Mengidentifikasi Perangkap Investasi Emas

By on April 11, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,873 kali

Mengidentifikasi Perangkap Investasi Emas

Selama ini orang menganggap emas adalah investasi yang paling moncer.  Alasan utamanya: emas minim resiko mengingat harganya selalu naik signifikan melampaui bunga deposito dan inflansi, likuid (mudah dijual kala butuh uang), dan multiguna (bisa menjadi perhiasan).

Tapi belakangan ini, dunia investasi kita justru heboh oleh kasus produk investasi emas beraroma penipuan yang dilakukan Global Traders Indonesia Syariah (GTIS) dan Raihan Jewellery, dengan nilai kerugian triliunan.

Umumnya, modus para penjaja investasi emas bermasalah ini serupa. Yaitu, mereka mengiming-imingi calon nasabah dengan keuntungan besar, macet di tengah jalan dalam membayarkan bagi hasil dijanjikan, atau membawa kabur uang nasabah.

Menurut Michael Maloney dalam Guide to Investing ini Gold (Gramedia, 2013), ada banyak perangkap investasi emas yang terkluster ke dalam enam kategori besar. Pertama, ETF (exchange traded funds) emas. Ini adalah sekuritas yang ditransaksikan layaknya saham, tapi bertujuan memantau harga suatu komoditas seperti minyak dan emas.

Jadi, kita umumnya tidak memegang emas secara fisik, melainkan hanya kertas. Kedua, rekening kumpulan (pool account) dan “program sertifikat”. Ini adalah skema investasi emas dimana investor hanya membeli janji bahwa penjaja akan mengirimkan emas jika suatu hari nanti investor mencairkan kertas tersebut.

Padahal, penjaja belum tentu memakai uang investor untuk membeli emas. Seringkali uang dipakai untuk investasi lain. Jika terjadi gelombang pencairan sertifikat, penajaja giat mencari investor baru untuk menutup kewajiban kepada investor lama dan itu awal kehancuran skema investasi ini.

Ketiga, kontrak berjangka. Ini adalah kontrak untuk mengirimkan komoditas spesifik dalam kuantitas yang sudah disepakati, harga yang sudah disetujui, dan tanggal yang sudah disepakati. Meski ini investasi legal dan umum, tapi bukan investasi emas rill di mana Anda memegang aset secara fisik. Tanpa pengetahuan teknis yang cukup, bisa menjadi bumerang bagi investor.

Keempat, numismatik dan koin peringatan. Ini adalah produk investasi yang menawarkan koin langka atau koin yang dikeluarkan untuk memperingati peristiwa tertentu. Kelemahnnya: koin ini kurang likuid karena hanya bisa dijual ke sesama kolektor.

Kelima, piramida emas dan perak. Ini investasi emas berkedok multievel marketing (MLM). Skema ini mensyaratkan ada sejumlah besar orang yang merugi (downliner yang gagal) untuk segelintir pemenang besar. Hal ini disayangkan karena merusak citra banyak MLM yang bagus.

Ciri investasi emas beresiko

Berdasarkan peringatan di atas, maka ada lima ciri utama investasi emas berisiko. Pertama, jika suatu skema investasi yang terlalu muluk. Tentu indah bisa memetik keuntungan puluhan persen dari investasi. Apalagi jika membandingkan dengan produk semisal deposito atau reksadana yang imbal hasilnya hanya 5% – 25% per tahun.

Kedua, investor tidak memegang emas secara fisik. Sifat logam mulia adalah indah dipandang dan likuid. Jika kita tidak memegang emas secara fisik, maka kedua sifat itu akan hilang sekaligus menyalahi pakem investasi emas.

Ketiga, fisik emas di luar kebiasaan. Prinsip ini simpel. Emas investasi adalah emas batangan, koin emas murni yang dikeluarkan perusahaan bonafid semisal antam.

Keempat, no pain, much gain. Padahal, tidak ada keuntungan berlipat ganda tanpa bekerja keras. Jika satu produk investasi menjanjikan imbal hasil besar tanpa memaksa investor bekerja keras, produk itu pasti abal-abal.

Kelima, investasi bermodel ‘gali lubang tutup lubang’. Menurut A Prasetyantoko dalam Ponzi Ekonomi (2010), ada tiga tipe pengutang: pengutang berhati-hati (hedge), pengutang spekulatif (speculative) dan pengutang yang tidak bisa membayar (ponzi) cicilan dan bunga dari aliran kas yang dihasilkan investasinya.

Jadi, pada suatu waktu, hasil investasi aliran uang yang dihimpun produk investasi ponzi tidak akan mampu “melawan” kewajiban yang mereka bayarkan kepada investor. Sebab, tingkat imbal hasil pasti yang mereka tawarkan memang tak akan bisa terbayarkan lewat investasi pada produk legal apa pun.

Akhirul Kalam, dalam berinvestasi, camkanlah moto “tidak ada makan siang gratis”. Yakni, kita harus berusaha keras untuk mencapai kesuksesan. Jadi, dalam menyikapi berbagai produk investasi yang rumit, bekalilah diri dengan pengetahuan teknis mendalam dan konsultasi dengan ahli supaya kita paham betul risiko investasi yang ditawarkan. (Satrio Wahono, Kontan)