Redemption dan Subscribtion Reksadana

By on July 15, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,302 kali
Investasi Reksadana

Redemption dan Subscribtion Reksadana

Investasi Reksadana – Mendengar istilah redemption dan subscibtion reksadana, pasti saya yakin kebanyakan dari anda sudah memahaminya. Ya, Redemption maksudnya adalah pencairan atau penjualan suatu investasi reksadana, sedangkan untuk subscribtion sendiri artinya pembelian atau investasi reksadana. Akan tetapi kenyataannya dari istilah tersebut sebenarnya masih kurang tepat.

Jadi yang sesuai yaitu seperti berikut ini :

  • Subscribtion adalah penjualan
  • Redemption adalah penjualan kembali

Berdasarkan prospektus, dari istilah tersebut yang paling sesuai artinya ya seperti di atas. Pada dasarnya yang disebut dengan adanya biaya penjualan yaitu biaya subscribtion. Akan tetapi subscribtion sendiri di intepretasikan sebagai biaya dari pembelian sedangkan redemption disebut sebagai biaya dari penjualan. Sementara yang paling benar yaitu biaya penjualan serta biaya penjualan kembali. Jadi tidak hanya cara penyebutannya saja yang keliru, namun juga hitungannya berbeda.

Apabila anda membaca pada prospektus yang menggunakan bahasa Indonesia dan anda menemui biaya penjualan, sebenarnya yang dimaksudkan disana adalah biaya yang digunakan untuk membeli reksadana. Penggunaan istilah penjualan dan juga penjualan kembali itu dikarenakan pada reksadana apabila ada investor yang hendak melakukan investasi, maka proses yang sebenarnya terjadi yaitu seorang MI “Menjual” sebuah reksadana kepada seorang investor. Dengan demikian biaya yang timbul tersebut dikenal dengan biaya penjualan. Pada saat sang investor hendak mencairkan investasi yang dimilikinya, maka seorang investor tersebut “Menjual Kembali” penyertaan reksadana miliknya kepada MI. Oleh sebab itu mengapa hal ini disebut degan “Menjual Kembali”.

Sebenarnya transaksi yang ada pada reksadana tidak sama dengan transaksi saham. Jadi unit penyertaan milik seorang investor akan berpindah tangan kepada MI, sedangkan apabila kita melakukan transaksi obligasi maupun saham, lembaran obligasi ataupun saham yang dimiliki akan berpindah tangan kepada perusahaan ( kepada pihak penerbit layaknya seorang MI), akan tetapi yang biasanya terjadi yaitu justru berpindah tangan dari satu investor ke investor yang lainnya. Jadi dari sini dikenal dengan istilah jual beli. Dengan demikian, istilah yang biasanya digunakan dalam berinvestasi saham maupun obligasi yang sebenarnya memang tidak cocok atau tidak sesuai apabila dicoba terapkan ke dalam reksadana.

Tapi, semestinya adanya perbedaan sebuah definisi ini tidak akan terlalu menimbulkan masalah atau perselisihan bagi seorang investor dalam melakukan trading. Sebab istilah yang biasa digunakan itu adalah sebuah istilah layaknya Redemption dan Subscribtion, walaupun pada beberapa jenis kasus biasanya masih bisa ditemui ada yang masih menggunakan istilah jual beli, namun hal itu juga tidak terlalu bermasalah maupun berpengaruh dikarenakan memang adanya biaya tersebut memang dikenakan berdasarkan suatu aktivitas transaksi yang umumnya dilakukan para investor. Akan tetapi justru yang sedikit berpotensi untuk menimbulkan kebingungan yaitu terletak pada cara perhitungan biayanya.

Sebenarnya biaya Redemption dan biaya subscribton itu maksudnya adalah suatu biaya yang wajib untuk dibayarkan pada saat seorang investor melakukan pembelian ataupun penjualan sebuah unit penyertaan reksadana. Selain itu terdapat satu istilah lagi yakni biaya switching atau dikenal biaya pengalihan akan tetapi mungkin tidak kami bahas pada artikel ini. Jadi biaya redemption dan biaya subscrbtion umumnya dinyatakan ke dalam presentasi tertentu atas nilai suatu investasi. Biasanya presentasi tersebut antar 0% atau gratis sampai 5%. Namun menurut saya yang wajar itu ada pada kisaran 0,5% sampai 1%. Jadi walaupun satuannya sama, akan tetapi dalam perhitungan biaya redemption tidaklah sama dengan perhitungan biaya subscribtion.