Rupiah Jadi Korban Kenaikan BBM yang Tidak Jelas

By on May 30, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 3,167 kali

Rupiah Jadi Korban Kenaikan BBM yang Tidak Jelas

Tak kunjung jelasnya kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai memakan korban. Salah satunya adalah nilai tukar rupiah yang terus menunjukan tren melemah.

Data kurs tengah Bank Indonesia (BI) sepanjang Mei 2013 menunjukan, kurs beli rupiah yang berada di level 9.681 per dollar AS pada awal Mei 2013, terus melemah menjadi 9.761 per dollar AS pada 29 Mei 2013.

Sementara kurs beli rupiah yang sempat menyentuh level 9,779 pada awal Mei, terus melorot ke level 9.859 per dollar pada 29 Mei 2013.

“Rupiah turun karena faktor eksternal dan internal,” ujar Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Kamis (30/5/2013).

Menurut Reza, faktor pelemahan nilai tukar rupiah dari sisi eksternal berasal dari melemahnya nilai tukar Yenn dan apresiasi dollar AS karena rencana penarikan stimulus Bank Sentral AS (The Fed).

Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah dipicu oleh rencana kenaikan harga BBM yang ikut memicu kenaikan premi risiko. “Semakin mundur, maka beban subsidi yang ditanggung semakin besar dan dampaknya ke neraca perdagangan,” kata Reza.

BI, sebagai otoritas moneter di tanah air, dinilai tak bisa begitu saja melakukan intervensi pada pelemahan nilai tukar rupiah. “Sayang juga kalaU Cadev terus tergerus,” ujarnya.

Dia mengusulkan agar BI menciptakan instrumen valuta asing yang bisa diperdagangkan di dalam negeri. Kebijakan ini dianggap bisa membuat BI mengontrol nilai Valas.

“Yang paling penting sih dari pemerintah. Niat atau tidak naikkan harga BBM. Jangan cuma wacana ajah,” kata dia.

(Nurseffi Dwi Wahyuni, Liputan6 News)