Naiknya BBM Turut Berdampak Pada Industri Properti

By on July 8, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,476 kali
Rumah

Naiknya BBM Turut Berdampak Pada Industri Properti

Kenaikan dari harga BBM akhir-akhir ini juga turut merisaukan para pelaku bisnis, khususnya bagi para pengembang usaha properti. Rasa kekhawatiran tersebut bisa dimengerti mengingat saat ini harga dari BBM juga mengalami kenaikan hampir 30% serta hal ini juga berpengaruh terhadap harga maupun penjualan dari sebuah produk properti. Nah, seberapa besar dampak dari pengaruh naiknya harga BBM dalam perindustrian properti? Dengan menaiknya harga dari BBM sebesar 28,7% tersebut dipercaya akan berakibat secara langsung terhadap semakin meningkatnya biaya untuk konstruksi. Secara otomatis dari kenaikan yang ada saat ini lambat laun juga dapat mendorong meningkatnya biaya untuk pembangunan di semua jenis proyek properti. Seperti Perumahan, Ruko, Apartemen, pusat perbelanjaan hingga perkantoran sekalipun. Semenjak pertengahan tahun lalu pun sudah ada penilaian mengenai pertumbuhan dari ekonomi di Indonesia bakal mengalami masa tersulit karena semakin meningkatnya harga dari minyak maupun komoditas yang lain dalam pasar Internasional yang dapat ditengarai bisa memicu terjadinya penurunan pertumbuhan ekonomi secara global. Dalam kondisi tersebut pasti akan berpengaruh juga untuk perkembangan dari sektor bisnis di dalam negeri, terlebih di sektor bisnis properti.

Ironisnya, sebelum pemerintah memberi keputusan untuk menaikkan harga dari BBM jauh-jauh hari, terdapat beberapa bahan baku untuk konstruksi layaknya Besi, Baja maupun bahan-bahan yang lain sudah lebih dulu mengalami kenaikan. Bahkan pada sebuah acara dalam media briefing, Chairman Jones , Lucy Rumantir melontarkan rasa kekhawatirannya dengan naiknya harga dari BBM terhadap sektor properti. Dampak lebih dari kenaikan harga Bahan bakar ini belum sepenuhnya dirasakan bagi kebanyakan, hanya saja kondisi tersebut telah mengkhawatirkan beberapa pihak, termasuk para pengembang dari industri properti itu sendiri. Direktur dari PT. Ciputra Properti, Artadinata Djangkar merupakan seorang pengembang properti yang turut prihatin terhadap semakin melambungnya harga dari Bahan Bakar Minyak. Kenaikan tersebut memang tidak tahun-tahun sebelumnya akan tetapi disini ada ancaman terhadap angka inflasi yang semakin tinggi serta adanya potensi dari BI untuk menaikkan suku bunga, dengan demikian tentu hal ini membuat banyak orang was-was baik itu nasabah maupun calon konsumen dari produk properti dengan cara kredit KPR ataupun KPA. Jadi ini tidak menutup sebuah kemungkinan bahwa pasar properti dalam kurun waktu 2 tahun belakangan ini mengalami pertumbuhan yang bagus, namun dalam kurun waktu 2 tahun kedepan bisa dibayang-bayangi dengan menurunnya tingkat demand ataupun kemampuan beli masyarakat.

Disetiap kejadian tentu akan ada hikmah yang dapat kita peroleh. Hal ini juga biasa dirasakan khususnya bagi para pengembang bisnis properti yang mana tahun lalu telah merampungkan atau setidaknya sudah menyelesaikan 80% total konstruksi dari propertinya. Diharapkan semua pengembang bisnis ini untuk satu tahun kedepan tidak akan lagi melakukan penjualan terhadap produknya dengan harga yang baru. Paling tidak kondisi ini dapat dirasakan oleh pihak pengembang Gapuraprima Group. Ungkap salah satu direktur marketing tersebut, Hartan Gunadi. Kelihatannya mereka dapat melihat tentang seberapa besar kemampuan beli dari masyarakat terhadap jenis produk properti setelah kenaikan dari harga Bahan Bakar Minyak tersebut. Apapun itu yang dirasakan Gapuraprima Group memang sangatlah benar. Sebab menurut Lucy Rumantir sendiri pada tahun ini juga pihaknya masih dapat melihat adanya prospek kedepan dalam bidang bisnis properti meskipun terdapat ancaman akan kenaikan harga atau inflasi.