Reksadana Bakal Dijual di Minimarket

By on May 1, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,387 kali
investasi reksadana

Reksadana Bakal Dijual di Minimarket

Membeli reksadana akan semudah membeli sabun di minimarket. Maklum, reksadana bakal terpajang di etalase ritel modern serupa Alfamart dan Indomaret.

Asal tahu saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggodok aturan tentang Pendaftaran Agen Penjual Efek Reksadana. Salah satu butir dalam beleid yang diterima KONTAN adalah perluasan jalur penjualan reksadana.

Selama ini, penjual reksadana berkutat di perusahaan manajer investasi, bank serta perusahaan sekuritas. Nah, draf aturan OJK menyebutkan, perusahaan asuransi, perusahaan perencana keuangan, Kantor Pos, Pegadaian, hingga toko ritel, boleh menjual reksadana. Bahkan, kalangan perorangan, seperti perencana keuangan dan penasihat investasi berhak menjual reksadana (lihat aturan selengkapnya di tabel).

Ini terobosan besar OJK bagi industri reksadana. Penambahan jalur distribusi reksadana ini membuka akses lebih luas. Investor reksadana bakal meningkat dan masyarakat punya pilihan berinvestasi sehingga tak selalu terjebak investasi bodong.

Sebagai gambaran, reksadana belum sepopuler tabungan. Produk pertama reksadana hadir pertama kali di Indonesia tahun 1976 atau sekitar 37 tahun lalu. Nyatanya, kendati nyaris empat dekade hadir di Tanah Air, hingga Maret 2013, jumlah pemegang unit reksadana hanya 531.254 atau 0,2% total penduduk Indonesia. Padahal, bisa jadi satu orang memiliki dua atau lebih penyertaan. Total dana kelolaan reksadana Rp 192,89 triliun.

Tentu saja, PR selanjutnya yang harus dibenahi OJK adalah pengawasannya. Tanpa pengawasan ketat, niscaya perluasan jalur penjualan reksadana ini malah membawa mudarat besar ketimbang manfaat. Misalnya, penipuan berkedok agen penjual reksadana hingga reksadana bodong bakal marak. Tanpa benteng pengawasan, modus-modus penipuan itu akan membuat kapok masyarakat berinvestasi di reksadana.

Menurut Analis PT Infovesta Utama, Viliawati, perluasan jalur penjualan reksadana membawa konsekuensi besar. Salah satunya adalah kesiapan sumberdaya manusia. Sebab, syarat utama penjual reksadana adalah harus memiliki lisensi wakil agen penjual efek reksadana. Persoalannya, pemilik lisensi wakil agen penjual reksadana di Tanah Air masih sedikit.

Vilia menyarankan, OJK harus memperketat izin dan syarat peluncuran reksadana baru demi menghindari penipuan berkedok reksadana. “Agen penjual juga wajib memiliki izin sebagai agen terdaftar di OJK,” imbuh dia.

Hans Kwee, Direktur Emco Asset Management (perusahaan manajer investasi), senang dengan kehadiran beleid ini asal pengawasannya lebih ketat. “Ini perlu untuk menghindari agen penjualan reksadana tak jelas,” kata Hans. (Wahyu Satriani, Kontan)