilan anda; Komisi, Bonus Bounty