Merencanakan Keuangan Ketika Pensiun: Investasi Atau Tidak?

By on October 22, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 313 kali
Reksadana Pensiun

Perencanaan Keuangan – Anda tentu paham bahwa tidak selamanya seseorang terus berada pada usia muda dan produktif. Suatu hari nanti semua orang akan beranjak tua dan sudah tidak bisa bekerja secara efektif lagi. Saat itulah Anda akan merasakan masa pensiun di mana Anda sudah tidak bisa bekerja maksimal seperti ketika masih muda dulu. Banyak perusahaan yang memberikan pesangon atau dana pensiun kepada pegawainya namun tentu dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan gaji bulanan.

Uang pesangon ini ada yang dianggap sudah cukup untuk hidup sehari-hari namun ada juga yang ingin mendapatkan kehidupan pensiun yang lebih baik. Salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan meski sudah tidak produktif adalah dengan investasi. Meski begitu, investasi adalah bisnis yang fluktuatif dan penuh resiko, maka dari itu sebelum Anda memulai untuk berinvestasi, berikut adalah beberapa persiapannya.

Menghitung kebutuhan pensiun

Untuk tahu berapa penghasilan atau dana yang Anda butuhkan untuk melewati masa pensiun Anda harus tahu berapa jumlah dana yang harus Anda miliki di tabungan. Hitunglah biaya hidup yang Anda butuhkan per bulan lalu perkirakan dana yang harus Anda miliki selama 10-15 tahun ke depan. Jika biaya hidup Anda ketika masa pensiun sudah dicukupi dengan pesangon yang diterima jadi sebetulnya tidak perlu melakukan investasi. Buatlah hitungan kebutuhan hidup dengan mempertimbangkan pola gaya hidup dan biaya dadakan seperti biaya untuk kesehatan dan yang lainnya.

Merekap jumlah aset yang dimiliki

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi, terlebih dahulu sebaiknya Anda hitung jumlah aset yang Anda miliki. Pisahkan antara aset yang produktif dengan aset investasi. Aset produktif adalah aset yang masih memberikan Anda pemasukan secara rutin seperti pesangon pensiun dari perusahaan, kontrakan atau kos-kosan, deposito, obligasi, dan sebagainya. Sedangkan aset investasi adalah aset berupa tanah, rumah, atau reksadana.

Memutuskan apakah mau berinvestasi atau tidak

Berdasarkan kebutuhan hidup setelah masa pensiun, jumlah dana yang harus dimiliki dan jumlah nilai aset yang telah direkap Anda bisa menentukan apakah masih perlu berinvestasi atau tidak. Berikut adalah kondisi ideal di mana Anda tidak perlu lagi melakukan investasi:

1.     Jika pendapatan atau pemasukan dari aset produktif sudah mencukupi atau bahkan melebihi biaya hidup per bulan setelah masa pensiun
2.     Jika nilai aset investasi lebih besar dari jumlah dana pensiun yang Anda butuhkan. Misalnya nilai rumah kedua atau tanah atau aset lainnya bernilai lebih dari 2 miliar padahal Anda hanya membutuhkan 900 juta rupiah untuk melewati masa pensiun maka Anda bisa menjual aset tersebut dan mengubahnya menjadi deposito atau tabungan.

Dengan kondisi ideal demikian maka Anda tidak perlu lagi direpotkan dengan investasi. Tetapi bagi Anda yang ingin berinvestasi pun sebaiknya sudah dalam kondisi yang ideal. Hal ini dikarenakan investasi merupakan bisnis yang penuh dengan resiko sehingga dikhawatirkan kondisi keuangan Anda yang belum ideal akan semakin terbebani dengan investasi yang tidak ada kepastian keuntungannya.

Jika pada masa pensiun nanti Anda memilih untuk beirnvestasi, pilihlah investasi yang memiliki otoritas dari OJK yang ditunjukkan dengan surat ijin asli agar Anda tidak terjebak dengan investasi bodong. Meski pilihan investasi adalah pilihan Anda sendiri namun ada baiknya memilih investasi yang tujuannya adalah keamanan finansial bagi orang lain seperti untuk meninggalkan warisan kepada anak dan lain sebagainya.