Pergerakan dari Properti Sekunder

By on July 5, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,802 kali
investasi properti

Pergerakan dari Properti Sekunder

Dalam dua tahun belakangan ini pertumbuhan dari harga jual di dalam pasar primer sebuah perumahan yang menegah keatas juga turut di barengi dengan semakin pesatnya jumlah perumahan di dalam pasar primer. Menurut perkiraan sendiri terjadinya pertumbuhan dari harga jual akan mencapai 50% hingga 60% setiap tahunnya terlebih lagi untuk beberapa lokasi yang strategis. Sedangkan untuk lokasi seperti di Cibubur pertumbuhan dari harga rumah mencapai 25% hingga 35%. Kondisi seperti ini diperkirakan karena adanya strategi dari seorang pengembang yang dilakukan supaya bisa mendongkrak harga dari tanah di saat semakin melonjaknya permintaan properti sekarang ini. Dalam 2 tahun terakhir saja cluster baru dari perumahan menengah atas semakin bermunculan, namun pada tahun kemarin itu sedikit mengalami kelambatan harga walaupun masih bertumbuh.

Dari data yang ada pada IPW (Indonesia Properti Watch), diperkirakan harga jual mengalami pertumbuhan yang tidak lebih tinggi dari dua tahun belakangan ini atau hanya bekisar 20% hingga 25% saja. Untuk penjualan pasar atas perumahan primer juga tengah mengalami penurunan. Bersamaan dengan hal itu, ada data yang didapat dari BI (Bank Indonesia) memperlihatkan adanya penurunan yang terjadi pada triwulan kedua pada tahun kemarin sebesar -4,55 / -18,25 (qtq). Dengan terjadinya penurunan tersebut disebabkan karena dalam pasar primer sedang memasuki sebuah tahapan pasar jenuh yang mana dapat di indikasikan dengan adanya harga yang telah over value. Ada beberapa perumahan yang telah terjadi over value dan dalam dua tahun terakhir harganya mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Untuk lokasi yang mengalami over value bisa dilihat dari lebarnya spread harga yang ditawarkan antara pasar skunder dan pasar primer. Perbedaan untuk saat ini harga properti yang bertipe sama di pasar sekunder dan primer mencapai lebih dari 20%. Di beberapa tempat yang mengalami over value tengah memasuki tahapan equilibrium dari pasar baru oleh karena itu seorang pengembang belum dapat menaikkan atas harga penjualan kembali yang terlalu tinggi. Pada kondisi yang demikian, pasar primer menunjukkan grafik yang melambat. Akan tetapi tidak dapat menggambarkan terjadinya penurunan yang secara umum, sebab siklus dari properti itu diperkirakan akan terus mencapai puncaknya pada akhir tahun 2013 ini. Dan yang terjadi dari kondisi tersebut ialah harganya akan menjadi terlalu tinggi serta penjualannya akan melambat dan seorang pengembang juga akan merasakan kejenuhan pasar dalam segmen tersebut. Pasar akan mendapati titik keseimbangan yang baru sebab kenaikan dari harga yang terjadi sekarang ini adalah salah satu kenaikan dari harga semu yang tidak dapat mencerminkan kondisi pasar dengan nyata dari suatu pasar primer. Di dalam pasar sendiri permintaan dari konsumen sedikit mengalami peralihan untuk membeli serta melakukan transaksi pada pasar skunder, hal ini dikarenakan lebih rendah apabila dibanding dengan suatu properti yang sama dalam pasar primer. Pergerakan yang dicatat oleh Indonesia Properti Watch terhadap penjualan dalam pasar sekunder mencapai presentase 15% serta dalam BI (Bank Indonesia) juga mencatatkan terjadinya kenaikan mencapai 3,23% dalam tahun sebelumnya.

Pada dasarnya di dalam pasar sekunder sendiri juga dapat mencerminkan suatu mekanisme pada kondisi pasar yang sebenarnya, dan juga akan diperkirakan pergerakan dari pasar sekunder juga akan terus mengalami peningkatan di tahun 2013 ini di sela kondisi pasar primer yang sedang mengalami perlambatan.