Prediksi 6 Alasan yang Akan Membuat Emas Terpuruk

By on June 5, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,458 kali
emas-130604c

Prediksi 6 Alasan yang Akan Membuat Emas Terpuruk

Dari US$ 800 per ounce di awal 2009, harga emas naik hingga US$ 1.900 per ounce pada 2011. Sejak itu, harganya terus melambung. Tapi sekarang, harganya kian turun.

Pada April 2013, harga jual emas turun ke US$ 1.300 per ounce dan harganya terus berada di bawah US$ 1.400 per ounce, atau 30% lebih rendah dari harga 2011. Logam mulia masih berpeluang melemah dan menyentuh level US$ 1.000 per ounce di 2015.

Seperti dikutip dari the Guardian, Rabu (5/6/2013), penurunan harga emas telah memancing sejumlah reaksi. Ada investor yang ketakutan, pihak lain yang secara politik merasa cemas, dan ada juga pembeli yang memborong emas karena yakin harga emas masih bisa naik hingga US$ 2.000, US$ 3.000, bahkan US$ 5.000 dalam hitungan tahun.

Berikut 6 alasan kenapa harga emas diprediksi bakal terus turun:

Pertama, harga emas cenderung turun saat ada risiko geopolitik, keuangan, dan ekonomi serius. Selama krisis keuangan global, bahkan para investor juga meragukan keamanan deposito bank dan obligasi pemerintah. Jika Anda khawatir dengan krisis keuangan, siapkan semuanya mulai dari pangan hingga emas dari sekarang.

Dengan kondisi krisis keuangan tersebut, emas bahkan bisa menjadi investasi yang berisiko. Saat krisis keuangan global tahun 2008 dan 2009, harga emas merosot tajam dalam waktu singkat. Dengan sistem kredit, jumlah pembelian yang meninggi menyebabkan harga emas naik. Harga emas mudah naik dan turun.

Kedua, harga emas meningkat saat ada risiko inflasi tinggi, karena nilai jualnya juga meningkat. Meskipun kebijakan moneter yang sangat agresif ditentukan oleh bank-bank sentral, keberhasilan program `quantitative easing` menggandakan bahkan menaikan pasokan uang hingga tiga kali lipat di kebanyakan negara-negara maju. Inflasi global sebenarnya sedang menurun dan jatuh lagi.

Dengan inflasi pendapatan yang kecil, inflasi barang-barang mau tidak mau terus meningkat. Inflasi sekarang menurun secara global karena harga komoditas juga turun seiring melemahnya pertumbuhan global. Harga emas juga ikut turun sesuai dengan inflasi yang terjadi.

Ketiga, tak seperti aset lain, emas tak menghasilkan pendapatan apapun. Ekuitas punya dividen, obligasi punya kupon, dan rumah menyediakan fasilitas sewa, semenatara emas hanya bergantung pada modal. Sekarang, dengan kondisi pemulihan ekonomi global, ekuitas atau bisnis real estate menawarkan keuntungan tinggi. Memang, ekuitas Amerika Serikat dan global meningkatkan harga emas sejak harga emas naik di awal 2009.

Keempat, harga emas meningkat tajam saat harga suku bunga meningkat negatif setelah keberhasilan sesi `qualitative easing`. Waktu pembelian emas yang tepat adalah saat menerima keuntungan tunai dan harga obligasi menurun. Tapi prediksi yang lebih positif soal ekonomi Amerika Serikat dan global datang dari The Fed dan bank sentral lain yang akan menghentikan program quantitative easing. Selain itu, angka kebijakan di titik nol yang berarti nilai rill akan meningkat daripada jatuh.

Kelima, beberapa pihak berpendapat bahwa para penguasa yang berhutang mendorong para investor memilih emas karena obligasi pemerintah semakin berisiko. Tapi yang saat ini terjadi adalah kebalikannya. Kebanyakan pemerintah yang berhutang memiliki pasokan emas dalam jumlah besar dimana semuanya bisa memutuskan untuk menjualnya dan mengurangi jumlah hutangnya.

Dalam sebuah laporan, tercatat Siprus bisa jadi menjual sebagian kecil pasokan emasnya sekitar €400m dan memicu harga emas jatuh hingga 13% pada April. Negara-negara seperti Italia dengan jumlah cadangan emas dalam jumlah sangat besar (dengan harga di atas US$ 130 miliar) bisa saja tergoda menjualnya dan membuat harga emas semakin turun.

Keenam, beberapa konservatif politik ekstrim khususnya di Amerika Serikat, membuat emas berakhir kontraproduktif. Para fanatik juga percaya harga emas akan naik lagi karena inflasi berlebihan terjadi lagi dari `debasement` mata uang kertas bank-bank sentral. Tapi meningat tidak adanya konspirasi, pemulihan inflasi dan ketidakmampuan mengubah emas sebagai mata uang, pendapat seperti itu tak akan bertahan lama.

Emas bisa jadi sumber kekayaan, tapi tak bisa menjadi alat pembayaran. Anda tak bisa membeli barang apapun dengan emas. Harga barang dan jasa atau aset keuangan lainnya tak ditentukan oleh harga emas.

Sementara beberapa tahun ke depan harga emas bisa naik sementara. Tapi harga emas sangat riskan dan akan terus turus karena ekonomi global mempengaruhinya. Waktu emas melambung sudah berakhir. (Siska Amelie F Deil, Kompas, Guardian.co.uk)