Menakar Prospek IHSG dan Emas

By on May 1, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 971 kali
Emas Berjangka

Menakar Prospek IHSG dan Emas

Andaikan emas adalah seseorang, maka para investor emas baru saja kena April Mop. Kalau Anda belum familiar, April Mop adalah momen yang biasa “diperingati” setiap 1 April. Pada tanggal tersebut, orang bebas menjahili orang lain, dalam bentuk lelucon atau menakut-nakuti.

Nah, meski tak tepat terjadi di tanggal 1 April, investor emas juga sempat dibuat terkagetkaget, lo. Pasalnya, seperti tak ada hujan, tak ada badai, mendadak harga emas ambles di bawah level psikologis US$ 1.400 per ons troi.

Merujuk data Bloomberg, harga kontrak emas di bursa New York untuk pengiriman Juni 2013 turun di level US$ 1.361,1 per ons troi pada Senin (15/4). Padahal tahun lalu harga emas sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di US$ 1.802,6 per ons troi (4 Oktober 2012).

Nasib harga emas di pasar spot juga serupa. Pada tanggal yang sama dengan kejatuhan kontrak emas Juni, harga emas di pasar spot tiarap menjadi US$ 1.348, 21 per ons troi. Tersungkur cukup dalam dari harga tertinggi US$ 1.790,15 per ons troi.

Kejutan bukan cuma datang dari emas. Kabar yang berembus dari pasar modal juga mampu membikin orang terpana. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pernah mencetak dua kali indeks penutupan di atas 5.000. IHSG tercacat tutup pada harga 5.012,64 (18/4) dan 5.011,61 (24/4).

IHSG yang tembus 5.000 pada kuartal II ini di luar prediksi para analis. Beberapa analis memprediksikan level tersebut baru akan tertembus pada kuartal III mendatang.

Kejutan yang terjadi pada emas dan IHSG tentu punya musabab. Siapa pencetusnya? Muncul tudingan bahwa penurunan harga emas terpicu oleh ulah para spekulan dan dampak beberapa isu negatif, antara lain isu Bank Sentral Siprus akan menjual cadangan emasnya.

Larry Swedroe, Principal and Director of Research BAM Alliance, kepada cbsnews.com menuturkan, dia tidak kaget harga emas turun. Tapi, dia kaget karena penurunan tak dibarengi dengan kebijakan pengetatan moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve. Padahal, secara historis, gerak harga emas senantiasa terkait dengan kebijakan bank sentral AS yang memi l iki sebutan beken The Fed tersebut dalam mengendalikan dollar AS.

Larry mencontohkan, ketika Fed Chairman Paul Volcker memutuskan untuk menaikkan tingkat bunga riil pada 1980, harga emas langsung ambles menjadi US$ 486 per ons troi pada 3 April 1980. Padahal, pada 21 Januari tahun tersebut, harga emas bertengger di US$ 850 per ons troi.

Analis Philip Futures Juni Sutikno bilang, kemerosotan harga emas kemarin tak wajar karena hanya jeritan lantang dari pihak-pihak tertentu demi mengatrol emas hingga ke level US$ 1.600 per ons troi. “Emas menyusut sepihak dan tidak diikuti pelemahan dollar AS,” kata dia.

Analisis Larry dan Juni masuk akal karena emas dan dollar AS adalah safe haven yang memiliki peran bergantian. Pada kenyataannya jika dibandingkan dengan indeks dollar AS pada tanggal pelemahan emas, potret indeks dollar cenderung biasa saja. Indeks dollar sudah konsisten nangkring di level 82 sejak 1 Maret 2013.

Analis Multilateral & Corporate Trainer Commodity Desk PT Millennium Penata Futures Suluh A. Wicaksono juga melihat kejanggalan. Menurut dia,secara historis biasanya harga emas 100 gram di pasar fi sik di dalam negeri lebih mahal Rp 55.000 sampai Rp 55.000 dibanding harga di pasar spot.

Namun, saat harga emas dunia sedang jatuh kemarin selisih harga lebih dari Rp 75.000 per gram. “Kejatuhan harga emas fi sik yang tak terlalu jauh dibanding harga di pasar spot menunjukkan bahwa ada ulah spekulan. Di samping, kondisi ekonomi di Amerika Serikat juga biasa-biasa saja,” kata Suluh.

Perihal penguatan IHSG, Vice President Syailendra Capital Mulia Santoso bilang, laporan keuangan 2012 dan laporan keuangan kuartal I yang bakal mulai ramai dikeluarkan emiten menjadi katalis positif. Plus, dukungan kondisi ekonomi Indonesia yang disebut berperforma oke.

Peluang dan tantangan

Nah, kini, bagaimana prospek investasi emas dan saham ketika performa keduanya saling bertolak belakang itu? Bagaimana pula dengan prospek investasi dalam rupa surat utang? Yuk kita tinjau bersama.

IHSG

Mengacu pada target IHSG para analis hingga akhir tahun, pencapaian indeks saat ini sudah terlalu tinggi. Mulia mematok target 5.200. Sementara, Kepala Riset Bahana Sekuritas Harry Su punya prediksi 5.150. Hampir mirip, Head of Operation and Business Development Panin Asset Management Rudiyanto memproyeksikan, hingga pungkas 2013, IHSG menyentuh 5.100-5.200. Jika menggunakan target tertingi analis, yakni 5.200, berarti potensi kenaikan indeks tinggal 4,11% dari posisi penutupan Kamis (25/4), di 4.994,52.

Harry tak berani mematok target lebih tinggi lagi karena, menurut dia, kinerja para emiten di kuartal I 2013 hanya akan sedikit lebih baik daripada periode yang sama tahun lalu. Keuntungan para emiten sudah berada di posisi yang tinggi dibanding tahun lalu. “Kami melihat, secara rata-rata operating profi t dan bottom line emiten di kuartal I-2013 naik 11% atau hanya sedikit lebih bagus ketimbang kuartal I-2011 yang rata-rata 10%,” ungkap Harry.

Mulia juga melihat katalis positif untuk IHSG mulai menipis. Namun, setidaknya prospek dari masuknya dana asing ke IHSG kemungkinan bisa menjadi penahan kejatuhan. Kata dia, kalaupun indeks terkoreksi, maka hanya sementara saja.

Beberapa sektor yang masih dianggap menarik oleh para analis, antara lain infrastruktur, perbankan, dan barang konsumsi.

Emas

Kejatuhan emas hingga di level harga penutupan US$ 1.300-an per ons troi hanya berlangsung empat hari. Sejak Kamis (19/4), harga sudah berbalik arah hingga ada di atas US$ 1.400 per ons troi.

Analis Philip Futures Juni Sutikno menilai, secara fundamental, emas masih baik. Tak perlu menunggu akhir tahun,dia memproyeksikan harga emas di pasar berjangka pada kuartal II akan kembali ke US$ 1.500 per ons troi. Sampai akhir 2013, emas kemungkinan menyentuh titik US$ 1.600 per ons troi.

Suluh juga melihat peluang penguatan emas. Katalis positif datang dari global. Salah satunya The Fed yang belum kembali mengeluarkan kebijakan stimulus moneter. Belum lagi permintaan emas dari India bakal membludak pada Juni seiring kedatangan musim pernikahan di sana. Dari dalam negeri, permintaan emas biasa meningkat pada akhir tahun.

Berbekal sejumlah katalis positif tersebut, Suluh meyakini, harga emas di pasar spot bisa tembus US$ 1.450 per ons troi di kuartal II dan US$ 1.585 di akhir tahun. Proyeksi optimistis pun berlaku di pasar emas fisik. Prediksi Suluh, harga emas fisik bisa sampai Rp 505.000 – Rp 510.000 per gram pada kuartal II dan Rp 550.000 per gram pada akhir tahun. Proyeksi Suluh ini untuk emas fisik berberat 100 gram.

Harga emas di pasar spot, Kamis (25/4) pukul 20.00 WIB, US$ 1.448,05 per ons troi. Dan, harga emas 100 gram di Logam Mulia Rp 498.500 per gram.

Obligasi

Instrumen investasi lain yang patut mendapat perhatian adalah surat utang alias obligasi. Sentimen terbesar bagi obligasi adalah tingkat risiko investasi yang tercermin pada imbal hasil (yield). Bisa dibilang, yield obligasi dalam kurun dua tahun terakhir cenderung lempeng. Sebab, kondisi makro ekonomi Indonesia memang bisa dibilang sedang baik-baik saja.

Namun, perjalanan kalem obligasi bukan tanpa risiko. Risiko paling kelihatan tahun ini, yakni kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan tersebut mau tak mau bakal mempengaruhi tingkat inflasi nasional. Bila tingkat inflasi naik, kemungkinan Bank Indonesia pun akan mengerek suku bunga acuan. Bila terjadi demikian, investor akan melihat obligasi menjadi kurang menarik dan melirik instrumen lain.

Analis obligasi dari NC Securities I Made Adi Saputra mengakui kemungkinan tersebut. Namun, prediksi dia, kondisi itu tak akan lama. Sebab, jika alokasi anggaran BBM dialihkan ke pos biaya lain yang strategis, seperti kebijakan tentang bahan makanan pokok maka bisa mengompensasi dampak dari kenaikan harga BBM. “Pasca pemerintah ketok palu, paling akan berpengaruh hingga dua bulan setelahnya. Ini dengan catatan kalau pengalihan anggaran memang masuk ke yang strategis,” kata Made.

Made melihat prospek obligadi Tanah Air masih disokong rapor biru Indonesia. Dengan begitu, investor obligasi mesti menyadari kalau tak akan bisa menangguk yield maksimal. Made memprediksi obligasi acuan untuk lima tahun yakni FR0066 bisa memberi yield 4,75%-5,25% akhir tahun. Kalau obligasi acuan 10 tahun yakni FR0063 mungkin memberi yield 5,5%-5,75%. Lalu dua obligasi acuan lain yakni FR0064 untuk tenor 15 tahun dan FR0065 bertenor 20 tahun, masing-masing mungkin memberi yield 6%-6,25% dan 6,3%-6,5%.

Prediksi analis sudah dibeberkan. Namun segala sesuatu masih mungkin terjadi. Termasuk sekuel kejutan April Mop. Sebagai investor bijak, Anda tentu harus selalu waspada agar tak jadi korban kejahilan!

(Anastasia Lilin Y, Harris Hadinata, Tedy Gumilar, Aceng Nursalim, Kontan)