Rawit dan Reksadana

By on April 5, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,778 kali
investasi reksadana

Rawit dan Reksadana

Apa yang harus saya lakukan? Apakah harus saya jual sekarang, atau tunggu nanti? Kalau saya jual sekarang, saya memang sudah untung.

Tapi, kalau saya akan beli lagi, keuntungan itu akan terpakai lagi karena harga sekarang masih tinggi. Gimana, dong?

Nah, coba tebak, berondongan pertanyaan itu meluncur dari mulut siapa? Silahkan lingkari salah satu jawaban berikut: a.pedagang daging, b. pedagang cabai rawit merah, c. investor saham, atau d. investor reksadana.

Mungkin Anda lebih suka melingkari huruf “a”. Pembaca yang lain mungkin memilih jawaban “b”. Ya, bisa dimaklumi, soalnya sudah berpekan-pekan ini berbagai media massa diwarnai oleh status, kicauan, dan berita mengenai lonjakan harga bahan pangan. Setelah lonjakan harga daging dan bawang putih, belakangan harga cabai rawit merah menyusul meroket.

Tapi, kalau Anda memilih “a” atau “b”, sejujurnya jawaban Anda salah. Seseorang yang benar-benar melepas rentetan pertanyaan di atas adalah investor reksadana. Saat ini dia sedang menghadapi dilema. Apakah harus menjual unit-unit reksadana saham yang dia beli sejak awal tahun lalu alias merealisasikan keuntungan yang sudah dia peroleh saat ini? Atau, haruskah dia tahan iman melihat potensi profit yang selalu terbayang setiap hari, setiap kali membaca nilai aktiva bersih unit reksadana di koran ini, tanpa me-redeem-nya sama sekali.

Para pedagang mungkin akan memprotes kunci jawaban ini. Sebab, mereka tahu persoalan yang sama bisa menimpa pedagang daging, bawang, atau cabai, setiap kali harga bergerak naik secara drastis. Ya, benar, memang demikian.

Cuma, para pedagang komoditi pangan tidak memiliki kemewahan untuk menahan barang berlama-lama. Mau tak mau mereka harus menjual barang dagangannya saat harga tinggi, sebelum busuk. Beda dengan investor reksadana. Mereka memiliki opsi menahan asetnya sampai selama-lamanya demi mengejar tingkat keuntungan yang lebih tinggi di masa depan.

Tentu sah-sah saja kalau seorang investor saham atau reksadana mau bertindak ala pedagang cabai alias menjadi trader. Uang-uang sendiri, siapa yang bisa melarang? Namun, kalau Anda menghadapi “happy problem” seperti ini, silahkan menengok kembali tujuan dan rencana awal berinvestasi. Ingat-ingat lagi, apakah Anda berencana memetik keuntungan dalam jangka pendek, menengah, atau panjang?

Semoga tak bingung lagi. (Sumber: Tajuk, Hasbi Maulana, Kontan)