Pembiayaan Emas Perbankan, Semakin Marak

By on July 4, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 1,739 kali
Emas

Pembiayaan Emas Perbankan, Semakin Marak

Adanya jenis penipuan emas nampaknya tidak berdampak terhadap bisnis emas yang dilakukan bank syariah. Terlebih lagi kasus yang ada belakangan ini justru menguntungkan bagi pemilik bank dengan layanan tersebut. Misalnya saja BNI Syariah, Manajemen Bank ini mengaku dengan adanya kasus seperti investasi emas bodong tidaklah mempunyai dampak apa-apa. Bahkan malah ada banyak nasabah yang menginginkan tempat investasi yang aman dengan memilih bank syariah. Terungkapnya kasus-kasus penipuan seperti itu dijadikan pelajaran masyarakat, sehingga mereka lebih peka terhadap adanya penawaran investasi emas dengan return yang tetap tiap bulannya yang pada akhirnya itu merupakan salah satu modus penipuan berkedok investasi emas.

Dengan melihat kondisi seperti itu, manajemen sangatlah optimis mengenai target dari BNI syariah tahun ini dapat tercapai yang mana menargetkan penjualan emas sekitar Rp. 300 milyar. Manajemen juga mengklaim bahwasanya bisnis yang dilakukan ini memiliki risiko yang kecil, karena Investasi emas itu sifatnya dalam jangka panjang bahkan paling pendeknya pun hanya sekitar 2 tahun saja. Dengan adanya tenor yang pendek maka akan semakin menyulitkan langkah-langkah spekulan yang biasa “keluar masuk” untuk mendapatkan keuntungan yang instan. Sehingga yang dilakukan ini adalah murni sebuah investasi dan bukan merupakan spekulasi belaka. Untuk informasi, seorang manajemen melakukan pembatasan biaya emas dengan jumlah maksimal sekitar Ro. 150 juta, hal ini menyesuaikan dari adanya peraturan dari Bank Indonesia. Saat ini emas yang paling laku adalah untuk jenis emas 10, 50 serta 100 gram. Bank lain yang juga optimis dalam berbisnis emas adalah Bank Mega Syariah, Bank yang telah terafiliasi “CT Corp” tersebut memiliki target pembiayaan untuk gadai emas sebesar Rp. 750 milyar untuk tahun ini. Direktur Utama bank tersebut, Benny Witjaksono mengaku sempat resah atas maraknya kasus-kasus seperti wanprestasi emas. Akan tetapi, manajemen bank langsung melakukan antisipasi dengan melakukan peningkatan kembali untuk mendapatkan kepercayaan nasabah. Salah satu yang dapat kita jadikan indikator yaitu dengan hampir tidak adanya seorang nasabah yang withdraw secara besar-besaran. Ini tentu sangat berbeda dengan keadaan sebelumnya.

Untuk BSM (Bank syariah Mandiri) sendiri yang sempat namanya dicatat GTIS juga menargetkan pendapatan dari gadai emas pada tahun 2013 ini sekitar Rp. 6 triliun atau naik 57,8 %. Untuk merealisasikan pendapatan tersebut, bank syariah mandiri melakukan suatu kerjasama dengan perseroan yaitu PT. Pos Indonesia. Dengan hal ini diharapkan akan berpotensi untuk mempercepat adanya pertumbuhan dari bisnis gada emas yang dilakukan BSM. Bentuk kerjasama tersebut juga digunakan untuk melakukan perbaikan bisnis dari gada emas yang sempat dikabarkan anjlok karena adanya aturan baru dari Bank Indonesia. Apabila pada tahun 2011 bisnis dari gadai emas ini memperoleh jumlah omzet sekitar Rp. 12,5 triliun, dan saat 2012 hanya bisa memperoleh Rp. 3,8 triliun saja. Untuk outstanding yang ada di tahun 2012 sekitar Rp.14 milyar. Meskipun ada penurunan akan tetapi hal tersebut menjadikan pertumbuhan yang lebih baik sebab tidak ada lagi spekulasi. Untuk tahun 2013 ini sendiri Bank Syariah Mandiri akan membuka suatu konter bisnis untuk gadai emas pada 50 outlet di kantor pos. Lalu untuk target kedepannya diaharapkan mampu mencapai 100 outlet pada tahun 2015. Potensi bisnis gadai emas pada tahun 2015 diperkirakan mencapai Rp. 300 triliun, dan untuk saat ini masih terserap sekitar Rp. 100 triliun.