Pada Pekan Ini Harga Emas Diprediksi Mulai Bergerak Naik

By on June 3, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 1,138 kali

Pada Pekan Ini Harga Emas Diprediksi Mulai Bergerak Naik

Emas diprediksi berbalik naik pada pekan ini dan berpotensi menembus level US$ 1.422 per ounce.

Pada minggu lalu, harga emas sempat menyentuh level tertinggi dalam dua minggu di kisaran US$ 1.421 per ounce, didukung oleh melemahnya data ekonomi Amerikat serikat seperti klaim pengangguran AS, penundaan penjualan rumah dan data produk domestik bruto (PDB) negeri Paman Sam tersebut.

“Harga emas juga didukung oleh rebound teknikal di atas support US$ 1.320- US$ 1.338 per ounce,” jelas analis dari Megagrowth Futures Wahyu Tri Laksono, Senin (3/6/2013).

Meski ditutup sedikit menguat pada pekan lalu, lanjut Wahyu, namun emas kembali gagal bertahan di atas level US$ 1.400 per ounce dan justru menjauhinya dengan ditutup melemah di US$ 1.387 per ounce, dekat level pembukaan minggu lalu di US$ 1.385 per ounce.

“Indikasi bullish jangka pendek adalah kemampuan emas menembus level US$ 1.422 per ounce,” jelas Wahyu.

Menurut dia, jika emas kembali menembus level US$ 1.450 per ounce, sepertinya rebound bisa berlanjut mendekati level US$ 1.490- US$ 1.500 per ounce.

Namun, imbuh dia, tren bearish medium term masih bertahan selama emas gagal menembus level US$ 1.490- US$ 1.500 per ounce.

Tembusan ke bawah US$ 1.338 per ounce akan memicu dorongan bearish emas ke area US$ 1.320-US$ 1.340 per ounce.

“Tekanan bearish semakin kuat jika berhasil jatuh di bawah US$ 1.300 per ounce untuk menguji level US$ 1.150- US$ 1.200 per ounce,” jelas dia.

Wahyu menyebutkan sejumlah agenda dan data penting bakal menjadi penentu pergerakan harga emas, yaitu data manufaktur AS, data neraca perdagangan AS, klaim pengangguran dan tingkat pengangguran AS.

Faktor lainnya yang juga akan mempengaruhi langkah emas yaitu rapat yang digelar sejumlah bank sentral seperti rapat Bank Sentral Australia, Bank Sentral Inggris, Bank Sentral Eropa.

“Pertemuan Bank Sentral Australia, Inggris, dan Eropa serta data Nonfarm payroll AS sepertnya akan menjadi faktor penggerak emas yang signifikan,” ungkap Wahyu. (Nurseffi Dwi Wahyuni, Liputan6 News)