Sisihkan Dana Lebih Saat Muda Agar Dapat Berfoya-Foya Saat Tua

By on July 9, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 512 kali

Perencanaan Keuangan – Berapapun jumlah penghasilan yang Anda dapatkan saat ini, harus ada yang disisihkan untuk persiapan di hari tua. Semua itu demi kebaikan masa depan Anda sendiri. Memang tidak mudah, tapi tips di bawah ini mungkin dapat membantu Anda.

1. Menambah saldo tabungan

Jika Anda seorang pegawai negeri yang gajinya ditransfer melalui rekening bank, itu adalah bentuk tabungan jangka pendek, karena uang yang ada dalam rekening adalah pengganti uang tunai di dalam dompet. Karena pengambilannya bisa dilakukan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan hidup Anda sehari-hari. Itulah sebabnya Anda harus memiliki rekening lain yang khusus digunakan untuk tabungan di hari tua. Lakukan pengisian saldo dengan tertib setiap bulan, minimal Anda menyisihkan uang untuk tabungan sepuluh persen dari gaji kotor. Dan jika ada kelebihan dana seperti mendapat bonus atau THR, sebaiknya disimpan dulu di dalam tabungan, selama Anda tidak membutuhkan dana yang sangat mendesak.

2. Belajar secara otodidak

Buku dan artikel seputar mengatur keuangan rumah tangga dapat menjadi guru Anda. Dari sinilah banyak hal yang bisa Anda petik dan tentu sangat efektif karena Anda tidak harus bersusah payah mencari guru untuk mempelajari ilmu keuangan. Selain itu, hendaknya belajar dari orang lain yang menurut Anda telah sukses dan punya pengalaman dalam mengelola keuangan rumah tangga.

3. Menanam investasi

Investasi tanah atau rumah jauh lebih menguntungkan dibandingkan menabung di bank, serta resiko akan merugi sangat kecil. Investasi ini makin hari semakin mahal. Itulah sebabnya jika Anda mempunyai dana lebih, sebaiknya diwujudkan dengan berinvestasi. Hindari membeli barang yang tidak memiliki nilai investasi, seperti perabot rumah tangga yang mewah, motor atau mobil. Sebelum Anda benar-benar mampu dan barang tersebut adalah suatu kebutuhan, sebaiknya dikesampingkan dahulu.

4. Memahami risiko

Investasi tidak lepas dari risiko. Dari sinilah mulai dipikirkan apakah Anda sudah mampu menghadapi semua risiko tersebut. Namun ada kalanya seseorang justru siap menanggung segala risiko yang mungkin akan terjadi. Hal ini ada kaitannya dari segi pengalaman, faktor usia, serta setabilitasnya pendapatan.

Misalnya saja Anda seorang pegawai negeri yang pendapatannya sudah bisa dipastikan rutin setiap bulannya, tentu akan lebih berani mengambil sebuah keputusan padahal risiko yang dihadapi sangat berat. Contohnya membeli barang dengan cara kredit atau mengambil pinjaman di bank yang pembayarannya dipotong gaji setiap bulannya. Jika hasil pinjaman tersebut untuk membeli barang yang nilai investasinya jauh lebih baik daripada bunga bank yang akan ditanggung, tentu tidak mengapa. Namun jika dari hasil pinjaman tersebut habis dibelanjakan berupa barang yang tidak ada nilai investasinya, sebaiknya keputusan tersebut untuk dihindari.

Lain halnya bagi seorang wiraswasta, yang pendapatannya tidak bisa dipastikan pada tiap bulannya. Keputusan seseorang untuk mengambil sebuah risiko tergantung pada perbedaan antara kondisi nyata saat ini dan kondisi yang diimpikan. Jika perbedaan itu terlalu besar, maka Anda akan mengambil risiko dengan tidak berinvestasi.

 

Sumber: Ari Supriadi/keluarga.com