Rupiah Sulit Tembus ke Bawah 13.000

By on March 20, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 3,526 kali

RupiahBerita – Otot rupiah bangkit tiga hari berturut-turut. Kemarin, kurs tengah Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah di level Rp 13.008 per dollar Amerika Serikat (AS). Faktor penguat rupiah ini utamanya berasal dari sentimen eksternal.

Rapat Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) atau Federal Open Market Committee (FOMC) meeting, kemarin, memutuskan untuk menunda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Ekonomi AS dinilai belum sesuai harapan. Alhasil, kalaupun suku bunga naik, targetnya dipangkas dari 1,125% menjadi 0,625%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS juga dipangkas dari 2,5%-2,7% menjadi 2,3%-2,5%.

Sentimen dari dalam negeri, pelaku pasar menyambut positif data ekonomi dan langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga 7,5%. Toh, hingga akhir tahun, analis melihat, rupiah masih sulit menguat di bawah Rp 13.000.

Rupiah masih harus waspada. Pasca FOMC meeting, dollar sempat terkapar. Tapi kembali naik terhadap sejumlah mata uang dunia seperti EUR, AUD, GBP dan JPY.

Reny Eka Putri, Analis Pasar Uang Bank Mandiri Tbk menilai, pernyataan The Fed tak sesuai ekspektasi. “Sehingga rupiah di akhir Maret 2015 bisa kembali ke posisi 13.000,” kata Reny. FOMC meeting yang paling dinanti pasar sudah berlalu. Sedangkan data ekonomi AS, tak akan terlalu menekan rupiah.

“Puncaknya Maret, ya, FOMC. Peluang rupiah menjaga penguatan terbuka,” kata Suluh Adil Wicaksono, Analis Millenium Penata Futures. Tapi penguatan rupiah terbatas dan sulit menembus di bawah Rp 13.000.

David Sumual, Ekonom Bank Central Asia (BCA) mengatakan, di semester I-2105, peluang kenaikan bunga The Fed tetap terbuka. Asalkan inflasi AS mencapai target. Pada semester I-2015 ini, David memprediksi, kurs rupiah di Rp 12.800- Rp 13.300. Pelaku pasar juga perlu mencermati musim pembagian dividen dan tingginya utang jatuh tempo tahun ini. “April diperkirakan menjadi puncak jatuh tempo utang tahun ini,” ujar tresuri Bank Eropa di Singapura.

Reny menyebutkan BI bisa kembali menurunkan suku bunga asalkan sesuai fundamental ekonomi Indonesia. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 5,5%, BI harus menurunkan bunga acuan ke level 7,25%. “Dengan kondisi fundamental seperti itu level rupiah yang sesuai di akhir 2015 di Rp 13.200,” kata Reny.

 

Sumber: KONTAN