Saham Syariah dan Perbedaannya dengan Saham Konvensional

By on August 13, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 389 kali

Investasi SahamDefinisi saham syariah

Saham syariah adalah lembaran bukti kepemilikan atas suatu perseroan atau perusahaan penerbit saham yang mana perusahaan tersebut telah memenuhi persyaratan sebagai pihak emiten syariah. Implementasi prinsip syariah terhadap instrument saham dilihat dari penilaian atas sebuah saham yang dikeluarkan oleh pihak perusahaan yang bersangkutan. Bagaimana suatu saham dapat disebut sebagai saham syariah? Suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah apabila saham tersebut memenuhi kriteria prinsip syariah dan perusahaan yang menerbitkannya tidak termasuk dalam kelompok usaha yang dilarang islam. Beberapa contoh usaha yang tidak masuk dalam kategori usaha berprinsip syariah antara lain  usaha memproduksi dan menjual minuman beralkohol, judi, usaha memproduksi suatu produk yang berbahan babi, usaha yang berbau pornografi, jasa keuangan konvensional, dan asuransi konvensional.

Contoh kelompok usaha di atas dilihat dari jenis kegiatan usaha perusahaan-perusahaan yang bersangkutan. Jika dilihat dari sector permodalan, memenuhi atau tidaknya suatu perusahaan untuk dianggap sebagai penerbit saham syariah dapatd ilihat dari rasio atas kas dan asset perusahaan, kas dan keamanan modal terhadap rasio, dan rasio utang dan ekuitas.

Prosedur transaksi saham syariah

Adapun prosedur dalam bertransaksi saham syariah adalah sebagai berikut:

· Klien atau investor menjadi nasabah perusahaan efek terlebih dahulu dengan cara menyetor sejumlah dana. Ada yang mengatakan bahwa  nasabah diharuskan membeli saham minimal 500 lembar saham.
· Jika klien ingin menjual atau membeli saham, ia harus memberikan instruksi pada perusahaan efek untuk menjual atau membeli saham pada perusahaan efek tersebut yang tak lain sebagai broker. Instruksi dapat disampaikan via telepon atau bisa juga via keterangan tertulis yang mencantumkan nama saham, jumlah saham yang akan dijual atau dibeli, dan kisaran harga yang diinginkan oleh klien.
· Instruksi dari klien tersebut kemudian akan mendapatkan verifikasi dari perusahaan efek kemudian dilanjutkan ke sesi jual beli saham di bursa saham/ bursa efek.
· Kumpulan instruksi jual/ beli saham dari para kliens kemudian dikumpulkan dan dijadikan sebagai anggota bursa dan dimasukan ke dalam sistem JATS.
· Jual beli saham kemudian diproses dengan menggunakan sistem JATS. Dalam proses transaksi saham seperti ini, ada satu hal yang diprioritaskan, yaitu harga saham.
· Jika terdapat permintaan beli dan penawaran jual dengan harga yang sama, sistem JATS akan menjadikan penawaran jual atau permintaan beli yang paling dulu muncul sebagai prioritas (time priority).
· Transaksi bursa  baik di pasar tunai atau pasar regular mendapat jaminan dari KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia).
· Penyelesaian kegiatan transaksi saham di pasar tunai ataupun pasar bursa akan dilakukan melalui KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) setelah semua proses transaksi lolos dari proses kliring via netting oleh pihak KPEI.

Lantas apa perbedaan yang signifikan antara saham syariah dan saham konvensional? Salah satu perbedaan yang sangat mencolok antara saham syariah dan saham konvensional adalah bahwa saham syariah tidak menyertakan riba (bunga) layaknya saham konvensional. Saham syariah mengadopsi prinsip bagi hasil dan juga risiko antara emiten dan investor. Dalam islam, sistem bagi hasil seperti ini disebut syirkah dan musyarakah. Ketika perusahaan yang didanai oleh pihak investor mendapatkan laba, investor juga turut mendapatkan keuntungan. Sebaliknya, ketika perusahaan mengalami kerugian, investor juga akan menanggung kerugian. Dan besarnya keuntungan yang didapatkan oleh pihak perusahaan dan investor ditentukan melalui akad  terlebih dahulu. Tidak ada ruginya untuk berinvestasi saham syariah, bukan begitu? Anda pun boleh mencoba berinvestasi saham syariah.