Sebastian Berburu Startup Dengan Semangat Berbagi

By on October 17, 2014 | Artikel ini Sudah di baca 1,330 kali

Banyak orang mempunyai impian sejak masa kecil. Dengan bermimpi, mereka mampu mengumpulkan tekad dan semangat untuk mewujudkannya, ketika usia sudah semakin matang.

Menjadi pengusaha merupakan impian masa kecil Sebastian Togelang. Meski bukan berasal dari keluarga pengusaha, pria kelahiran Stuttgart, 36 tahun silam ini mengaku senang berjualan kecil-kecilan sejak masih sekolah.

Jalan untuk menjadi pengusaha mulai terbuka ketika dia duduk di bangku kuliah. Saat meneruskan pendidikannya di Goethe University Frankfurt, Jerman, dia mengikuti kompetisi bisnis di kampusnya. “Dari 400 orang yang mendaftar, saya termasuk dari empat pemenang di kompetisi itu,” kenang Sebastian yang belajar dua bidang ilmu sekaligus, yakni Ekonomi dan Teknologi Informasi (TI).

Dengan dukungan dari kampus dan pemerintah Jerman, Sebastian yang waktu itu masih berusia 22 tahun menjadi salah satu peserta program inkubator untuk wirausahawan di kampusnya. Dari kompetisi itu juga, dia mengenal mentor yang kemudian jadi rekan bisnisnya sekarang, Andy Zain.

 Bermula dari kompetisi ini pula, Sebastian merintis perusahaan pertamanya, yakni perusahaan  outsourcing di bidang TI. Jasa yang ditawarkan Sebastian adalah menyewakan tenaga kerja TI dari berbagai negara, seperti Ukraina dan India, untuk proyek di Jerman.

Tak berhenti pada satu perusahaan, Sebastian mendirikan dua perusahaan lagi yang bergerak di bidang pemasaran dan tenaga kerja. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Tanah Air dan mendirikan usaha baru yang berbeda dari usaha sebelumnya.

Pada 2013, Sebastian mendirikan Mountain South East Asia (MSEA) yang merupakan perusahaan modal ventura. Bersama rekannya, Andy Zain, ia berperan sebagai investor yang mendanai startup atau perusahaan yang baru berdiri. MSEA merupakan joint venture dengan perusahaan global yakni Mountain Partners. Perusahaan yang terletak di Swiss ini sudah mendirikan lebih dari 200 perusahaan atau startup.

Berbagi pengalaman

Sejatinya, Sebastian bilang, pada 2006, dia sudah mulai melirik peluang bisnis digital di Indonesia. Namun, saat itu pengguna internet di dalam negeri hanya 5 juta orang. Maklumlah, koneksi internet masih lambat dan harganya mahal. Dia menahan diri dan kembali fokus mengembangkan perusahaannya di Jerman.

Ketika kembali ke Indonesia pada 2012, pengguna internet di Indonesia sudah membengkak menjadi 60 juta orang. Pemain di bisnis e-commerce pun bermunculan. Sebastian menilai masa menggulirkan bisnis yang terkait dengan internet sudah tiba. “Waktunya sudah tepat jadi pada November 2013, MSEA beroperasi,” ujarnya.

Lantas, dia menjual ketiga perusahaannya di Jerman untuk merintis MSEA. “Saya merasa pengalaman membangun perusahaan di Jerman sudah cukup dan saya ingin memberikan pengetahuan saya pada orang lain untuk mendirikan startup,” tutur Sebastian. Pilihannya berperan sebagai venture capital juga didasari oleh kegemarannya berurusan dengan banyak hal dan kreativitas, serta kecocokan secara personal.

MSEA punya dua lini bisnis yang fokus berinvestasi pada perusahaan baru. Pertama, MSEA bekerja sama dengan Indosat melalui program Idea Box. Sejauh ini, Sebastian sudah investasi di empat perusahaan melalui road show yang dilakukan di beberapa kota. Mereka adalah Shoop, Dealoka, Ngomik dan Unyu.

Tak hanya dimodali secara finansial, dia juga memberi pelatihan selama empat bulan.  “Startup yang kami pilih masih berada dalam tataran idea stage dan berhubungan dengan dunia telekomunikasi,” terang dia.

Kedua, MSEA punya accelerator program. Jadi, Sebastian mendirikan startup yang bergerak di bidang digital milik sendiri. Sebastian mengatakan hingga saat ini, MSEA sudah meluncurkan tiga perusahaan, di antaranya, www.cekaja.com dan www.qerja.com.

MSEA mendirikan perusahaan sendiri lantaran kadang ada perusahaan yang tidak cocok dengan visi dan misi MSEA meski ide usahanya kreatif. Tujuan utama pendirian perusahaan untuk dikembangkan atau untuk dijual di masa depan. Jangka waktu pelatihan pun lebih lama, bisa setahun hingga perusahaan bisa mandiri.

Cekaja merupakan situs perbandingan produk perbankan. Jadi calon nasabah bisa memilih produk perbankan terbaik untuknya. Tak hanya membandingkan, calon nasabah bahkan bisa bertransaksi. MSEA pun mendapat komisi dari setiap transaksi perbankan yang dilakukan via situs ini. Adapun Qerja merupakan situs serupa namun dalam dunia pekerjaan. Jadi calon karyawan bisa mengetahui seluk-beluk suatu perusahaan sebelum melamar pekerjaan tersebut.

Dalam waktu dekat, MSEA akan meluncurkan tiga perusahaan lagi. “Kami juga sedang menyiapkan dua startup yang akan kami dirikan lalu kami launching di dalam negeri,” kata Sebastian.

Kelebihan MSEA bukan hanya pada modal cukup besar yang diberikan. Asal tahu saja, untuk tiap startup, MSEA bisa mengucurkan modal hingga kisaran US$ 500.000 – US$ 1 juta. Namun, MSEA juga terlibat langsung untuk tiap startup yang digandengnya. Bahkan tak jarang Sebastian mengikuti rapat dengan tim startup. “Kami sangat hands on karena kami ingin membuka jalan agar mereka berkembang,” ujar dia.

Selain itu, MSEA terlibat dalam manajemen. Tak segan, Sebastian akan menggunakan kekuatan jaringan dan teknologi. Maklum, jaringan menjadi salah satu kelemahan dari pelaku startup. Tak hanya di Indonesiam tapi juga secara global karena venture capitalist ini bekerja sama dengan Mountain Partners. “Di Indonesia belum banyak modal ventura yang begitu,” tegas dia.

Lima syarat pengusaha

Mountain Southeast Asia Venture (MSEA) bisa dibilang ngebut di tahun pertamanya. Buktinya, perusahaan modal ventura ini sudah menggaet tujuh startup.  Toh, Founding Partner MSEA, Sebastian Togelang, menuturkan, target perusahaan itu tetap menghasilkan perusahaan bermutu tinggi. “Agar perusahaan yang kami bangun bisa digunakan oleh sebanyak mungkin masyarakat Indonesia,” katanya.

Sejak awal, Sebastian memang sudah berpikir global. Makanya, startup yang sudah berjalan di Indonesia juga akan diluncurkan ke luar negeri. Dalam waktu dekat, MSEA akan meluncurkan duastartup di Filipina. Setelah itu, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Tak hanya itu, Sebastian mengungkapkan kemungkinan MSEA menambah lini bisnis. Kalau saat ini, MSEA fokus investasi pada awal perusahaan berdiri, rencananya perusahaan ini juga akan menambah lini di bidang growth atau pertumbuhan perusahaan.

Memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang teknologi, digital dan startup, membuat Sebastian punya kriteria tersendiri untuk startup. Tak hanya bergantung pada ide kreatif, startup butuh entrepreneur yang profesional serta punya rasa memiliki yang sangat tinggi terhadap perusahaan yang dirintisnya. “Bahkan, perusahaan itu harus dianggap bayi yang harus terus-menerus dirawat,” ujar dia.

Pria yang pernah berkarir di Deutsche Bank & Deutsche Boerse ini bilang, dari segi investasi dan jaringan, MSEA tidak menghadapi kendala. Kesulitan justru dirasakan MSEA saat mencari entrepreneur berkualitas. Setidaknya, ia menyebutkan lima kriteria seorang entrepreneur, yakni bisa mengeksekusi ide, kerja keras, optimistis perusahaannya akan maju, termotivasi untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan, serta bisa memimpin tim yang kuat.