Reksadana Terkena Imbas IHSG yang Sekarat

By on May 5, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 2,260 kali

Berita – Industri reksadana terkena imbas koreksi pasar modal. Data Infovesta Utama memperlihatkan, seluruh jenis reksadana mencatat pertumbuhan kinerja minus di bulan April lalu.

Indeks imbal hasil (return) reksadana saham minus 7,56%. Sedangkan, indeks imbal hasil reksadana pendapatan tetap dan campuran masing-masing minus 0,63% dan minus 4,66%.

Sementara sejak akhir tahun 2014 hingga akhir April 2015 atau year to date (ytd), indeks reksadana saham minus 5,28% dan reksadana campuran minus 2,54%. Hanya reksadana pendapatan tetap yang masih positif 2,46%.

Di bulan April, dari 157 reksadana saham, hanya satu reksadana yang berhasil membukukan return positif, yakni SAM Educational Equity dengan return 0,37%. Sementara reksadana saham dengan pencapaian return terendah adalah Syailendra Dana Ekuitas Plus yang minus 16,69%.

Kendati demikian, rata-rata kinerja reksadana saham sepanjang April masih lebih baik dibandingkan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam rentang waktu sama yang minus 7,83%.

Analis Infovesta Utama Viliawati menilai,  hasil laporan keuangan emiten dan perlambatan ekonomi kuartal I-2015 yang di bawah ekspektasi memberikan tekanan yang cukup dalam pada bursa saham pada akhir April kemarin. Hal tersebut otomatis membuat kinerja reksadana saham terkoreksi.

Namun Viliawati bilang, kinerja reksadana saham masih lebih baik dibandingkan  IHSG karena pelemahan sektor saham yang menjadi mayoritas aset dasar portofolio reksadana saham relatif lebih kecil dibandingkan  pelemahan IHSG.  “Kinerja reksadana saham juga masih akan fluktuatif akibat risiko potensi pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Viliawati.

Kendati demikian, reksadana saham masih jadi unggulan hingga akhir tahun nanti dibandingkan jenis lain. “Indeks return tahunan akhir tahun 2015 nanti untuk reksadana saham antara 11%-14%, reksadana campuran di rentang  9%-11% dan reksadana pendapatan tetap sebesar 7%-8%,” prediksinya.

Sedangkan di bulan Mei, beberapa sentimen berpotensi mempengaruhi kinerja reksadana saham, yakni pengumuman indikator ekonomi, pengumuman  laporan keuangan emiten kuartal I serta aliran dana asing. “Kinerja reksadana saham diperkirakan berpotensi menguat meski tipis,” ujar Viliawati.

Di tengah situasi pasar yang tengah galau, manajer investasi (MI) harus meracik ulang strategi portofolio reksadana mereka. Head of Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Anggun Indallah mengatakan, reksadana saham MAMI aktif mencari potensi berbagai sektor saham yang sesuai dengan ekspektasi return reksadana yang dikelola. “Sedangkan pada reksadana campuran, kami akan aktif mencari aset mana yang lebih menarik,” papar Anggun.

 

Sumber: KONTAN