Seluk Beluk Berinvestasi Properti

By on June 23, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 385 kali

Investasi Properti – Insting untuk memiliki rumah adalah lumrah dimiliki tiap manusia. Kita selalu ingin memiliki sebuah tempat yang bisa kita jadikan tujuan untuk ”pulang”, ya kan?

Di luar kepuasan hasrat itu, memiliki rumah maupun properti lain terhitung investasi yang bagus. Di sisi lain, keputusan itu bisa jadi kesalahan paling fatal. Yang mana yang akan terjadi, tergantung apa yang Anda beli, di mana Anda membelinya, dan bagaimana Anda membayarnya.

Beli Rumah, Seberapa Sanggup?

Kebanyakan pembeli rumah meminjam 80 hingga 90 persen dari harga pembelian. Persentase yang tersisa–disebut juga ”uang muka”–harus mereka bayarkan dalam bentuk uang tunai. KPR boleh jadi salah satu, kalau bukan satu-satunya, komitmen terbesar yang Anda jalani. Jadi hitunglah dulu, berapa banyak yang Anda sanggup pinjam?

Para pakar bisa menghitungnya untuk Anda, berdasarkan besarnya gaji dan pendapatan lainnya. Tapi panduan berikut perlu Anda ingat. Pertama, cicilan KPR bulanan yang melampaui 30 persen dari pendapatan bulanan Anda termasuk berlebihan. Kedua, hitung semua pengeluaran potensial. Biaya pengobatan orang tua Anda, misalnya. Ketiga, makin tinggi nilai rumah itu dan makin banyak fasilitas yang melengkapinya, seperti pusat kebugaran, kolam renang, dan lapangan tenis, mungkin makin besar pula biaya perawatan yang harus Anda tanggung tiap bulan.

Beli Rumah dengan Proxy

Anda ingin beli sebuah rumah, tapi sayangnya keuangan belum mumpuni. Anda ingin menabung sedari sekarang, mungkin lantaran cemas harga properti terus naik melampaui kapasitas Anda.

Alternatifnya adalah membeli dengan proxy. Bukan, ini bukan istilah IT. Maksudnya, alih-alih beli rumah, Anda beli saja saham pengembang yang membangun rumah yang Anda incar. Saat pasar properti membaik, harga rumah naik, harga saham pengembang mestinya ikut naik juga. Saat tiba saatnya beli rumah, Anda bisa menjual saham itu untuk membayar uang muka. Skenarionya tidak selalu seperti itu, dan ingat, investasi memang selalu mengandung risiko.

Alternatifnya, Anda bisa saja membeli reksadana bertema real estate atau REIT (Real Estate Investment Trust).

Memilih Rumah yang Tepat

Kalau Anda tahu persis apa yang Anda inginkan dari sebuah rumah, termasuk lokasi dambaan, pencarian Anda tentu jauh lebih mudah. Jangan lupa pertimbangkan:

1. Fitur dan fasilitas, misalnya taman, kolam renang, dekat dengan transportasi umum, dan lain-lain
2. Potensi naiknya, atau turunnya, nilai
3. Desain dan ukuran
4. Harga
5. Jumlah kamar tidur dan kamar mandi, mengingat orang tua dan anak-anak Anda mungkin butuh keleluasaan pribadi
6. Kebutuhan khusus keluarga, misalnya kamar tidur di lantai pertama untuk orang tua Anda supaya mereka tidak perlu naik turun tangga tiap hari
7. Kualitas, usia, dan kondisi bangunan
8. Adanya sekolah di sekitarnya

Rayakan saat Harga Rumah Turun

Properti termasuk salah satu investasi yang paling tidak likuid. Menjual rumah bisa butuh waktu lama, terutama saat pasar sedang lesu. Buka mata Anda untuk menemukan penawaran yang bagus. Saat harga-harga rumah sedang jatuh adalah saat paling tepat untuk berburu rumah idaman.

Jangan pula bermuram durja saat harga rumah turun tepat setelah Anda membelinya. Banyak pemilik rumah cemas saat nilai rumah mereka anjlok, kemudian beranggapan investasi terbesar mereka itu jadi kesalahan terfatal. Padahal belum tentu begitu.

Kekayaan bukan apa yang Anda miliki (dalam rupiah), melainkan apa yang Anda bisa beli. Kalau Anda sedang mencari rumah lebih besar, atau properti kedua atau ketiga, Anda adalah pembeli sekaligus penjual. Turunnya harga berarti Anda bisa memperoleh properti baru dengan harga lebih rendah. Orang yang merugi akibat lesunya pasar properti hanyalah mereka yang berencana menjual propertinya demi uang tunai. Jadi benarkah turunnya harga itu merugikan? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung bagaimana Anda selama ini mengelola uang.

Ingat, merosotnya pasar tidak terhindari. Sama seperti terbit dan terbenamnya matahari, pasti terjadi. Pastikan Anda berada dalam posisi keuangan yang baik sehingga bisa memanfaatkan kondisi pasar itu, bukan malah merugi karenanya.

Jebakan Suku Bunga KPR Murah(an)

Krisis keuangan global yang bermula di AS sekitar tahun 2007 dan kemudian melanda seluruh dunia berakar dari jatuhnya pasar KPR subprime. Orang-orang yang tidak sanggup membeli rumah ditawari pinjaman tanpa uang muka. Mereka tergoda menerimanya untuk membeli rumah-rumah yang sesungguhnya di luar kapasitas mereka. Kreditur mengklaim kredit ”mudah dan murah” itu sebagai, ”Sedikit bantuan ekstra.”

Sistem itu tidak langgeng. Bahkan kemudian ambruk seperti deretan kartu. Saat itulah dunia belajar satu pelajaran penting: Uang yang kelewat mudah diperoleh, biasanya berujung pelunasan yang susah.

Untuk memikat para pembeli, kreditur menyusun syarat dan ketentuan KPR sedemikian rupa sehingga orang-orang bisa memiliki rumah dengan sedikit sekali–atau bahkan tanpa–uang muka dan bunga pertama. Pelunasan, selewat beberapa tahun, makin lama makin macet. Coba pikir. Kalau Anda kesulitan menanggung uang muka dan cicilan pertama KPR, mungkinkah Anda sanggup membayar cicilan-cicilan berikutnya?

Karena rumah termasuk investasi terbesar, maka cicilan KPR adalah pengeluaran terbesar. Carilah KPR dengan suku bunga yang bagus, tapi jangan sampai tergoda pinjaman yang menawarkan beragam kemudahan di awal dan mencekik belakangan.

Kalau Anda beli properti untuk investasi dan berharap bisa menggunakan uang sewanya untuk membayar sebagian atau seluruh cicilan KPR, Anda harus ekstra hati-hati. Saat nilai properti Anda jatuh jadi lebih rendah dibandingkan total pinjaman, kreditur biasanya ingin Anda membayar selisihnya, atau menyerahkan properti itu. Kreditur bersikap lebih fleksibel terhadap properti yang Anda tinggali dibandingkan properti yang Anda beli untuk investasi. Hitung dengan teliti, siapkan marjin pelunasan yang sehat, dan hindari berutang kelewat banyak.

 

Sumber: mywealth.co.id