Siasat Bisnis: Hati-Hati Terhadap Skema Piramida

By on April 5, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 3,433 kali

Siasat Bisnis: Hati-Hati Terhadap Skema Piramida

Skema piramida alias Ponzi Scheme akan selalu mengintai, baik ketika perekonomian sedang baik maupun kurang baik. Baru-baru ini, Golden Traders Indonesia Syariah berbasis di Malaysia yang disertifikasi oleh Majelis Ulama Indonesia yang terkenal dengan impunitasnya, para pengembang bisnis skema piramida dari luar negeri bisa dipastikan sudah “mengincar” dengan mengeluarkan air liur.

Seorang “investor” pemula sebaiknya mengenali betul ciri-ciri skema piramida, terlepas dari “kedok”nya yang merupakan business model. Kasus di atas, misalnya, menggunakan investasi emas sebagai model bisnis. Ada juga yang menggunakan investasi lainnya, sebagaimana Bernie Madoff di AS. Dari berbagai model yang beredar di jejaring sosial yang penulis amati, ada juga yang hanya bermodel “cuap-cuap janji-janji gombal”.

Salah satu model bisnis lainnya adalah janji kerja sama sebagai partner pertambangan. Berhati-hatilah dengan modus operandi “investasi tambang” seperti batu bara, emas, dan berbagai jenis metal lainnya. “Perang uang” dan “pertumpahan darah” tidak jarang terjadi demi mendapatkan tambang sumber “kekayaan instan.” Ini bisa dijadikan salah satu cara mendapatkan dana “investasi” dari mereka yang ingin kaya mendadak.

Paling tidak, ada lima hal yang bisa diamati untuk menghindari penipuan berskema piramida maupun investasi dengan tujuan “kaya mendadak.” Khusus untuk Indonesia, sesungguhnya lebih dari lima ciri yang perlu diperhatikan.

Sayangnya, tidak ada financial database yang mencatat perilaku dan aktivitas kredit dan finansial dari setiap individu pembayar pajak di Indonesia. Catatan kredit konsumen antar-bank hanya mencakup pencatatan aktivitas-aktivitas terbatas, seperti peminjaman uang dan perilaku pembayaran utang kembali. Apabila Anda memliki akses ini, gunakan dengan sebaik mungkin.

Para Investor asal Indonesia (maaf) terkenal naif dan “ingin cepat kaya” tanpa banyak mempelajari teori dan praktik finansial. Tidak jarang mereka mengharapkan balik modal pada bisnis baru dalam satu atau dua tahun saja. Kultur “kaya mendadak” memang kerap menjadi “kambing hitam” kegagalan investasi.

Pertama, ROI alias return on investment yang sangat tinggi, bisa lebih dari 25 % dalam waktu dekat. Kuncinya adalah rate of return rata-rata investasi di pasar saham. Jika investasi yang ditawarkan bisa memberi hasil jauh lebih cepat dengan waktu sangat pendek, kemungkinan besar investasi itu fiktif.

Kedua, penggunaan nama-nama institusi dan individu sebagai pendukung, endorser, pemilik, maupun penasehat yang berasal dari latar belakang yang non-finansial. Sebagai contoh, MUI yang merupakan organisasi keagamaan bukanlah endorser yang pantas diperhitungkan dalam dunia investasi. Para politisi maupun anggota legislatif mungkin merupakan backing yang cukup tinggi pamornya, namun bukanlah pendukung yang pantas diperhatikan.

Ketiga, cross check dengan institusi-institusi pemberi standar maupun surveyor jika memungkinkan. Sebagai contoh, lembaga-lembaga surveyor yang mengeluarkan sertifikasi bagi tambang dan barang-barang hasil tambang, bisa dimintai pertanggungjawaban secara profesional.

Pegang baik-baik sertifikasinya da cek-ricek keabsahannya. Pertanyakan dalam keadaan apa survei dilakukan, siapa yang memohon diadakan survei, dan apa saja yang perlu disertakan supaya survei dilakukan.

Keempat, dapatkan foto kopi KTP dari pimpinan utama program investasi yang ditawarkan, kalau bisa CEO dan para anggota direksi dan komisaris. Jangan ragu untuk bertindak sebagai investigator privat sebagaimana detektif. Uang Anda dalam jumlah besar perlu dilindungi dengan usaha-usaha yang konkret. Kepercayaan harus diraih, bukan diberikan begitu saja secara cuma-cuma hanya karena seseorang mempunyai “tampang” orang besar maupun “kelihatannya” seperti orang hebat.

Kelima, cek dan ricek status perusahaan di Indonesia dan di luar negeri yang menjadi afiliasi maupun induknya. Gunakan jasa-jasa keduataan besar dan konsulat, termasuk atase perdagangan dari negara yang bersangkutan. Jangan ragu untuk melakukan investigasi mendalam. Hubungi mereka dengan tatap muka dan gunakan hak Anda sebagai warga dunia.

Lebih baik buang waktu beberapa jam daripada kehilangan uang dalam jumlah besar. Kultur “segan terhadap birokrasi” seringkali menutup hak-hak individu untuk mendapatkan keterangan yang sesungguhnya.

Akhir kata, lakukan investigasi individu, harga, ROI, dan barang yang menjadi pokok investasi. Apapun yang kelihatan “sumbang” maupun to good to be true alias, maka bisa dipastikan ini adalah program investasi akal-akalan. Jadilah calon investor cerdas yang melakukan investigasi forensik. (Siasat Bisnis, Jennie S. Bev, Kontan)